Menangkap Momen Bonus Demografi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

1282

Presiden Joko Widodo dalam beberapa kali kesempatan dalam kunjungan kerjanya menekankan pentingnya memanfaatkan bonus demografi. Mengapa Presiden Jokowi sering mengingatkan akan hal ini?

Beberapa waktu lalu, saat meresmikan SMA Negeri Taruna Nala di Malang, Jawa Timur, Sabtu (3/6), lagi-lagi Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia pada 2030 akan mendapatkan bonus demografi dengan lonjakan penduduk berusia produktif hingga di atas 60 persen. Menurut Presiden Jokowi, bonus demografi merupakan satu keuntungan yang tidak didapat negara lain.

Sebelumnya juga dalam pembukaan rapat kerja nasional (Rakernas) HIPMI di Ballroom Hotel The Ritz Carlton, Jakarta Selatan, Senin (27/3), Presiden Jokowi menyatakan  pada tahun 2030 hingga 2035 kelak, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi di mana Indonesia akan lebih banyak ditopang penduduk dengan usia produktif. Inilah yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia agar dapat bersaing dengan negara lainnya (Tiga Tahapan Pembangunan Nasional Capai Visi Indonesia Emas 2045, Vibizmedia.com)

Apa itu Bonus Demografi dan Keuntungannya?

Secara garis besar bonus demografi dapat diartikan suatu keuntungan atau dapat dikatakan anugerah yang dinikmati suatu negara karena perbandingan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk usia nonproduktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun).

Secara logisnya, jika jumlah penduduk usia produktif lebih banyak, maka dapat membantu menanggung kebutuhan penduduk usia non produktif.

Dengan banyaknya usia produktif, maka sumber daya manusia yang produktif bekerja tersebut akan menggerakkan aktifitas ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa Indonesia termasuk dalam 20 negara ekonomi terbesar di dunia, termasuk didukung oleh demografi penduduk Indonesia yang besar dengan potensi penduduk muda produktif yang besar, dan jika ini terus diarahkan dan dimanfaatkan, maka dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Keuntungan bagi Indonesia adalah kita memiliki demografi penduduk muda dan ini bisa menjadi source of growth”, demikian ditekankan Sri Mulyani dalam sambutannya memperingati 39 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Rabu (10/08/2016) (Sri Mulyani : Potensi Demografi Muda Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia)

Potensi Bonus Demografi

Badan Pusat Statistik Indonesia pada bulan Mei 2017 lalu mengeluarkan Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia untuk bulan Februari 2017. Pada indikator tersebut disampaikan bahwa jumlah penduduk umur 15 tahun ke atas yang termasuk angkatan kerja berdasarkan hasil Sakernas Februari 2017 mencapai 131,55 juta orang. Jumlah tersebut naik sebanyak 3,88 juta orang apabila dibandingkan dengan keadaan Februari 2016 (127,67 juta orang) dan naik sebanyak 6,11 juta orang jika dibandingkan dengan keadaan Agustus 2016 (125,44 juta orang).

Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia

Dari jumlah angkatan kerja tersebut, maka Employment to Population Ratio (EPR) secara nasional pada Februari 2017 adalah sebesar 65,34. Berdasarkan angka tersebut dapat diinterpretasikan bahwa pada Februari 2017 dari 100 orang penduduk umur 15 tahun ke atas, terdapat sekitar 65 orang yang bekerja. EPR ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan keadaan Februari 2016 maupun Agustus 2016 yaitu masing-masing naik sebesar 1,03 poin dan 2,72 poin.

Sumber : Badan Pusat Statistik Indonesia

Melihat angka angkatan kerja Indonesia yang terus meningkat, maka potensi bonus demografi ini dapat menjadi sumber yang harus dimanfaatkan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi

Bonus Demografi : Pedang Bermata Dua

Bonus Demografi di suatu negara sering diistilahkan sebagai pedang bermata dua, artinya satu sisi bisa memberikan kontribusi yang positif bagi negara, namun satu sisi lagi jutsru sebaliknya.

