Market Outlook, 7-11 January 2019

519

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu pasar modal di Indonesia bergerak menguat didukung data ekonomi yang positif di dalam negeri, seperti perkasanya rupiah dan rendahnya data inflasi, sementara bursa Asia agak variatif dan tertopang meredanya tensi perang dagang. Secara mingguan IHSG ditutup menguat signifikan 2.39% ke level 6,274.541, mencatat posisi 8 bulan tertingginya. Untuk minggu berikutnya (7-11 Januari 2019), IHSG kemungkinan akan sempat berhadapan dengan aksi profit taking mengingat posisi overbought-nya secara teknikal namun masih tetap bertenaga untuk lanjutkan garis uptrend, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6360 dan kemudian 6380, sedangkan support level di posisi 6094 dan kemudian 6014.

Mata uang rupiah secara mingguan tampil gagah perkasa ke level Rp14,345, sementara dollar di pasar global cenderung jinak dengan spekulasi kemungkinan the Fed mengambil jeda dalam pengetatan moneternya. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,650 dan 14,930, sementara support di level Rp14,205dan Rp14,118.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Non-Manufacturing PMI pada Senin malam; disambung dengan rilis FOMC Meeting Minutes pada Kamis dini hari; berikutnya pidato Chairman the Fed Powell pada Jumat dini hari serta data Core CPI m/m pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis pidato Gubernur BOE Carney pada Rabu malam; diikuti dengan data GDP m/m Inggris pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Retail Sales m/m Australia pada Jumat pagi.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar melemah terpicu pernyataan Chairman the Fed yang akan “bersabar” mengamati perkembangan ekonomi dan mengindikasikan kemungkinan jeda dalam pengetatan moneter, dimana indeks dolar AS secara mingguan melemah ke 96.19. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau melemah ke 1.1394. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1499 dan kemudian 1.1549, sementara support pada 1.1269 dan 1.1214.

Poundsterling minggu lalu terlihat naik ke level 1.2798 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2937 dan kemudian 1.3174, sedangkan support pada 1.2433 dan 1.2365. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah tajam ke level 108.48.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 111.33 dan 122.59, serta support pada 106.61 serta level 105.13. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7112. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7246 dan 0.7393, sementara support level di 0.6826 dan 0.6666.

 

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia agak variatif dengan kawasan China menanjak karena ekspektasi pada negosiasi perdagangan AS – China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau melemah ke level 19515. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 21330 dan 21870, sementara support pada level 18945 dan lalu 18255. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 25577. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26585 dan 27270, sementara support di 25010 dan 24525.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat oleh melejitnya data penambahan tenaga kerja AS serta komentar Chairman the Fed Powell yang meredakan kekhawatiran akan kebijakan moneter ketat di tahun ini. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 23422.56, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 24045 dan 24823, sementara support di level 21708 dan 21278. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 2531,50, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2600 dan 2669, sementara support pada level 2347 dan 2322.

 

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau masih dalam rally di tengah melemahnya dollar, di sekitar posisi 7 bulan tertingginya, namun terkoreksi di hari terakhir oleh positifnya data tenaga kerja AS, sehingga harga emas spot menanjak ke level $1284.10 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistance di $1302 dan berikut $1308, serta support pada $1253 dan $1232.

 

 

Selamat kembali kepada “normal business days” pada minggu ini. Mungkin juga, ini merupakan “normal investing days” bagi Anda. Pada hari-hari ini gejolak pasar telah menjadi sesuatu yang semakin “normal”. Antara recovery dan crisis telah menjadi topik pembicaraan yang biasa oleh karena ramai dinamikanya. Mengawali tahun 2019 ini kelihatannya tidak bisa tidak investor harus semakin cerdas. Gejolak pasar harus dimanfaatkan, peluang pasar jangan sampai dilewatkan. Bukan masanya lagi undur dari pasar ketika volatilitas meningkat. Tetapi paralelnya, skill and knowledge harus ditambahkan, dilengkapi dan diasah. Jika tidak, Anda bisa tenggelam ditelan gelombang gejolak gunjang-ganjing pasar. Untuk hal itu, jadikan vibiznews.com sebagai partner Anda bergandengan tangan di dunia investasi. Mari melanjutkan sukses investasi Anda bersama kami di tahun 2019 ini. Terima kasih dan mari menuai sukses bersama, pembaca setia Vibiznews!

 

 

 

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here