Mengapa Emas Tidak “Bullish” Ditengah Perang Dagang?

909

(Vibiznews-Column) Pada saat emas berjuang untuk menemukan “support” setelah menyentuh kerendahan selama 12 bulan pada minggu lalu, para analis sedang menunggu kebangkitan dari daya tarik emas sebagai metal safe-havewn ditengah pasar yang tenang-tenang saja meskipun berhadapan langsung dengan ketakutan akan perang dagang secara global.

Di dalam minggu-minggu yang penuh dengan kefrustrasian bagi para investor emas, metal kuning telah mengabaikan semua data positip yang fundamental, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik, tekanan inflasi dan tingkat bunga riil yang negatif.

Analis komoditi dari Commerzbank dalam laporannya mengatakan,”Mengapa emas tidak mengambil keuntungan dari kekacauan yang sedang terjadi sekarang adalah sesuatu yang menjadi teka-teki bagi kami yang bertambah-tambah setiap hari. Kami percaya harga emas telah dibawah dari nilai sesungguhnya dan mengharapkan pemulihan yang berarti pada paruh waktu kedua dari tahun ini.”

Metal kuning tidak dapat menemukan penawaran pembelian pada minggu lalu meskipun meningkatnya ketegangan perdagangan dan ketidakpastian pasar, sebagian besar dibebani oleh dolar AS yang mengalami rally naik.

Para analis mencoba menunjukkan berbagai alasan mengapa emas tidak bertingkah laku seperti asset “safe-haven” pada saat ini.

Beberapa teori yang dianggap bekerja atas turunnya harga emas adalah kuatnya dolar AS, Federal Reserve AS yang bersikap “hawkish” yang memberikan ekspektasi kenaikan tingkat bunga, keengganan pasar, dan emas bertingkah laku seperti komoditas mentah.

Greenback vs Emas

Ekonom komoditi dari Capital Economics Simona Gambarini mengatakan kepada Kitco News bahwa bagi emas, hal ini semua adalah mengenai dolar AS dan setiap pergerakan harga yang akan datang (apakah terjadi perang dagang atau tidak) akan tergantung pada arah dari “greenback”.

Gambarini mengatakan,”Hal-hal yang positip bagi emas bisa diredam sewaktu-waktu karena efek akhirnya bergantung pada dolar AS. Harga emas tidak meningkat banyak meskipun sedang terjadi resiko geopolitik dan ketidakpastian.”

Tetapi, jika terjadi perkembangan lebih jauh di dalam retorika perang dagang yang memukul dolar AS, harga emas pada akhirnya akan bisa naik melewati batas $1,300 per ons, dia menambahkan.

“Ketegangan perdagangan, secara umum, akan mempengaruhi permintaan “safe-haven” dolar dan permintaan untuk lindung nilai atas inflasi,” dia memberikan catatan. “Kemungkinan terjadinya eskalasi bisa positip bagi emas karena ketidakpastian. Pada saat yang bersamaan, ketegangan dalam perdagangan yang melibatkan AS akan berakibat naiknya inflasi bagi negara AS dan hal ini juga positip bagi harga emas.”

Federal Reserve AS juga memainkan peranan yang besar bagi emas, menambah kelemahan. Para analis memandang the Fed sekarang sebagai lebih “hawkish”, dengan menaikkan perkiraan untuk menaikkan tingkat bunga dua kali lagi pada tahun ini.

George Gero, managing director pada RBC Wealth Management mengatakan,”Outlook yang hawkish menahan gerak naik setiap rally daripada emas karena metal berharga memiliki persoalan berkompetisi dengan naiknya tingkat bunga,”

Ketenangan Pasar

Dalam beberapa bulan ini, pasar emas telah bertingkah laku kontradiksi terhadap asumsi yang telah teruji selama ini, dimana pada saat ketidakpastian geopolitik meningkat, harga emas malah turun.

Sangat jarang terjadi bahwa metal kuning tidak bisa menarik minat berdasarkan daya tarik dari asset yang secara tradisional “safe-haven”. Itulah sebabnya mengapa para analis mulai menyalahkan kejadian ini kepada ketenangan pasar.

Hanya ada sedikit keengganan terhadap resiko diantara investor dan trader global meskipun terjadi perang dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Hal ini membuat terus mengalirnya uang ke pasar saham dunia.

Kepala ekonom ABN Amro, Han de Jong berkata di dalam laporannya pada hari Jumat,”Partisipan pasar apakah benar-benar tenang ataukah mereka telah memutuskan bahwa disana ada banyak hal-hal yang positip disekitarnya. Hal positip yang utama adalah bahwa pertumbuhan global beralasan, inflasii tetap belum merupakan ancaman dan bank-bank sentral secara relatif tidak dapat diprediksi. Namun, gambaran pertumbuhan telah meningkat secara menantang bulan-bulan belakangan ini.”

Kepala strategi pasar pada BubbaTrading.com Todd ‘Bubba’ Horwitz mengatakan kepada Kitco News bahwa tidak ada ketakutan pada pasar.

Analis komoditi pada Commerzbank dalam laporannya pada hari Jumat mengatakan,”Emas tetap  seratus persen tenang. Atau dengan perkataan lain – tidak peduli apapun yang terjadi, harga emas tidak akan naik secara signifikan.”

