Harga Minyak Merosot 1 Persen Terganjal Peningkatan Produksi Rusia dan AS

264

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak tergelincir pada hari Senin (11/06), diseret turun oleh penngkatan produksi Rusia dan kegiatan pengeboran tertinggi di AS dalam lebih dari tiga tahun, namun diimbangi oleh kekhawatiran produksi Iran dan Venezuela di masa depan.

Analis memperkirakan produksi AS yang lebih tinggi untuk mengimbangi pembatasan pasokan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak, yang telah ada selama 18 bulan dan telah mendorong harga secara signifikan selama setahun terakhir.

Harga minyak mentah berjangka AS turun 82 sen atau 1,25 persen pada $ 64,92.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 77 sen atau 1,01 peresen pada menjadi $ 75,69 per barel.

Jumlah kilang pengeboran baru untuk minyak di Amerika Serikat naik satu minggu lalu ke 862, tertinggi sejak Maret 2015, data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan.

Angka tersebut menyiratkan bahwa produksi minyak mentah AS, yang sudah mencapai rekor tertinggi 10,8 juta barel per hari (bpd), akan naik lebih lanjut.

Kantor berita Rusia Interfax mengatakan, Sabtu, produksi minyak Rusia telah meningkat menjadi 11,1 juta barel per hari pada awal Juni, naik dari sedikit di bawah 11 juta barel per hari untuk sebagian besar bulan Mei, dan jauh di atas target yang ditargetkan di bawah 11 juta barel per hari.

Tetapi pasar khawatir dengan penurunan pasokan dari Venezuela dan potensi ekspor yang lebih rendah dari Iran.

Produksi Venezuela jatuh karena sanksi, krisis ekonomi dan salah urus, sementara Iran menghadapi sanksi AS atas program nuklirnya yang cenderung mengekang ekspor dalam beberapa bulan ke depan.

OPEC, bersama dengan beberapa produsen non-OPEC termasuk Rusia, mulai menahan produksi pada tahun 2017 untuk mencoba mengakhiri kelebihan pasokan global dan mendukung harga.

“Pasokan non-OPEC diperkirakan akan meningkat tajam pada 2019 yang dipimpin oleh pertumbuhan serpih AS, bersama dengan Rusia, Brasil, Kanada dan Kazakhstan,” kata bank AS JPMorgan seperti yang dilansir CNBC, menambahkan terjadi tren bearish untuk minyak pada paruh kedua tahun ini.

“Fundamental minyak diperkirakan akan melemah pada 2019 di belakang persediaan negara non-OPEC yang lebih kuat dari perkiraan, tetapi juga potensi peningkatan dari OPEC karena kesepakatan bersama antara OPEC dan non-OPEC tidak mungkin untuk tetap di tempat,” JPMorgan mengatakan dalam pandangan kuartalannya.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak berpotensi lemah dengan kekuatiran peningkatan produksi Rusia dan AS. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $ 64,40-$ 63,90, dan jika harga naik akan bergerak dalam kisaran Resistance $ 65,40-$ 65,90.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here