Market Outlook 11-15 September 2017

1508

(Vibizmedia – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau masih terkoreksi sejalan dengan sentimen bursa kawasan yang masih negatif dan kuatir akan meningkatnya tensi geopolitik di Semenanjung Korea, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah tipis ke level 5,857.12. Untuk minggu berikutnya (11-15 September) IHSG nampaknya akan dalam bias menguat dengan tetap menyesuaikan pergerakan bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 5916 dan 5970, sedangkan support di level 5774 dan kemudian 5720.

Mata uang rupiah seminggu lalu khususnya di akhir pekannya tampil perkasa sementara mata uang dollar secara global terperosok, di mana secara mingguan rupiah menguat tajam ke level 13,200. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,345 dan 13,409, sementara support di level 13,185 dan 13,160.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data PPI m/m dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; disambung dengan rilis Unemployment Claims dan Core CPI m/m pada Kamis malam; berikutnya data Core Retail Sales m/m pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data CPI y/y Inggris pada Selasa sore; selanjutnya rilis pengumuman Official Bank Rate dari MPC Inggris pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan di level rendah 0.25%.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman Industrial Production y/y China pada Kamis pagi.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terpantau amblas ke level terendah 2,5 tahun terhadap euro dengan ECB mengindikasikan akan mulai melepas paket stimulusnya untuk Zona Eropa pada pertemuan bulan depan, di mana secara mingguan index dollar AS merosot ke level 91.31. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau menguat ke level 1.2025. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2070 dan kemudian 1.2570, sementara support pada 1.1661 dan 1.1369.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.3199 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3264 dan kemudian 1.3347, sedangkan support pada 1.2851 dan 1.2772. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 107.76. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 110.66 dan 113.12, serta support pada 106.73 serta level 101.19. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menaik ke level 0.8051 Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.8124 dan 0.8163, sementara support level di 0.7870 dan 0.7571.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum melemah oleh kekuatiran akan adanya test rudal kembali dari Korea Utara pada akhir pekan dan kurang baiknya data kinerja ekspor China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 19160. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20090 dan 20165, sementara support pada level 18855 dan lalu 18840. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah tipis ke level 27668. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28127 dan 28524, sementara support di 26863 dan 25200.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah dengan penurunan saham-saham perusahaan asuransi yang terpukul oleh risiko akibat badai Irma yang mendekati kawasan Florida. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 21746.43, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 22083 dan 22176, sementara support di level 21565 dan 21185. Index S&P 500 minggu lalu melemah tipis ke level 2430.07, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2474 dan 2490, sementara support pada level 2396 dan 2376.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau berlanjut menguat ke posisi setahun tertingginya oleh data ekonomi AS yang kurang kuat dan menaikkan prediksi bahwa kenaikan suku bunga belum akan terlaksana di akhir tahun ini di, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang menguat ke level $1346.25 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1352 dan berikut $1367, serta support pada $1298 dan $1274. Di Indonesia, harga emas terpantau menguat ke level Rp571,120 per gram.

 

Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Gejolak kondisi perekonomian di Amerika dan China serta tensi geoplitik Semenanjung Korea yang menguatirkan dunia menyisakan kebingungan pasar untuk bagaimana menyikapinya. Sementara itu, perekonomian kawasan Asia yang sebelum ini tampil menawan, sekarang nyaris flat oleh arus modal keluar akibat terjadinya pergeseran dana investasi global. Itu yang sedang ramai terjadi dalam pasar finansial global. Kalau Anda tidak punya waktu banyak kesempatan untuk mengikuti dan mengartikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda sepenuhnya serta memanfaatkannya untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Analis: Alfred Pakasi

Editor: J. John

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here