Market Outlook, 30 October – 3 November 2017

660

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia bergerak fluktuatif dengan mencetak rekor-rekor penutupan dan intraday tetapi kemudian tergerus profit taking hampir menyita gain yang sempat menjulang, sehingga secara mingguan bursa ditutup menguat terbatas ke level 5,975.28. Untuk minggu berikutnya (30 Oktober – 3 November) pasar masih dalam kemungkinan koreksi ambil untung tetapi bargain hunting di level rendah juga sudah bersiap menyambutnya. Ke depannya kita tetap akan dapat melihat level di atas 6000 tertembus kembali. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 6025 dan 6042, sedangkan support di level 5949 dan kemudian 5904.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat banyak dalam tekanan oleh semakin perkasanya dollar AS di pasar global, di mana secara mingguan rupiah melemah tajam ke level 13,613. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,640 dan 13,680, sementara support di level 13,518 dan 13,465.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ADP Non-Farm Employment Change, ISM Manufacturing PMI dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; disambung dengan rilis pengumuman Federal Funds Rate pada Kamis dini hari yang diperkirakan kali ini masih bertahan di level <1.25%; berikutnya data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam; ditutup dengan rilis Unemployment Rate, Non-Farm Employment Change, dan ISM Non-Manufacturing PMI pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Rabu sore; selanjutnya rilis MPC Official Bank Rate Votes dan Official Bank Rate BOE pada Kamis sore yang diperkirakan naik ke 0.50% dari 0.25%.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman BOJ Policy Rate Bank of Japan pada Rabu pagi yang diperkirakan bertahan di level negative -0.10%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terpantau menguat membukukan kenaikan mingguan keenamnya dalam tujuh minggu, sementara euro terperosok ke loss minggguan terbesarnya di tahun ini, di mana secara mingguan index dollar AS menguat ke level 94.80. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau turun ke level tiga minggu terendahnya di 1.1606. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1836 dan kemudian 1.1857, sementara support pada 1.1478 dan 1.1370.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.3124 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3337 dan kemudian 1.3454, sedangkan support pada 1.3026 dan 1.2772. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 113.67. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 114.48 dan 115.18, serta support pada 111.64 serta level 109.54. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah ke level 0.7671. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7985 dan 0.8124, sementara support level di 0. 7571 dan 0.7534.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat terdorong oleh kenaikan dan rekor berlanjut bursa Wall Street serta sejumlah laporan pendapatan korporasi yang bagus di pasar. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat dalam rekor ke level 21985. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22000 dan 22050, sementara support pada level 21615 dan lalu 20920. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah terbatas ke level 28330. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28800 dan 29120, sementara support di 27300 dan 26863.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau kembali mencetak rekor terutama S&P 500 dan Nasdaq oleh laporan earnings emiten-emiten teknologi yang memuaskan dan melampaui ekspektasi pasar. Dow Jones Industrial secara mingguan menguat ke level 23430, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 23440 dan 23480, sementara support di level 23350 dan 23052. Index S&P 500 minggu lalu menguat dalam rekor ke level 2580.4, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2583 dan 2620, sementara support pada level 2544 dan 2457.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau membukukan penurunan kembali oleh penguatan dollar AS yang makin perkasa, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah ke level $1273.58 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1290 dan berikut $1306, serta support pada $1260 dan $1251. Di Indonesia, harga emas terpantau melemah ke level Rp556,779 per gram.

 

Kalau para pembaca memerhatikan, maka terlihat isyu rencana kenaikan suku bunga dari Amerika kerap begitu mewarnai dan menggerakkan pasar. Demikian pula ketidakjelasan arah suku bunga di Eropa bisa demikian menggerakkan pasar mata uang dan pasar modalnya. Inilah yang merupakan faktor major fundamental yang menjadi penggerak utama pasar. Isyu perekonomian di Amerika akan terus berlangsung dengan berbagai dinamikanya, serta juga kerap kali sampai kepada aspek politiknya. Kita tetap akan melihat sejumlah isyu yang menggerakkan pasar lainnya. Vibiznews.com akan menjadi partner Anda sebagai investor dalam memantau tiap-tiap pergerakan pasar secara updated dan detail.  Terima kasih telah bersama kami karena kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Analis: Alfred Pakasi

Editor: J. John

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here