Outlook Harga Emas Jangka Pendek

392

(Vibiznews- Column) Harga emas turun secara moderat dan harga perak turun tajam pada awal perdagangan sesi Amerika Serikat pada hari Jumat minggu lalu, tertekan oleh indeks dolar AS yang menguat dan turunnya harga minyak mentah secara tajam.

Emas berjangka bulan Desember terakhir turun $5.60 per ons pada $1,222.40. Perak Comex bulan Desember terakhir turun $0.257 pada $14.245 per ons.

Harga minyak mentah berjangka Nymex turun tajam pada hari Jumat minggu lalu dan menyentuh kerendahan selama 13 bulan di $51.73 per barel. Penurunan yang tajam dari harga minyak membuat para trader pasar saham menjadi tidak tenang, meskipun kenyataan bahwa turunnya harga minyak eceran akan mendorong naik belanja konsumen, terutama di Amerika Serikat.

Selain itu indeks dolar As diperdagangkan naik dan tidak jauh dibawah dari ketinggian 1,5 tahun pada bulan ini.

Pasar saham Eropa bercampur pada hari Jumat malam. Sementara saham Asia kebanyakan turun. Pasar Jepang tutup untuk liburan publik. Indeks saham AS mengarah turun pada pembukaan perdagangan New York. Kerugian baru-baru ini telah menghapuskan keuntungan dari indeks saham AS pada tahun ini. Tekanan jual yang menguat pada saham AS hari Jumat yang lalu kemungkinan bisa memicu minat pembelian safe-haven di pasar emas dan perak.

Perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina tidak membaik dan malah bisa meningkat. Laporan-laporan mengatakan Amerika Serikat sedang berbicara dengan sekutu-sekutunya untuk memboikot perusahaan tehnologi Cina karena resiko keamanan cyber. Berita ini menyusul laporan pertengahan minggu dari perwakilan perdagangan Amerika Serikat yang menuduh Cina terus mencuri tehnologi AS dan memata-matai Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat Trump dan Presiden Cina Xi diskedulkan untuk bertemu muka dengan muka di Argentina minggu ini.

Faktor Turunnya Harga Minyak

Sekali lagi, turunnya harga minyak mentah mendominasi pasar komoditi, menebarkan bayangan hitam bahkan terhadap asset safe-haven seperti emas. Para analis mencatat karena minyak adalah komponen yang signifikan di dalam banyak indeks, akan sulit bagi harga emas untuk melawan tren pelemahan harga.

Harga emas berakhir pada minggu lalu dengan hanya mendapatkan keuntungan yang kecil karena harga emas tidak bisa menembus keatas “resistance” awal pada $1,230 per ons.

Penurunan harga minyak secara masif yang hampir mencapai 7% pada hari Jumat minggu lalu ke kerendahan selama 1 tahun, terus membuat harga emas seperti tertutup tutupan untuk naik.  Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bulan Januari terakhir diperdagangkan pada $50;74 per barel.

Eugen Weinberg, kepala riset komoditi di Commerzbank berkata bahwa tidak hanya harga minyak  membebani sentimen investor diseluruh pasar komoditi, namun pergerakan turun harga minyak juga membuat faktor negatif terhadap harga emas karena harga minyak mentah yang rendah akan mempengaruhi ekspektasi terhadap inflasi.

Jasper Lawler, kepala riset di London Capital Group, menyetujui bahwa sulit bagi emas untuk mengalami rally dengan pasar minyak yang lemah, namun, meningkatknya ketidak pastian dalam ekonomi global menciptakan lingkungan yang memaksa orang untuk mencari asset “safe-haven”.

Jasper berkata,”Emas memegang daya tariknya sendiri, namun, sulit untuk membeli metal berharga ketika kondisi komoditi secara keseluruhan berada dalam kekacauan. Saya pikir emas akan berkonsolidasi disekitar $1,240 untuk sementara waktu, tetapi kita akan melihat tekanan beli mulai terbangun.”

Lawler menambahkan bahwa meskipun harga minyak berada dalam kerendahan selama 1,5 tahun, dia memperkirakan harga emas akan terus berada diatas $1,200 per ons dalam jangka pendek.

Dia mengatakan,”setiap orang sedang meng-asses ulang perkiraan terhadap pertumbuhan global. Pasar selama ini sedang melihat posisi kerendahan yang lebih tinggi, namun sekarang yang kita perlu lihat adalah posisi ketinggian yang lebih tinggi dan saya pikir hal ini pada akhirnya akan terjadi.”

