Rahasia Kestabilan Rupiah Selama Semester Pertama Tahun 2017

1444

Dalam 6 bulan pertama tahun 2017 posisi nilai tukar rupiah terlihat stabil dalam kekuatannya terhadap dollar AS.  Sekalipun bulan Juni belum berakhir, namun perdagangan pasar valas tanah air semester pertama sudah berakhir pada tanggal 23 Juni 2016. Dan hingga akhir perdagangan pasar  valas Indonesia  bulan Juni, rupiah telah mencetak penguatan terhadap dollar AS sebesar 1,23% yoy. Sepanjang periode tersebut stabilnya rupiah dengan bias penguatan terjadi bersamaan dengan posisi dollar yang sudah sangat jatuh terhadap banyak mata uang global utama seperti yen, poundsterling dan euro.

Masuki perdagangan valas awal tahun 2017, rupiah dibuka menguat dari posisi perdagangan akhir tahun 2016 yang berada di atas kisaran 13400. Padahal dollar AS dibuka lebih kuat oleh kekuatan fundamentalnya pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS terbaru yang diharapkan mampu mengangkat ekonomi AS.  Di akhir perdagangan pasar valas global pekan terakhir bulan Juni, posisi dollar AS anjlok ke posisi terendah dalam 7 bulan.

Penjelasan diatas dapat terlihat dari gambar dibawah untuk grafik pergerakan nilai mata uang rupiah dalam indeks USD/IDR dan pergerakan mata uang dollar AS terhadap semua rival utamanya dalam indeks dollar.   Dari grafik ini terlihat pergerakan rupiah yang cukup stabil namun pergerakan dollar terhadap kurs utama dunia lainnya sedang alami tekanan jual yang cukup parah.  Pasangan USD/IDR tampak melemah 1%-2% yoy yang berarti rupiah menguat dalam kisaran tersebut, sedangkan dollar AS dalam indeks dollar melemah 5%-6% yoy.

                        Grafik Perbandingan Pergerakan Harian Dollar AS dan Rupiah Selama 6 Bulan

Padahal jika melihat tekanan yang terjadi sepanjang 6 bulan terhadap rupiah cukup besar namun posisi mata uang berlambang tokoh-tokoh pahlawan Indonesia tersebut tetap bergerak positif, terlihat dari pergerakan setiap bulannya yang menguat sejak awal tahun sekalipun dalam volume yang terbatas.  Sebagai negara yang masuk dalam kelompok  Emerging Market Economy,  pergerakan mata uang kelompok negara tersebut termasuk Indonesia sangat rentan terhadap pergerakan mata uang utama dunia seperti dollar AS dan juga terhadap harga minyak mentah dan makanan.

Kekuatan Rupiah dalam Pasar Valas Lokal dan Internasional

Melihat nilai rupiah di pasar spot internasional diakhir perdagangan bulan Juni menguat tipis ke posisi 13320 dari perdagangan   awal bulan Januari di kisaran 13460. Dibandingkan dengan kondisi rupiah pada tahun 2016 di posisi yang sama, rupiah pada akhir bulan Juni 2017   melemah dari perdagangan akhir bulan Juni 2016 di 13210.

Kurs referensi atau JISDOR yang   disebut sebagai kurs tengah dalam transaksi pasar valuta asing Indonesia antar bank juga mengalami penguatan dalam periode tersebut jika dibandingkan dengan tahun 2016. Berdasarkan informasi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS  sepanjang tahun ini cenderung semakin menguat, dimana pada bulan pertama BI menetapkan kurs berada di kisaran 13300-13400 sedangkan pada bulan keenam menguat pada kisaran 13200-13400. Dan jika dibandingkan dengan tahun 2016, kurs Jisdor yang ditetapkan BI berada pada kisaran 13100-13900.

Sebagai informasi, kurs tengah  disusun berdasarkan kurs transaksi USD/IDR terhadap rupiah antar bank di pasar valuta asing melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing  di Bank Indonesia secara real time.

