MGRO Emiten BEI ke 28; Hasil IPO Untuk Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit

147

(Vibiznews – IDX) Pada hari Kamis 12 Juli 2018, PT Mahkota Group Tbk dengan kode “MGRO” sebagai emiten ke-28, mencatatkan sebesar 703.688.000 saham baru dengan Harga Penawaran Rp. 225,- (dua ratus dua puluh lima Rupiah) dari hasil Initial Public Offfering (IPO) atau Penawaran Umum Perdana di Bursa Efek Indonesia.

Hal itu mengakibatkan Perseroan mendapatkan dana IPO senilai  Rp. 158.329.800.000,- (seratus lima puluh delapan miliar tiga ratus dua puluh sembilan juta delapan ratus ribu Rupiah).

Pada Masa Penawaran Umum yang telah dilakukan pada tanggal 3 – 9 Juli 2018, Pemesanan saham Perseroan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) mencapai 2x (dua kali) dari total saham yang ditawarkan dimana masa penjatahan telah dilakukan pada tanggal 10 Juli 2018.

Seluruh dana yang diperoleh Perseroan dari hasil Penawaran Umum Perdana Saham, setelah dikurangi biaya-biaya emisi yang berhubungan dengan  Penawaran Umum, akan dipergunakan Perseroan untuk melakukan peningkatan setoran modal ke entitas anak perseroan dengan  rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Sebesar 60% (enam puluh persen) akan digunakan untuk pengembangan industri hilir melalui investasi ke Entitas Anak PT Mutiara Unggul Lestari (MUL – Entitas Anak Perseroan), yaitu PT Intan Sejati Andalan (ISA – Entitas Anak MUL) yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik Refinery dan Kernel Crushing Plant yang berlokasi di jalan Duri – Dumai, Desa Bathin Sobanga, Kabupaten Bengkalis, Propinsi Riau.
  2. Sebesar 40% (empat puluh persen) akan digunakan untuk modal kerja ke Entitas Anak, yaitu PT Mutiara Unggul Lestari, PT Berlian Inti Mekar dan PT Intan Sejati Andalan.

Direktur Utama, Usli Sarsi juga optimis akan prospek pertumbuhan perkebunan kelapa sawit. Beliau mengatakan perkebunan kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak per hektar tertinggi dari semua jenis minyak nabati lainnya.  Di negara penghasil minyak yang lebih tinggi, hasil rata-rata kelapa sawit sekitar empat ton minyak per hektar per tahun, lebih dari dua kali lipat produksi minyak per hektar yang diperoleh deri lobak dan empat kali produksi minyak per hektar yang diperoleh dari kedelai dan biji bunga matahari. Oleh karena itu, minyak sawit membutuhkan area perkebunan yang lebih kecil dibandingkan dengan tanaman penghasil minyak lainnya untuk memproduksi jumlah minyak yang sama. Biaya produksi per ton minyak sawit juga lebih rendah dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya.

“Produksi CPO di Indonesia diperkirakan akan tumbuh 7% YoY di 2017/2018, Indonesia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia. Sampai bulan Oktober 2017, produksi CPO Indonesia ada di level 34,04 juta tons dan ekspor CPO Indonesia berada di level 26,73 juta tons”, lanjut Usli Sarsi.

Herwantoro/VMN/VBN/Journalist 
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here