Market Outlook, 5-9 March 2018

597

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu bursa pasar modal di Indonesia cenderung dalam konsolidasi dengan pergerakan IHSG yang agak terbatas sementara bursa regional Asia juga cenderung melemah, sehingga secara mingguan bursa ditutup melemah ke level 6,582.32. Untuk minggu berikutnya (5-9 Maret) IHSG kemungkinannya masih dalam wait and see dengan melihat bursa Asia sebagai indikasi. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di posisi 6659 dan 6720, sedangkan support di level 6460 dan kemudian 6426.

Mata uang rupiah seminggu lalu terlihat berlanjut melemah sementara dollar AS juga sedang menanjak walau tergerus di akhir minggu, di mana secara mingguan rupiah melemah ke level Rp13,753, bahkan sempat bertengger di Rp13,800. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 13,800 dan 13,983, sementara support di level 13,640 dan 13,528.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Non-Manufacturing PMI pada Senin malam; disambung dengan rilis ADP Non-Farm Employment Change dan Crude Oil Inventories pada Rabu malam; berikutnya data Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Services PMI Inggris pada Senin sore; selanjutnya rilis Minimum Bid Rate dari ECB pada Kamis sore yang diperkirakan bertahan di level rendah 0.00%; diakhiri dengan data Manufacturing Production m/m Inggris pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa pengumuman Cash Rate dari RBA Australia pada Selasa pagi yang diperkirakan bertahan di level rendah 1.50%; kemudian pengumuman BOJ Policy Rate dari Jepang pada Jumat pagi yang diperkirakan bertahan di level sangat rendah -0.10%.

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar sempat rally tetapi kemudian tergerus di akhir minggu karena usulan tariff dari Trump dikhawatirkan pasar akan menimbulkan perang dagang, di mana secara mingguan index dollar AS menguat tipis ke level 89.98. Sementara itu, pekan lalu euro dollar terpantau melemah ke 1.2316. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.2554 dan kemudian 1.2839, sementara support pada 1.2154 dan 1.1922.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.3799 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.4069 dan kemudian 1.4144, sedangkan support pada 1.3457 dan 1.3347. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 105.73. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 107.89 dan 109.97, serta support pada 101.18 serta level 100.08. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah terbatas ke level 0.7761. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7771 dan 0.7859, sementara support level di 0.7737 dan 0.7714.

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum melemah terutama setelah usulan Trump untuk pengenaan tariff atas baja dan aluminium yang direspon negatif oleh bursa. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 21165. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 22500 dan 23490, sementara support pada level 20950 dan lalu 20210. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 30532. Minggu ini akan berada antara level resistance di 31774 dan 33510, sementara support di 29110 dan 28116.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah di antaranya oleh kekhawatiran pasar akan terjadi perang dangang setelah Trump mengumumkan tarif baru untuk baja dan aluminum. Dow Jones Industrial secara mingguan melemah ke level 24532, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 25800 dan 26338, sementara support di level 23360 dan 23342. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2690.6, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2789 dan 2839, sementara support pada level 2622 dan 2532.

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau sempat melemah namun kemudian rebound di akhir minggu karena kekhawatiran pasar atas perang dagang mendongkrak kembali harga emas, sehingga berakhir dalam harga emas dunia yang melemah tipis ke level $1322.01 per troy ounce. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1340 dan berikut $1361, serta support pada $1302 dan $1276. Di Indonesia, harga spot emas terpantau menguat terbatas ke level Rp585,715 per gram.

 

Variasi pasar konsisten menampakkan dirinya belakangan ini. Sejumlah pasar aset ada yang tampil rally, tapi yang lain ada yang melorot. Gejolak pasar kalau kita perhatikan bisa berbentuk volatilitas yang tinggi pada satu periode, dapat juga berupa gelombang naik turun dalam irama yang diwarnai dengan ketidakpastian di periode waktu yang lainnya. Memang demikian situasi dan kondisi pasar. Untuk ambil keuntungan terhadap pasarnya, nampaknya, kitalah yang harus menambahkan pengetahuan dan keahlian (skill) dalam berinvestasi. Bagaimanapun, tidak ada salahnya sama sekali seseorang untuk menambah pengetahuan dan skill. Itu suatu bentuk investasi tersendiri juga. Untuk itu, Anda dapat belajar bersama vibiznews.com. Terimakasih telah tetap bersama dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here