Potensi Target Pasar Kredit Perbankan 2019, ke Mana?

956

(Vibiznews – Banking) – Dari sisi ekonomi domestik maupun global, tahun 2019 dipandang banyak kalangan sebagai penuh dengan tantangan. Bagi perbankan di Indonesia, 2019 juga dilihat bukan sebagai tahun yang mudah. Setidaknya dua risiko utama harus dihadapi, yaitu risiko lilkuiditas, terkait dengan tren pengetatan kebijakan moneter –yang terjadi secara global dan domestik juga. Yang kedua, risiko kredit itu sendiri, sehubungan dengan tekanan eksternal dan internal terhadap perekonomian dalam negeri.

Dalam beberapa rilis pengumuman perbankan belakangan ini terpantau bahwa target pertumbuhan kredit untuk tahun 2019 agaknya lebih rendah dari target tahun 2018. Jika menjelang tahun 2018 secara umum bank-bank mematok angka pertumbuhan 10% – 15% setahunnya, maka untuk tahun 2019 beberapa bank besar memasang angka 10% – 12% untuk pertumbuhan kreditnya.

 

Gejolak 2018 akan Berlanjut

Tahun 2018 ini dilewati dengan banyak gejolak perekonomian. Konflik berupa perang dagang antara AS dan China selalu menjadi headline berita ekonomi sedunia. Sikap pemerintah Amerika yang lebih “America first” tentunya berdampak bukan hanya bagi ekspor China ke AS, tetapi juga ekspor negara-negara berkembang, termasuk dari Indonesia yang sedang menghadapi tekanan defisit neraca berjalan pula.

Perang dagang telah memicu gejolak dinamika aset investasi global. Permintaan US dollar sebagai safe haven asset meningkat secara signifikan, menggeser permintaan emas dunia yang biasanya jadi primadona safe haven. Dampak lainnya adalah terjadi volatilitas di pasar uang dunia.

Mata uang negara-negara berkembang terpukul oleh penguatan dollar secara luas. Rupiah pun, kita tahu, sempat terdepresiasi sekitar 7,5 persen. Sejumlah mata uang lain bahkan lebih parah tekanannya. Seperti misalnya rupee India (9,7 persen), rand Afrika Selatan (minus 15,98 persen), real Brazil (minus 20,26 persen), lira Turki (40 persen) dan peso Argentina (37 persen).

Selain itu, masalah pengetatan kebijakan moneter global. Sebagaimana diketahui, Federal reserve AS tahun 2018 ini telah tiga kali menaikkan suku bunganya, dan diperkirakan akan menaikkannya lagi, satu kali, di bulan Desember, menjadi 2,5%. Pengetatan kebijakan moneter di AS diprediksi secara luas akan berlanjut lagi, setidaknya sampai tahun 2020. Meskipun belakangan muncul prediksi bahwa the Fed mungkin akan terpaksa agak mengerem laju kenaikan bunga ini karena isyu pelambatan ekonomi di Amerika.

Kenaikan bunga the Fed diperkirakan akan menjadi motor dari kenaikan –atau dapat disebut sebagai “normalisasi”- suku bunga secara global, termasuk Bank Indonesia. BI sendiri tercatat telah menaikkan suku bunganya, BI 7 Day Repo Rate, enam kali di tahun 2018 ini, dari 4,25% menjadi 6,00%. Diprediksi, kemungkinan di tahun depan BI 7 Day Repo Rate akan menyentuh setidaknya level 6,50% atau lebih.

Tekanan moneter dengan sendirinya mengerek suku bunga perbankan dalam negeri, baik di sisi DPK (dana pihak ketiga) maupun kredit. Bunga deposito bank telah naik di tahun ini setidaknya sekitar 125 bp (1,25%) di beberapa bank besar dan lebih untuk banyak bank lainnya. Sementara suku bunga kredit di 2018 ini juga sudah naik setidaknya 2 atau 3 kali, bahkan lebih.

Sejumlah tantangan di atas: tekanan dan volatilitas mata uang, tren kenaikan bunga, hambatan kinerja ekspor, nampaknya akan berlanjut di tahun 2019. Ketidakpastian dan pelambatan ekonomi global kemungkinan akan bertambah.