Emas Sedang Melakukan Apa Yang Diharapkan

Walaupun turunnya harga minyak menutup kenaikan harga emas di dalam jangka pendek, Ole Hansen berkata bahwa investor kemungkinan akan berharap sedikit lebih banyak dari pasar emas.

Dia menambahkan dia melihat emas sedang melakukan apa yang diharapkan untuk dilakukan, bertindak sebagai lindung nilai terhadap bertambahnya ketidak pastian ekonomi global.

Weinberg mengatakan bahwa meskipun ada tantangan yang dihadapi oleh para investor emas, dia tetap optimis mengenai metal kuning dalam jangka pendek. Dia menambahkan bahwa bergesernya ekspektasi disekitar ekonomi AS dan tingkat bunga dari Federal Reserve akan memukul dolar AS dan mendukung harga emas. Berlanjutnya ketidakpastian akan terus menguntungkan harga emas. Dengan diketahuinya resiko di dalam pasar keuangan, harga emas seharusnya naik lebih tinggi. “Kami melihat akan ada banyak badai bagi dolar AS kedepannya,” kata Weinberg.

Ekspektasi Perlambatan Pertumbuhan Global

Walaupun pasar terus memasukkan dalam perhitungan harga, tingkat kenaikan bunga pada bulan Desember dan dua kenaikan lagi pada tahun depan, ekspektasinya telah turun untuk pengetatan lebih jauh selama tahun 2019.

Ekonomis di Nomura mengatakan,”Nampaknya pergeseran di dalam retorika Federal Reserve sedang berlangsung. Kami berpikir efek bersih dari argument-argumen yang diangkat oleh Powell di dalam komentar-komentarnya belakangan ini mengandung arti diperkirakan melambatnya kecepatan dari kenaikan tingkat bunga pada tahun depan.”

Melemahnya Harga Saham Mendukung Harga Emas

Keprihatinan akan pertumbuhan ekonomi global bisa terlihat juga di dalam pasar saham dengan para investor terus mengurangi eksposur mereka terhadap asset-asset yang beresiko. Minggu lalu saja, para investor telah melihat bagaimana S&P 500 menyerahkan semua  keuntungannya yang diperoleh sejak awal tahun, turun hampir 3.5% dan melanjutkan kerugian selama tiga minggu bertutur-turut. Indeks saham terakhir diperdagangkan di 2632.

Mike McGlone, ahli strategi komoditi senior di Bloomberg Intelligence, berkata bahwa dia bisa melihat S&P 500 jatuh ke 2400 sebelum tren penurunan sekarang ini berakhir. Dia berkata,”Emas akan bersinar dibandingkan dengan saham, khususnya jika dolar AS berhenti maju. Pasar saham AS yang menurun adalah kekuatan utama yang akan menekan dolar AS dan mendukung metal. “

Namun, menurut sebagian ekonom, pasar saham bisa memperbaiki keberuntungannya jika pertemuan G-20 merilis komentar-komentar yang positip atas perdagangan global.

Wall Street & Main Street Bullish

Wall Street dan Main Street dua-duanya “bullish” terhadap arah harga emas jangka pendek, berdasarkan survei emas mingguan dari Kitco news.

Dari enam belas professional pasar yang mengambil bagian di dalam survei Wall Street, delapan responden atau 50% memprediksi harga emas akan naik sampai hari Jumat. Ada tiga atau 19% yang memberikan suara turun, sementara lima responden atau 31% memperkirakan “sideways”.

Sementara, dari 524 orang yang merespon ke polling Main Street online, 310 responden aau 59% memperkirakan emas akan naik. 122 atau 23% memprediksi emas akan turun. Sisanya sebanyak 92 pemberi suara atau 18% memandang sebagai pasar “sideways”.

Bob Haberkom, broker komoditi senior dari RJO Futures, berpindah dari memandang sebagai “bearish” pada minggu yang lalu menjadi “bullish” sekarang ini. Dia menyebutkan ekspektasi akan berlanjutnya volatilitas di saham dan juga menunjukkan bahwa pasar keuangan mulai menurunkan angka ekspektasi dari kenaikan tingkat bunga dari Federal Reserve.

Phil Flynn, analis pasar senior dari Price Futures Group, juga memandang emas akan naik dengan pemikiran the Fed kemungkinan tidak akan agresif seperti yang dipikirkan sebelumnya.

Flynn berkata,”Volatilitas pasar telah merendahkan kemungkinan kenaikan tingkat bunga yang agresif yang akan menekan turun dolar AS dan mendorong naik emas minggu ini.”

Ricky Ferlianto/VBN/Head of III, Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here