Kekuatan Rupiah Hadapi Tantangan Global  

Jika melihat tekanan yang terjadi dan terus berlangsung terhadap pergerakan rupiah sepanjang tahun 2017, kondisi keuangan global yang lebih ketat serta tren kebijakan di negara maju yang berorientasi ke dalam, termasuk dalam bentuk proteksionisme perdagangan berusaha menekan rupiah.

Kondisi keuangan global lebih ketat terlihat dari kebijakan moneter Bank Sentral Negara Amerika Serikat yang sudah menaikkan suku bunganya sebanyak 2 kali pada tahun ini. Federal Reserve menaikkan suku bunganya pertama kali dalam tahun ini   yaitu sebesar 25 basis poin menjadi 1% pada bulan Maret 2017, kemudian dinaikkan kembali berdasarkan hasil Rapat Komite Kebijakan Fed atau FOMC bulan Juni  sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%.

Kebijakan moneter Federal Reserve sebagai Bank Sentral Amerika yang diperketat seperti menaikkan suku bunga biasanya  memberikan tekanan dan beban bagi mata uang  negara-negara emerging market seperti Indonesia. Namun dalam 2 kali kenaikan suku bunga Fed tersebut nilai mata uang rupiah masih menunjukkan kekuatan, berbeda dengan kenaikan suku bunga tahun sebelumnya posisi rupiah langsung anjlok parah.

Tantangan global lainnya yang menekan rupiah sepanjang 6 bulan yaitu kebijakan negara maju yang berorientasi ke dalam seperti Amerika Serikat dan Inggris. Pemerintahan baru Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memutuskan keluar dari Kemitraan Lintas pasifik (Trans-Pacific Partnership/TPP)  yang merupakan perjanjian perdagangan bebas negara kawasan Asia Pasifik dengan Amerika, dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya.

Kuat Tanpa Intervensi  Bank Indonesia

Stabilnya rupiah selama 6 bulan terakhir tidak terdapat intervensi Bank Indonesia  seperti yang sering disampaikan Gubernur Bank Indonesia Agus Marto DW Martowardojo dalam beberapa momentum dihadapan media.  Menurut pimpinan bank sentral di tanah air tersebut, kekuatan rupiah telah sesuai dengan nilai fundamentalnya yaitu pada kisaran 13300 – 13400 yang disupport oleh masuknya dana asing ratusan triliun akibat optimisme investor asing   alirkan dananya kepada pasar keuangan dalam negeri.

Optimisme investor asing inilah yang mengalirkan dana asing hingga  Rp 105 triliun ke pasar keuangan dalam negeri , dimana paling besar banyak datang melalui pasar surat berharga negara (SBN) yang mencapai Rp 71 triliun selanjutnya melalui pasar modal hingga  mencapai Rp 26,4 triliun dan sisanya dari investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).

Bentuk intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan posisi rupiah terdapat dalam Paket Kebijakan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah Tanggal 30 September 2015. Dalam paket tersebut terdapat beberapa intervensi yang dapat  dilakukan BI seperti :

  1. Intervensi di pasar spot dengan mengurangi tekanan dengan melakukan penurunan swap point pada pasar forward.   Swap point adalah perbedaan antara nilai tukar forward dan nilai tukar spot.
  2. Bank Indonesia  menerbitkan SBI yang tenornya lebih pendek dari 1 bulan menjadi 1 pekan untuk menyerap likuiditas rupiah. Selain itu BI juga  menaikkan suku bunga SBI supaya menyerap likuiditas
  3. Pengurangan pajak bunga deposito kepada eksportir yang menyimpan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di perbankan Indonesia atau mengkonversinya ke dalam rupiah.

 

Penggerak  Kuatnya Rupiah

Dari beberapa sentiment yang mensupport stabilnya rupiah selama 6 bulan pertama tahun ini, penulis mendata penggerak kuat rupiah didapat dari kuatnya fundamental ekonomi dalam negeri  yang ditunjukkan beberapa indicator  serta  peringkat investasi dan utang Indonesia menurut lembaga pemeringkat internasional. Untuk indicator  yang menunjukkan kuatnya fundamental rupiah dan juag ekonomi dalam negeri:

  1. Tingkat inflasi Sesuai Target BI

Tingkat inflasi dalam negeri sejak awal tahun 2017 hingga bulan Mei meningkat, namun masih sesuai dengan target BI yaitu di 4%(+/-1%).  Inflasi tahunan pada bulan Mei dilaporkan BPS meningkat sebesar 4,33%, peningkatan inflasi cenderung turun sejak tahun 2013. Meningkatnya  inflasi Indonesia   sempat mencapai 82,4% pada krisis 1998 dan  saat krisis 2008 kenaikan  inflasi sebesar 12,1 persen.