Dan di dalam negeri, kita akan menghadapi secara bersama tahun 2019 sebagai tahun politik. Kita tahu, biasanya dunia usaha akan bersikap sejenak “wait and see”, memastikan perkembangan dan arah ekonomi dan politik berikutnya, apakah kondusif atau tidak.

 

Infrastruktur Akan Menuai Dampaknya

Secara umum, kembali, tantangan risiko besar yang dihadapi perbankan tahun 2019 terutama adalah risiko likuiditas dan risiko kredit. Pertumbuhan kredit akan menjadi isyu yang menantang bagi banyak direksi bank. Bank tetap harus menggenjot kredit, tetapi kehati-hatian harus semakin dikedepankan.

Dalam situasi yang demikian, sektor usaha mana yang kiranya masih punya potensi besar bagi pembiayaan bank?

Di tengah ketidakpastian perekonomian global, maka industri dan bisnis yang bertumpu pada ekonomi domestik harusnya relatif lebih aman di tahun 2019. Ekonomi di Indonesia juga bukan ditopang oleh kinerja ekspor, tetapi lebih oleh komponen dalam negeri, terutama sektor konsumsi dan investasi.

Di samping itu, kita melihat bahwa pemerintahan Presiden Jokowi telah gencar membangun infrastruktur di seantero negeri. Dampak dari infrastruktur memang tidak langsung terlihat. Pasti ada jarak waktu (time lag) dari konstruksi sampai kemudian ekonomi setempat bergerak ditopang infrastruktur.

Di tahun 2019 depan, dampak dari pembangunan infrastruktut itu seyogyanya akan semakin terasa. Roda ekonomi harus sudah mulai bergerak lebih cepat. Kecuali, misalnya, terhambat panasnya tensi dunia politik.

Melihat itu semua, sektor infrastruktur masih merupakan sektor yang menarik untuk dibiayai. Perbankan juga nampaknya melihat ini sebagai peluang. Sejumlah bank yang sebelum ini tidak atau belum terlibat dalam pembiayaan infrastruktur, belakangan ini semakin menaruh perhatian untuk lebih terlibat dalam sektor ini.

 

Basis Domestik

Sektor lain yang kiranya patut dijadikan target adalah makanan dan minuman, mengingat populasi penduduk yang besar dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Serta juga, sektor retail, dengan besarnya populasi middle income di Indonesia.

Sektor industri manufaktur, sepanjang berbasis konsumen dalam negeri, diperkirakan juga masih potensi untuk dibiayai. Bank untuk ini memiliki keahlian tersendiri dalam analisis bisnis dan prospek sektor ini. Kalaupun ada target ekspor, perlu diperhatikan bahwa sudah merupakan captive market dalam jangka lama.

Sektor transportasi juga dapat dipertimbangkan sebagai potensial. Ini mengingat kondisi demografis kepulauan di Indonesia yang dengan sendirinya memicu demand kuat untuk transportasi udara, laut, dan darat. Hanya saja, skill dan knowledge yang relevan perlu ditingkatkan bagi SDM perbankan, mengingat nilai finansial yang yang besar bila ada mismanajemen dan gagal dalam risiko operasional.

Bagaimana dengan sektor komoditas dan pertambangan? Untuk ini agaknya perbankan perlu cukup selektif. Merosotnya harga minyak bumi di tahun ini kemungkinan akan rebound di tahun depan. Itu akan dapat memicu kenaikan harga di beberapa produk komoditas kita, seperti CPO. Selain itu pasar ekspor untuk komoditas dan pertambangan kemungkinan masih diwarnai sejumlah gejolak dan ketidakpastian.

 

Kemampuan untuk menganalisis industri dan perkembangan risikonya perlu semakin dipertajam insan perbankan dalam negeri. Ini mengingat dinamika dan gejolak industri di tahun 2019 yang tidak akan berkurang, bahkan mungkin bertambah dalam skala dan volatilitasnya. Akhirnya, bankir cerdas yang dapat membangun bank yang cerdas dan tahan uji.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here