Pemerintah Terbitkan Green Bond Untuk Pembiayaan Infrastruktur

439

(Vibiznews – Bonds) – Tahukah Anda bahwa bersamaan dengan penawaran sukuk ritel (sukri), pemerintah juga menerbitkan green bond di pasar global pada pada akhir pekan lalu?. Pemerintah menerbitkan obligasi syariah ramah lingkungan bertenor 5 tahun ini dengan nilai US$ 1,25 miliar.

Imbal hasil sukuk hijau pertama yang dikeluarkan negara Asia ini dipatok sebesar 3,75%. Angka ini lebih rendah dari proyeksi imbal hasil yang sebelumnya diprediksi para bankir, yaitu 4,05%. Namun, banyak analis yang menilai surat utang ini masih menarik untuk dikoleksi.

Adalah peranan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) melalui Unit Tim Fasilitasi Pembiayaan Investasi Nonanggaran Pemerintah (PINA Center) yang menggagas pembiayaan infrastruktur yang berwawasan lingkungan dengan penerbitan green bond.

Skema green bond telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai negara dalam pengembangan infrastruktur. Misalnya pada sektor perkeretaapian, China Railway Corp sebesar 222 miliar dolar AS, Indian Railways sebesar 14,7 miliar dolar AS, hingga Korea Railroad sebesar 10,5 miliar dolar AS memanfaatkan skema ini dalam jumlah masif.

 Green Bonds sangat relevan untuk pembiayaan infrastruktur. Sebab, dengan perkembangan global yang konsen dengan perubahan iklim maka investasi di infrastruktur yang ramah lingkungan sangat tepat.

Green Bonds memiliki dua pendekatan, yakni, instrumen keuangan jangka panjang sampai 30 tahun, serta dari sisi ramah lingkungan di mana adanya syarat proyek-proyek alternatif terhadap penggunaan infrastruktur jalan raya.

Menurut para pakar obligasi berpendapat, penerbitan instrumen surat utang syariah bersifat ramah lingkungan ini akan menarik minat investor di pasar global. Terutama, bagi investor yang memiliki mandat atau preferensi pada surat utang yang mendukung proyek pelestarian lingkungan.

Memang sukuk ini memiliki aset dasar (underlying asset) berupa proyek yang mendukung upaya pelestarian lingkungan. Termasuk di dalamnya pengurangan emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.

Namun tawaran imbal hasil sebesar 3,75%, kurang diminati para investor. Pasalnya, imbal hasil tersebut hanya lebih tinggi 20-30 basis poin (bps) dari obligasi pemerintah bertenor 5 tahun lainnya, yang akan jatuh tempo satu hingga dua tahun sebelum sukuk hijau ini jatuh tempo.

Jadi, bagi investor umum yang tidak memburu aset ramah lingkungan, green bond ini sama saja dengan obligasi konvensional yang menawarkan imbal hasil 3,4%–3,5%. Memang, secara fundamental, ekonomi Indonesia yang makin positif dapat menarik perhatian investor secara global untuk membeli surat utang Indonesia. Tapi, valuasi juga menjadi faktor penentu.

Investor akan menimbang besaran kupon obligasi yang ditawarkan. “Tahun ini nominal obligasi global yang dirilis pemerintah maupun korporasi dari Indonesia akan lebih besar, namun dimulai dari imbal hasil yang kecil.

Risiko kecil

Dipandang dari sudut risiko, kupon sukuk yang lebih kecil ini mengindikasikan surat utang Indonesia minim risiko, sehingga investor dari negara-negara berwawasan lingkungan tinggi, seperti Eropa, bakal mengincar sukuk hijau ini. Pemerintah memang harus jeli memanfaatkan momentum awal tahun ini untuk menerbitkan surat utang. Sebab, pasar global tengah mengapresiasi obligasi pemerintah yang mengalami perbaikan rating utang versi Standard & Poor’s jadi investment grade tahun lalu.

Dalam penawaran green bond Indonesia pertama ini, pemerintah telah menunjuk CIMB, Citigroup, Bank Islam Dubai PJSC, HSBD dan Abu Dhabi Islamic Bank sebagai bookrunner. Sementara Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Trimegah Sekuritas Indonesia dipilih menjadi Co-manager.

 

Belinda Kosasih/Coordinating Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting Group

Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here