Market Outlook 4-8 September 2017

1461

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau berakhir terkoreksi oleh aksi ambil untung investor menjelang libur panjang bursa sementara sebelumnya IHSG sempat mencetak rekor baru, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah ke level 5,864.06. Untuk minggu berikutnya (4-8 September) IHSG nampaknya akan cenderung berkonsolidasi wait and see sembari memerhatikan pergerakan bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 5916 dan 5970, sedangkan support di level 5782 dan kemudian 5720.

Mata uang rupiah seminggu lalu masih terlihat konsolidatif sementara mata uang dollar secara global mulai rebound, di mana secara mingguan rupiah cenderung stabil dengan menguat tipis saja ke level 13,340. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,409 dan 13,438, sementara support di level 13,305 dan 13,285.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Non-Manufacturing PMI pada Rabu malam; disambung dengan data Crude Oil Inventories dan Unemployment Claims pada Kamis malam; berikutnya rilis testimony anggota FOMC Harker pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Construction PMI Inggris pada Senin sore; selanjutnya rilis pengumuman Minimum Bid Rate dari ECB pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan di level rendah 0.00%.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman Cash Rate dari RBA Australia pada Selasa siang yang diperkirakan bertahan di level 1,50%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar menguat pada keranjang indeks dollar-nya sehubungan dengan ekspektasi pasar yang masih perkirakan bahwa suku bunga the Fed bakal naik sekali lagi di akhir tahun ini, di mana secara mingguan index dollar AS menguat terbatas ke level 92.84. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau terkoreksi ke level 1.1863. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2070 dan kemudian 1.2570, sementara support pada 1.1661 dan 1.1369.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2953 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3060 dan kemudian 1.3264, sedangkan support pada 1.2772 dan 1.2634. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 110.25. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 110.94 dan 113.12, serta support pada 108.26 serta level 108.12. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menaik ke level 0.7967 Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.8064 dan 0.8163, sementara support level di 0.7571 dan 0.7332.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat sejalan dengan penguatan Wall Street ditambah pertumbuhan data manufaktur China yang memenuhi ekspektasi pasar. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat ke level 19720. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20090 dan 20165, sementara support pada level 19165 dan lalu 18840. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 27953. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28127 dan 28524, sementara support di 26863 dan 25200.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat oleh ekspektasi pasar kebijakan the Fed yang akan lebih ketat dengan pertumbuhan tenaga kerja yang cenderung lambat. Dow Jones Industrial secara mingguan menguat ke level 21929.65, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 22083 dan 22176, sementara support di level 21565 dan 21185. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis ke level 2448.94, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2474 dan 2490, sementara support pada level 2396 dan 2376.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau menguat ke posisi 9,5 bulan tertingginya oleh data tenaga kerja AS yang ternyata bertumbuh lambat, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang menguat ke level $1325.95 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1337 dan berikut $1352, serta support pada $1274 dan $1267. Di Indonesia, harga emas terpantau menguat ke level Rp568,369 per gram.

 

Anda mungkin pernah memerhatikan bagaimana dana asing satu waktu masuk dengan deras ke pasar modal dan pasar uang Indonesia, lalu dengan deras pula dana-dana itu lari keluar. Memang demikianlah pergerakan dana investasi global. Begitu cepatnya mengalir ke berbagai instrumen investasi menembus batas-batas antar negara. Begitu cepat masuk, mampir, keluar dan akan begitu cepat pula mengalami “switching” dari satu asset ke asset lainnya serta dari satu negara ke negara lainnya. Itu sebabnya kita perlu mempelajari dinamika portfolio investasi, baik dari sisi jenis, jangka waktu, tingkat risiko, typical, dll. Simak terus di vibizmedia.com dan jadilah investor yang sukses. Salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Analis: Alfred Pakasi

Editor: J. John

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here