Market Outlook 6-10 November 2017

561

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia bergerak fluktuatif dengan mencetak rekor penutupan dan intraday tetapi kerap diganjal profit taking, namun keseluruhannya masih di zona hijau, sehingga secara mingguan bursa ditutup menguat mencetak rekor ke level 6,039.54. Untuk minggu berikutnya (6-10 November) pasar masih diawasi ketat oleh aksi ambil untung investor tetapi sentimen positif bursa kawasan dan global akan dapat membuat kita melihat IHSG mencetak rekor barunya lagi. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 6082 dan 6120, sedangkan support di level 5989 dan kemudian 5969.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat banyak dalam tekanan oleh perkasanya dollar AS namun dua hari terakhir rupiah tampil menguat, di mana secara mingguan rupiah dapat menguat ke level 13,493. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,595 dan 13,640, sementara support di level 13,450 dan 13,415.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis pidato Fed Chair Yellen pada Rabu dini hari; disambung dengan rilis Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya data tenaga kerja Unemployment Claims pada Kamis malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis pidato Presiden ECB Draghi pada Selasa sore; selanjutnya rilis Manufacturing Production m/m Inggris pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman Cash Rate RBA Australia pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di level rendah 1.50%; kemudian pengumuman Official Cash Rate RBNZ Selandia Baru pada Kamis subuh yang diperkirakan bertahan di level 1.75%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar terpantau bergerak dalam range pasar terbatas dan berakhir menguat oleh data ekonomi AS yang solid, di mana secara mingguan index dollar AS menguat ke level 94.92. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau stabil di level tiga minggu terendahnya di 1.1606. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1836 dan kemudian 1.1857, sementara support pada 1.1478 dan 1.1370.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.3073 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3320 dan kemudian 1. 3337, sedangkan support pada 1.3026 dan 1.2772. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 114.10. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 114.48 dan 115.18, serta support pada 111.64 serta level 109.54. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah tipis ke level 0.7646. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7985 dan 0.8124, sementara support level di 0. 7571 dan 0.7534.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat terdorong oleh kenaikan dan rekor berlanjut bursa Wall Street serta sejumlah laporan pendapatan korporasi yang bagus di bursa. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat dalam rekor ke level 22445. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22500 dan 22600, sementara support pada level 21845 dan lalu 21615. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat terbatas ke level 28580. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28800 dan 29120, sementara support di 27300 dan 26863.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau kembali mencetak rekor pada ketiga indeks utamanya oleh laporan earnings emiten-emiten teknologi yang melampaui ekspektasi pasar, termasuk Apple dan Qualcomm. Dow Jones Industrial secara mingguan menguat dalam rekor ke level 23534, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 23550 dan 24000, sementara support di level 23350 dan 23250. Index S&P 500 minggu lalu menguat dalam rekor ke level 2587.2, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2588 dan 2620, sementara support pada level 2544 dan 2457.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau membukukan penurunan kembali oleh data tenaga kerja AS yang dilaporkan tampil di bawah ekspektasi pasar, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah ke level $1269.40 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1290 dan berikut $1306, serta support pada $1263 dan $1251. Di Indonesia, harga emas terpantau melemah ke level Rp553,452 per gram.

 

Pasar investasi dunia nampaknya masih terus bergerak dinamis. Adanya harapan pemulihan ekonomi Amerika dan global, telah mendorong harga naik, bahkan cukup signifikan, untuk sejumlah pilihan investasi. Fluktuasi pasar bisa berbentuk volatilitas yang tinggi pada satu periode, dapat juga berupa gelombang naik turun dalam irama yang diwarnai sangat dengan ketidakpastian di periode waktu yang lainnya. Kita harus terima saja bahwa demikian memang situasi dan kondisi pasar saat ini. Untuk memenangkannya, nampaknya, kita yang harus menambahkan pengetahuan dan keahlian (skill) dalam berinvestasi. Bagaimanapun, tidak ada salahnya sama sekali seseorang untuk menambah pengetahuan dan skill. Itu suatu bentuk investasi tersendiri juga. Untuk itu, Anda dapat belajar bersama vibiznews.com. Sudah terbukti. Bagi para member, kami sampaikan kembali terimakasih telah tetap bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Analis: Alfred Pakasi

Editor: J. John

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here