Indonesia Inflation Rate

  1. Berkurangnya Defisit Transaksi Berjalan

Defisit transaksi berjalan atau current account deficit Indonesia sejak tahun 2013 terus menurun hingga periode kuartal pertama tahun 2017. Indonesia pernah alami pembengkakan deficit paling besar di tahun 2013 hingga Rp29 miliar, itu terjadi ketika Bank Sentral Amerika umumkan akan mengurangi stimulusnya atau tapering QE. Data deficit current account kuartal pertama tahun 2017 turun ke US$2,4 miliar.

Indonesia Current Account

  1. Bertumbuhnya PDB Indonesia Q1-2017

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditunjukkan pada data PDB meningkat selama 3 bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode kuartal terakhir tahun 2016. PDB Q1-2017 naik ke 5,01% setelah sebelumnya di 4,94%.

Indonesia GDP Annual Growth Rate

  1. Meningkatnya Cadangan Devisa Indonesia

Cadangan devisa Indonesia per periode bulan Mei yang dilaporkan BI pekan lalu menunjukkan peningkatan dibandingkan dari bulan sebelumnya, alami kenaikan hingga US$2 miliar lebih menjadi US$123,25 miliar. Posisi cadangan devisa (cadev) hingga bulan kelima tahun ini merupakan posisi cadangan devisa paling tinggi sepanjang sejarah.  Menurut Bank Indonesia posisi devisa ini  melampaui kebutuhan devisa untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo, selain itu cukup untuk   membiayai 8,9 atau 8,6 bulan impor.

Indonesia Foreign Exchange Reserves

Selain dari fundamental ekonomi Indonesia yang menjadi salah satu rahasia kekuatan rupiah di tahun 2017, terdapat kekuatan yang berasal dari luar negeri yaitu oleh proyeksi positif lembaga pemeringkat internasional terhadap peringkat utang luar negeri Indonesia dan juga proyeksi investasinya.

Untuk peringkat utang luar negeri,  Fitch Ratings dan Moody’s Investors Service memberikan proyeksi positif terhadap peringkat utang Indonesia yang telah berada di level layak investasi (investment grade).  Dan untuk outlook investasi tanah air,   akhirnya Standard and Poor’s (S&P)  baru-baru ini pada bulan Mei 2017 memberikan peringkat layak investasi untuk Indonesia. Peringkat dari S&P memberikan tambahan kekuatan fundamental rupiah.

Proyeksi Kekuatan Rupiah Semester Kedua Tahun 2017

Dengan modal kuatnya fundamental rupiah sepanjang 6 bulan pertama tahun 2017, pergerakan rupiah menurut penulis masih akan menguat.  Pengaruh yang sangat kuat dari peringkat layak investasi (investment grade) yang diberikan oleh lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P) akan mendorong masuknya aliran modal asing  melalui FDI (foreign direct investment) lebih besar dalam 1 tahun hingga 2 tahun ke depan. Pengaruh dari peningkatan FDI tersebut juga akan meningkatkan ekspor   dari  peningkatan impor yang selalu meningkat di paruh kedua setiap tahunnya, sehingga posisi current account bangsa ini bisa menjadi surplus lebih cepat.

Namun perjalanan rupiah sampai akhir tahun 2017 tidaklah semulus jalan tol karena masih dibayangi beberapa resiko ketidakpastian politik, kebijakan  moneter  serta kebijakan perdagangan internasional yang tertutup negara-negara maju, sehingga dapat mempengaruhi volatilitas arus finansial global. Dapatkan perkembangan terbaru untuk volatilitas arus finansial dunia dalam tulisan-tulisan riset pasar keuangan setiap harinya di Vibiznews.com

By Jul Allens ,

Equity Research Head
Vibiz Research Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here