Market Outlook, 2-6 October 2017

297

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia terpantau dalam sentimen negatif oleh aksi jual investor asing namun di akhir pekan bangkit rebound memangkas kerugian oleh kuatnya bursa global, sehingga secara mingguan bursa ditutup terkoreksi terbatas ke level 5,900.85. Untuk minggu berikutnya (2-6 Oktober) IHSG nampaknya punya peluang untuk mencetak rekor baru namun tetap memperhatikan situasi geopolitik di Semenanjung Korea. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 5928 dan 5970, sedangkan support di level 5831 dan kemudian 5774.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat masih lemah oleh perkasanya dollar AS secara global yang terangkat dengan kebijakan reformasi pajaknya Presiden Trump, di mana secara mingguan rupiah fluktuatif dan melemah ke level 13,470. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,510 dan 13,599, sementara support di level 13,365 dan 13,279.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Darikawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing PMI pada Senin malam; disambung dengan rilis ADP Non-Farm Employment Change, ISM Non-Manufacturing PMI, dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya data Unemployment Claims pada Kamis malam; ditutup dengan rilis Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Senin sore; selanjutnya rilis Construction PMI Inggris pada Selasa sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman RBA Rate Statement (Australia) pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di level 1.50%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terpantau berlanjut menguat menuju ke mingguan tertingginya di sepanjang tahun ini oleh ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed dan bertambahnya tingkat inflasi, di mana secara mingguan index dollar AS menguat ke level 93.06. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau stabil seputar level 1.1943. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2091 dan kemudian 1.2570, sementara support pada 1.1822 dan 1.1661.

Poundsterling minggu lalu terlihat terkoreksi ke level 1.3399 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3656 dan kemudian 1.4043, sedangkan support pada 1.3150 dan 1.2851. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir stabil seputar level 112.52. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 112.70 dan 113.12, serta support pada 109.54 serta level 107.30. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menurun ke level 0.7841 Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.8124 dan 0.8163, sementara support level di 0.7806 dan 0.7571.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat terdorong oleh kenaikan bursa dari Wall Street sementara pasar mencermati data ekonomi Jepang. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat ke level 20360. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20430 dan 20940, sementara support pada level 19640 dan lalu 18855. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 27554. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28428 dan 28524, sementara support di 27300 dan 26863.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau kembali mencatat penguatan mingguan dengan S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru dan Dow membukukan 8 triwulan kemenangan secara berturut-turut setelah 20 tahun terakhir ini. Dow Jones Industrial secara mingguan menguat ke level 22371.76, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 22411 dan 22520, sementara support di level 22022 dan 21695. Index S&P 500 minggu lalu menguat tipis dalam rekor ke level 2484.57, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2518 dan 2550, sementara support pada level 2457 dan 2429.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau kembali terkoreksi oleh penguatan dollar dan terbatasnya laju inflasi, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah ke level $1280.10 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1319 dan berikut $1357, serta support pada $1274 dan $1267. Di Indonesia, harga emas terpantau menguat tipis ke level Rp554,320 per gram.

 

Pasar yang terus bergejolak belakangan ini membuat banyak forum diskusi di antara kalangan investor digiatkan. “Pasar jelasnya mau ke mana?” begitu yang sering jadi topik hangat diskusi. Bukan hanya oleh faktor ekonomi, tetapi faktor geopolitik kawasan ternyata dapat memengaruhi gerakkan pasar. Memang benar hanya si pasar sendiri yang tahu pergerakan pasar. Namun demikian, perilaku pasar harusnya dapat dipelajari juga, bukan? Bagi mereka yang telah lama berpengalaman merasakan denyut naik turunnya pasar, biasanya akan cukup  bijak untuk melihat pasar dari sudut “bird-eye view”. Vibiznews.com pastinya punya kapabilitas itu sebagai media spesialisasi investasi yang berpengalaman. Mari bersama kami memanfaatkan gerak pasar dan jadilah investor yang ‘profitable’. Terima kasih pembaca karena telah setia bersama kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Analis: Alfred Pakasi

Editor: J. John

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here