Secara logika, jika penduduk usia kerja suatu negara melimpah, namun sebagian besar penduduk tersebut tidak bekerja, maka dapat menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari munculnya berbagai tindak kejahatan karena tuntutan uang sementara pekerjaan tetap atau selayaknya tidak ada. Bisa juga terjadi berbagai tekanan ekonomi, dimana rendahnya daya beli, sementara biaya terus meningkat, yang membuat pertumbuhan ekonomi melambat bahkan bisa menjadi kontraksi.

Tapi sebaliknya jika potensi bonus demografi tersebut dapat ditangkap dan diolah dengan baik, maka dengan besarnya angkatan kerja, dapat menggerakkan ekonomi negara tersebut, meningkatkan daya beli yang akhirnya menguatkan perekonomian negara.

Belajar dari Korea Selatan

Potensi bonus demografi banyak bisa terjadi di negara berkembang di Asia dan Afrika, namun belum semua negara berhasil memanfaatkannya.

Contohnya India. Dari berbagai literatur diungkapkan bahwa pada tahun 2020, India  akan menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil, sebaliknya,  jumlah tenaga kerja tidak terampil semakin melimpah. Akibatnya, produktifitas tenaga kerja bisa menjadi rendah, membuat India terancam gagal memanfaatkan bonus demografi.

Berbagai literatur juga yang menyatakan Korea Selatan dapat menjadi contoh keberhasilan bonus demografi. Keberhasilan Korea Selatan salah satunya adalah meningkatkan kualitas SDM melalui perbaikan kualitas pendidikan. Menurut OECD, adalah salah satu negara dengan pendidikan yang terbaik di dunia. Sejak lama, Korea Selatan menganut sistem pendidikan yang membekali warganya dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam membangun ekonomi.

Korea Selatan juga memiliki perencanaan ekonomi yang komprehensif. Dalam sejarahnya saat Perang Korea baru berakhir, Korea Selatan belum memiliki industri yang kuat. Korea Selatan memanfaatkan pulihnya hubungan dengan Jepang, sehingga masuk aliran investasi ke Korea Selatan dalam sektor pertanian, perikanan, manufaktur, dan perkapalan.

Pemerintah Korea Selatan mengatasi masalah pengangguran dengan cara menggalakkan pembangunan di pedesaan, khususnya infrastruktur, jalan, dan bendungan. Juga dilakukan pembangunan industri kimia, besi, dan baja yang banyak dibutuhkan oleh aneka industri.

Menangkap Momen Bonus Demografi

Jika melihat keberhasilan Korea Selatan memanfaatkan bonus demografi, maka apa yang dilakukan Korea Selatan, ternyata direspon dengan kesungguhan dan terus dikerjakan dalam era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Fokus Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
Sejak awal pemerintahannya, Presiden Joko Widodo memandang bonus demografi harus dikelola dengan baik. Hal tersebut terlihat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yang menjadi bagian dalam pembangunan 5 tahun ke depan. Dalam RPJMN tersebut ditekankan perlunya pengembangan dari berbagai sisi bidang pembangunan untuk dapat memanfaatkan bonus demografi ini, baik dari Sosial Budaya dan Agama, Ekonomi dan Tenaga Kerja, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Politik Hukum dan Keamanan, hingga Pembangunan Wilayah, Tata Ruang dan Sarana Prasarana.

