Pasar Asia Dibuka Merah, Perekonomian Global Masih Rapuh

226

(Vibiznews – Index) – Ekuitas global masih di bawah tekanan dengan saham di Asia turun untuk hari keenam pada Kamis di tengah kepercayaan investor yang rapuh dan di tengah gejolak di pasar negara berkembang dan kecemasan tentang eskalasi besar dalam konflik perdagangan AS-China.

Nikkei Jepang, N 225 tergelincir 0,58 persen sementara saham Australia turun 0,95 persen. Investor fokus pada perang perdagangan China dan AS dimana Amerika Serikat mulai memberlakukan tambahan tariff atas nilai impor dari China senilai $ 200 miliar pada hari Kamis ini.

Diukur terhadap sekeranjang mata uang, indeks dolar DXY mundur 0,2 persen dari posisi tertinggi dua minggu yang dicapai pada awal pekan ini.

Semalam di Wall Street, S & P 500 kehilangan 0,3 persen dan Nasdaq Composite .IXIC tergelincir 1,2 persen sementara indeks Dow DJI mengalami titik terang, naik 0,1 persen.

Krisis keuangan di Argentina dan Turki telah mengirim dampak buruk di banyak negara berkembang lainnya dan di Indonesia bank sentral telah melakukan intervensi beberapa kali dalam beberapa pekan terakhir untuk membendung anjloknya nilai mata uang rupiahnya.

Indeks mata uang negara berkembang berada di dekat posisi terendah 15 bulan setelah dua hari berturut-turut mengalami penurunan besar.

Di tempat lain, sterling GBP = naik untuk hari kedua karena investor melihat adanya harapan kemajuan dalam hasil-hasil perundingan Brexit.

Nilai tukar Aussie, dolar Australia menguat di $ 0,7206 karena sentimen didorong oleh data pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari yang diperkirakan pada Rabu.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS CLcv1 menurun 21 sen menjadi $ 68,51 per barel sementara Brent LCOcv1 turun 24 sen pada $ 77,03.

Harga emas di pasar spot XAU = naik 0,3 persen pada $ 1,199.63 per ounce.

Selasti Panjaitan/VBN/Coordinating Partner of Wealth Planning Services
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here