Return Saham 2018 Diprediksi akan Lebih Tenang, Bagaimana IHSG?

412
NEW YORK, NY - NOVEMBER 18: A trader works on the floor of the New York Stock Exchange on November 18, 2013 in New York City. The Dow Jones Industrial Average passed 16,000 points for a period during trading today, a new record high. (Photo by Andrew Burton/Getty Images)

(Vibiznews – Index) – Investor harus bersiap untuk return yang relatif tenang pada saham-saham utama di tahun 2018, demikian menurut strategist di bank investasi Societe Generale.

Kuatnya pendapatan korporasi, inflasi yang terjaga, sinkronnya pertumbuhan global, dan bank sentral yang memperketat kebijakan moneter, semuanya mendukung pertumbuhan saham pada tahun 2017. Namun, tahun kalender berikutnya nampaknya tidak mengikuti pola yang sama, demikian analis SocGen mengatakan belum lama ini, seperti dikutip dari CNBC (23/11).

“Kami tidak melihat banyak kenaikan pada target ekuitas utama kami untuk 12 bulan ke depan,” kata strategist di SocGen dalam sebuah catatan.

‘Wilayah Mahal’

Saham AS telah membara tahun ini. Index S&P 500 naik lebih dari 15 persen pada 2017, didorong oleh pendapatan perusahaan yang kuat, ekspektasi perbaikan pajak AS dan perbaikan ekonomi global. Kebijakan moneter – yang telah menjadi berkat bagi saham sejak krisis keuangan – juga tetap longgar dibandingkan dengan standar historisnya.

Namun, analis di investment bank mengatakan S&P 500 sekarang “memasuki wilayah yang mahal.”

Minggu lalu, kepala global asset allocation di SocGen, mengatakan saham AS itu seperti dengan katak di air mendidih yang tidak menyadari masalah yang mengelilinginya.

“Kami perkirakan valuasi yang terbatas dan kenaikan yield obligasi akan membatasi kinerja indeks saham di tahun 2018, serta prospek perlambatan ekonomi AS pada tahun 2020 akan menekan lebih lanjut returns di tahun 2019,” katanya.

Bagaimana IHSG?

Valuasi IHSG saat ini dinilai sejumlah pihak sudah mahal. Price to earning ratio (PER) sudah sekitar 17,5 kali, sementara rata-ratanya selama ini sekitar 14 kali. Walaupun, ada juga yang menilai IHSG masih cukup wajar oleh karena kenaikan indeks telah didukung dengan laporan keuangan di kuartal ketiga yang naik.

Isyu tersebut, bagaimanapun, mengundang investor untuk cepat melakukan aksi ambil untung (profit taking) belakangan ini. Dalam hampir dua minggu terakhir, analis Vibiznews melihat bahwa setidaknya ada lima sesi hari di mana IHSG langsung diserang aksi profit taking begitu menyentuh intraday tingginya. Ini menandakan sebagian investor menilai IHSG sudah cukup mahal.

Namun demikian, tren kenaikan IHSG menuju level 6.100 dan di atasnya masih sangat mungkin, didorong oleh sentimen positif yang terus berhembus dari Amerika dan bursa regional. Bila hembusan dari bursa global dan regional tidak sekencang tahun ini lagi, bisa jadi return saham-saham dalam negeri juga akan lebih terbatas di tahun 2018.

Begitukah? Waktu juga akan membuktikannya.

 

Source: CNBC and others

Analyst: Alfred Pakasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here