Paket Kebijakan
Merespon upaya meningkatkan tenaga kerja Indonesia, maka pemerintahan Presiden Jokowi mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memanfaatkan kesempatan bonus demografi ini

Paket Kebijakan Jilid IV yang berisi peningkatan kesejahteraan pekerja melalui pengupahan yang adil, juga program pembangunan rumah bagi buruh. Dengan dirilisnya paket kebijakan ekonomi IV ini diharapkan dapat membuat kondisi pasar tenaga kerja semakin kondusif dan memastikan terjadinya perluasan kesempatan kerja, serta terciptanya lapangan kerja seluas-luasnya.  (Fokus Paket Kebijakan Ekonomi Jilid IV)

Paket Kebijakan Jilid XII Meningkatkan Kemudahan Berusaha, dengan pemerintah Indonesia secara konsisten terus mengupayakan meningkatnya kemudahan bisnis di Indonesia untuk menarik banyak investasi dan bisnis berkembang dengan baik sehingga menciptakan lapangan kerja yang dapat menggerakkan perekonomian Indonesia. (Paket Kebijakan Ekonomi Jilid XII Meningkatkan Kemudahan Berusaha)

Peningkatan Tenaga Kerja
Sektor industri telah menyumbang 18,33 persen dari Penerimaan Domestik Bruto pada triwulan II tahun 201. Selain itu, sebanyak 76 persen ekspor Indonesia berasal dari sektor industri. Sebesar 43 persen investasi baik PMA dan PMDM juga berasal dari sektor industri. Selain itu, sebanyak 13.492.776 tenaga kerja bekerja di sektor industri.

“Dari tenaga kerja, industri besar sudah mempekerjakan 4.001.827 tenaga kerja, yang sedang 703.664 tenaga kerja, yang kecil 2.322.891 tenaga kerja, dan yang mikro 6.464.394 tenaga kerja,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto pada acara Press Briefing “2 Tahun Kerja Nyata Pemerintahan Jokowi-JK”, di Gedung Bina Graha, Jakarta, Selasa (25/10/2016).

Meningkatkan Kualitas SDM
Menyadari pentingnya sumber daya manusia Indonesia untuk ditingkatkan, maka pemerintah menegaskan peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus penting dalam pembagunan tahun 2017. Presiden Joko Widodo saat memberikan pengantar pada Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/1/2017) menyatakan pemerintah akan memperluas akses rakyat untuk mendapatkan keterampilan melalui program pendidikan kejuruan, pendidikan vokasi, dan juga vocational training/pelatihan vokasi, yang sudah dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja bekerjasama dengan Kadin. (Fokus Pemerintah Indonesia 2017 : Pemerataan Untuk Menurunkan Kesenjangan)

Kesimpulan

  • Bonus Demografi merupakan kondisi di suatu negara dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk usia nonproduktif (kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun).
  • Potensi besar bonus demografi ini dimiliki Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Februari 2017, maka jumlah usia produktif mencapai 69,02 persen dan dari usia produktif tersebut 65,34 persen sudah bekerja.
  • Dengan memiliki potensi besar bonus demografi ini, maka Indonesia berpeluang untuk memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dimana usia produktif yang bekerja akan menggerakkan aktifitas perekonomian Indonesia lebih maju.
  • Optimisme kesuksesan pengelolaan bonus demografi ini juga terlihat dengan upaya pemerintah yang memfokuskan bonus demografi dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, mengeluarkan paket kebijakan untuk memperluas lapangan kerja dan kesejahteraan pekerja, serta komiten meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia.

Dengan kesungguhan yang dilakukan pemerintah, maka kita bisa optimis bahwa bonus demografi dapat menjadi sumber peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun dukungan masyarakat dan pengusaha sangat diperlukan. Bagi masyarakat, khususnya usia produktif tentu perlu memberikan dirinya siap untuk diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan, dan tentunya saat ini mau mengikuti perkembangan teknologi yang ada sehingga tidak tertinggal. Bagi pengusaha, angkatan usia produktif ini merupakan asset berharga, sehingga dengan membuka peluang kerja yang besar dan memberikan pelatihan dan keterampilan bukanlah kerugian, tapi justru memberikan kemajuan bagi perusahaannya. Selamat menyongsong dan menjalankan era bonus demografi, majulah Indonesia!

By Asido Situmorang ,

Economic Research Head
Vibiz Research Center

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here