Market Outlook, 3-7 september 2018

480

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu pasar modal di Indonesia masih berlanjut menguat walau ada sedikit koreksi searah dengan peningkatan di bursa kawasan Asia. Secara mingguan IHSG ditutup menguat ke level 6,018.460. Untuk minggu berikutnya (3-7 September) IHSG kemungkinan memasuki konsolidasi sejenak dan bisa menguat terbatas dengan tetap mengacu kepada bursa kawasan juga. Secara mingguan, IHSG berada antara support level di posisi 5934 dan kemudian 5689, sedangkan resistance level di 6086 dan kemudian 6117.

Mata uang rupiah secara mingguan bergerak melemah ke level Rp14,725 sementara dollar juga beranjak naik lagi di tengah tensi perang dagang yang baru. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,735 dan 14,784, sementara support di level 14,543 dan 14,368.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing pada Selasa malam; disambung dengan rilis ADP Non-Farm Employment Change, ISM Non-Manufacturing PMI, dan Crude Oil Inventories pada Kamis malam; berikutnya data Non-Farm Employment Change dan Unemployment Rate pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Senin sore; selanjutnya rilis Services PMI Inggris pada Rabu sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman RBA Rate Statement (Australia) pada Selasa siang yang diperkirakan bertahan di level 1.50%.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar rebound dari tekanan di akhir minggu oleh meningkatnya tensi dagang kali ini antara AS dan Uni Eropa walau masih membukukan loss mingguan, dimana indeks dolar AS secara mingguan tergerus tipis ke 95.11. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau melemah ke 1.1601, karena dolar AS yang balik terkoreksi, walau masih dalam tekanan oleh exposure kredit perbankan terhadap Turki. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level support pada 1.1529 dan 1.1300, sementara resistance pada 1.1709 dan kemudian 1.1790.

Poundsterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2957 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3042 dan kemudian 1.3212, sedangkan support pada 1.2804 dan 1.2661. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 111.08.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 112.14 dan 113.13, serta support pada 109.77 serta level 109.36. Sementara itu, Aussie dollar terpantau merosot ke level 0.7190. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7381 dan 0.7452, sementara support level di 0.7159 dan 0.7144.

 

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat oleh pasar yang sempat diwarnai sentimen positif –mengikuti Wall Street- oleh kesepakatan dagang AS – Mexico dan kemudian Canada. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau menguat ke level 22840. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23030 dan 23045, sementara support pada level 22050 dan lalu 21850. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 27840. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28656 dan 29094, sementara support di 26829 dan 26376.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat dan membukukan gain bulan Agustus terbaik dalam empat tahun terakhir dengan kesepakatan dagang Antara AS dengan Mexico dan Canada. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 25790,35, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 25800 dan 25900, sementara support di level 24961 dan 24659. Index S&P 500 minggu lalu menguat dalam rekor ke level 2874,69, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2885 dan 2900, sementara support pada level 2797 dan 2770.

 

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau masih melemah dan mencatatkan loss bulanan yang terpanjang dalam 5.5 tahun terakhir, sehingga harga emas spot turun terbatas ke level $1200.57 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1234 dan berikut $1265, serta support pada $1159 dan $1122.

 

Anda mungkin pernah memerhatikan bagaimana derasnya dana asing masuk ke pasar modal dan pasar uang Indonesia, lalu kadang dengan deras pula dana-dana itu lari keluar. Memang demikianlah pergerakan dana investasi global yang disebut “hot money” itu. Begitu cepatnya mengalir ke berbagai instrumen investasi menembus batas-batas antar negara. Begitu cepat masuk, mampir, keluar dan akan begitu cepat pula mengalami “switching” dari satu asset ke asset lainnya, serta dari satu negara ke negara lainnya. Itu sebabnya kita perlu mempelajari dinamika portfolio investasi, baik dari sisi jenis, jangka waktu, tingkat risiko, typical, dll. Simak terus vibiznews.com dan jadilah investor yang sukses. Salam sukses bagi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here