Harga Minyak Mentah Turun Pasca Ancaman Turki; Laporan API Berpotensi Dukung Harga

152

Harga minyak mentah turun pada akhir perdagangan Rabu dinihari (27/09) pasca ancaman Turki untuk mengurangi ekspor minyak mentah dari wilayah Kurdistan Irak serta tanda-tanda penyeimbangan pasar yang meningkat.

Presiden Turki Tayyip Erdogan mengancam pada hari Senin untuk memotong pipa yang membawa 500.000-600.000 barel minyak mentah per hari dari Irak utara ke pelabuhan Ceyhan di Turki, yang meningkatkan tekanan pada wilayah otonomi Kurdi selama referendum kemerdekaannya.

Harga minyak mentah berjangka WTI AS berakhir turun 34 sen atau 0,65 persen menjadi $ 51,88 per barel, setelah mencapai level tertinggi lima bulan di $ 52,43 per barel.

Harga minyak mentah Brent turun 79 sen atau 1,3 persen menjadi $ 58,23 per barel pada pukul 2:24. ET (1824 GMT), yang sebelumnya mencapai $ 59,49, tertinggi sejak Juli 2015 dan lebih dari 34 persen di atas level 2017.

Kerugian potensial ini, yang dikombinasikan dengan 1,8 juta bpd pengurangan produksi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen non-OPEC, telah menimbulkan kekhawatiran akan pasokan yang lebih ketat.

Pemerintah Irak mengatakan tidak akan mengadakan pembicaraan dengan Pemerintah wilayah Kurdistan tentang hasil referendum, yang diperkirakan dapat menunjukkan mayoritas yang senang untuk mendukung kemerdekaan setelah hasilnya diumumkan akhir pekan ini.

Reli selama dua hari terakhir ini juga menyebabkan profit taking.

OPEC dan produsen non-OPEC yang bertemu di Wina pekan lalu mengatakan bahwa pasar sedang dalam perjalanan menuju penyeimbangan kembali. Namun analis lainnya skeptis tentang kenaikan harga lebih lanjut karena produksi minyak yang lebih tinggi dari Amerika Serikat.

Administrasi Informasi Energi A.S. mengatakan bahwa produksi dari sumber minyak dalam bentuk serpih akan meningkat selama 10 bulan berturut-turut di bulan Oktober.

Dinihari tadi setelah pasar AS tutup, American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah A.S. secara tak terduga turun sebesar 761.000 barel untuk pekan yang berakhir 22 September, menurut sumber. Data API juga menunjukkan bahwa stok bensin naik 1,5 juta barel, sementara persediaan sulingan turun 4,5 juta barel, kata sumber tersebut.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah berpotensi naik dengan penurunan persediaan minyak mentah AS seperti yang dilaporkan API. Harga minyak mentah diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $ 52,40-$ 52,90, dan jika harga bergerak turun akan menembus kisaran Support $ 51,40-$ 50,90.

Freddy/VMN/VBN/Analyst Vibiz Research Center
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here