Mata Uang Negara Emerging Markets Sedang Krisis

384

(Vibiznews – Forex) – Pasar keuangan negara-negara berkembang atau biasa disebut negara Emerging Market (EM) sedang bergejolak, terpantau beberapa hari terakhir beberapa mata uangnya anjlok cukup parah terhadap dollar AS hingga turun ke posisi terendahnya.

Masuki perdagangan terakhir bulan Agustus hari Jumat terlihat  peso Argentina, lira Turki, dan rupiah Indonesia anjlok parah. Peso itu anjlok hampir 12 persen, menyusul krisis domestik yang melihat kenaikan suku bunga bank sentralnya menjadi 60 persen dalam upaya untuk menopang mata uangnya.

Demikian juga dengan lira Turki memperpanjang penurunan curam tahun ini, lira turun sangat signifikan pekan ini secara berturut-turut. Sepanjang tahun ini saja lira sudah anjlok sekitar 75% terhadap dollar, posisi terburuk sepanjang sejarah.

Di India,  rupee telah kehilangan hampir 12% terhadap dolar AS di tengah meningkatnya permintaan importir untuk mata uang asing karena harga minyak yang lebih tinggi, tingginya arus keluar modal dan kuatnya permintaan doar. Rupee terpuruk  ke posisi 70.81.

Demikian juga dengan mata uang Indonesia, rupiah  anjlok hingga ke posisi terendah dalam 3 tahun  titik terendah dalam tiga tahun. Dan sepanjang tahun ini rupiah sudah turun hingga 8,5%. Selain itu peso Filipina terpantau juga sudah anjlok 7 persen lebih sepanjang tahun terhadap dolar AS.

Melihat indeks Mata Uang Emerging Markets MSCI juga terpantau telah menurun 2,1 persen sejak awal bulan Agustus, dan telah anjlok 5,1 persen sejak awal tahun ini. Melihat kondisi fundamental global sepertinya indeks ini akan terus menurun.

Mata uang negara EM  ini telah berjuang dengan kenaikan suku bunga AS sejak awal tahun yang terlihat dari defisit neraca fiskal dan neraca berjalan negara mereka. Selain krisis perdagangan global yang sedang mencuat, harga minyak mentah turut membuat arus keluar cukup deras terjadi di pasar keuangan negara-negara tersebut.

Negara berkembang yang neraca berjalannya masih defisit sangat terbebani oleh kenaikan harga minyak. Harga minyak yang lebih mahal membuat tagihan impor yang lebih tinggi untuk negara-negara yang merupakan pengimpor minyak bersih. Sehingga menyebabkan defisit neraca berjalan untuk ukuran arus barang, jasa, dan investasi di dalam dan di luar negeri semakin membengkak.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here