Horwitz berkata,”Pokoknya jual emas pada segala harga. Seluruh sistem pasar saat ini dalam keadaan tenang. Kita telah memecahkan dan melanggar banyak level kunci pada emas. Dan level berikutnya adalah disekitar $1,240 ( yang sekarang telah jauh dilewati).”

Ekspektasi kenaikan tingkat bunga

Pada awal minggu ini dipasar terlihat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dengan dasar pemikiran bank sentral utama dunia akan memulai membalikkan kebijakan moneter yang mudah selama ini. Laporan mengatakan bahwa Bank of Japan sedang berada pada ambang dari membalikkan kebijakan yang sangat akomodatif selama ini.

Bank-bank dan pialang-pialang telah memangkas perkiraan harga emas rata-rata untuk tahun ini dan tahun depan setelah kerugian yang besar yang dialami pada kuartal kedua, tetapi memperkirakan bahwa metal berharga untuk kembali bangkit kearah $1,300 per ons, menurut polling dari Reuters pada hari Senin.

Sebuah polling dari 35 analis dan trader yang dilakukan pada bulan ini memperkirakan harga emas rata-rata harga emas berada pada $1,301 per ons pada 2018 dan $1,325 pada 2019, dari prediksi $1,334 dan $1,352 berturut-turut pada polling yang sama tiga bulan yang lalu.

Revisi ini muncul setelah emas terjun bebas dari ketinggian $1,365.23 pada bulan April ke sekitar $1,220 di bawah tekanan dari dolar AS yang menguat, ekspektasi dari kenaikan tingkat bunga, penurunan yang besar pada emas yang dipegang oleh “exchange-traded funds” dan aksi jual oleh para investor spekulatif.

Dolar AS yang menguat membuat emas menjadi lebih mahal bagi para pembeli dengan matauang lain, sementara tingkat bunga yang lebih tinggi menambah “opportunity cost” dari memegang bullion yang tidak memberikan imbal hasil.

Apakah Turunnya Harga Minyak Berarti Turunnya Emas?

Ide bahwa turunnya harga minyak mentah telah mempengaruhi emas secara negatif telah menjadi perdebatan yang luas diantara para analis.

Beberapa komentator  mengatakan penurunan harga minyak telah memberikan kontribusi bagi penurunan harga emas. Emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan turunnya harga minyak tidak dapat dielakkan membawa kepada turunnya inflasi.

Minyak adalah penggerak inflasi yang utama, jadi turunnya harga minyak berpotensi menurunkan inflasi dan menurunkan harga emas.

Analis tehnikal senior dari Kitco menulis bahwa emas telah bertingkah laku seperti komoditi mentah dan tidak sebagai asset “safe-haven” lagi. Wyckoff juga mengatakan kenaikan harga emas pada waktu yang lalu disebabkan oleh “rebound”nya harga minyak.

Terpukulnya sektor komoditi pada saat ini, yang disebabkan pertikaian dagang antara AS dengan Cina menyebabkan harga emas dan perak memilih untuk mengikuti pasangan komoditi mentah mereka belakangan ini.

Namun para ekonom menulis,”Sesungguhnya, ekspektasi inflasi AS telah meningkat sejak permulaan tahun 2018, yang seharusnya menaikkan harga emas. Jadi yang membebani harga emas adalah kuatnya dolar AS dan aktifitas yang spekulatif.

Kemana arah emas ke depannya?

Berita baiknya bagi para trader emas adalah bahwa para analis tidak memperkirakan harga emas akan jatuh lebih dalam lagi, dengan rally dolar AS mulai melemah dan ketegangan perdagangan meningkat.

Capital Econmics memproyeksikan permintaan yang lebih banyak untuk metal kuning dalam jangka pendek, sambil menyebutkan sejumlah faktor yang positip bagi emas.

“Para investor kemungkinan akan merotasikan asset beresiko menjadi “safe-haven” jika ketegangan meningkat. Perang dagang kemungkinan akan menjadi pendorong inflasi bagi AS, yang merupakan tanda yang besar bagi emas yang dipandang sebagai lindung nilai inflasi secara tradisional.

Secara tehnikal, emas siap untuk berbalik arah, dengan Relative Strength Index (RSI) sudah berada pada area “oversold” dan mengarah naik. Pada sisi lainnya, dolar AS kelihatannya lelah dengan negatif RSI divergence muncul.

Sebuah polling dari 35 analis dan trader yang dilakukan pada bulan ini memperkirakan harga emas rata-rata harga emas berada pada $1,301 per ons pada 2018 dan $1,325 pada 2019, dari prediksi $1,334 dan $1,352 berturut-turut pada polling yang sama tiga bulan yang lalu.

Revisi ini muncul setelah emas terjun bebas dari ketinggian $1,365.23 pada bulan April ke sekitar $1,220 di bawah tekanan dari dolar AS yang menguat, ekspektasi dari kenaikan tingkat bunga, penurunan yang besar pada emas yang dipegang oleh “exchange-traded funds” dan aksi jual oleh para investor spekulatif.

Responden polling berkata bahwa aksi jual sudah melewati batas.

Analis Julius Baer, Carsten Menke, mengatakan emas seharusnya membangun dasar pada bulan-bulan yang akan datang. Kenaikan jangka menengah dan panjang akan bertambah sekali keprihatinan akan pertumbuhan ekonomi dan inflasi menyelinap masuk ke pasar keuangan, membangkitkan kembali permintaan akan “safe-haven”.

Ricky Ferlianto/VBN/Head of III, Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here