Harga Emas Pada Tahun 2019 Bisa Mencapai $1,500?

659

(Vibiznews-Column) Rally dari harga emas telah meningkat sejak permulaan bulan Desember 2018.

Pada tanggal 5 Desember harga emas berjangka Comex bulan Februari terakhir diperdagangkan pada $1,244.40, naik 0.14% setelah pada tanggal 4 Desember menyentuh ketinggian selama lima minggu.

Analis metal berharga di Metal Bulletin, Boris Mikanikrezai menulis untuk media Seeking Alpha bahwa dua faktor terbesar yang kemungkinan akan terus menyetir harga emas naik lebih tinggi sampai akhir tahun 2018 adalah Federal Reserve dan gencatan senjata perang dagang AS dengan Cina. Menurut Mikanikrezai berbalik arahnya the Fed dan gencatan senjata perang dagang adalah kondisi yang kondusif bagi harga emas sampai akhir tahun.

Pada tanggal 10 Desember, emas mengalami minggu perdagangan yang bagus, ditutup dengan warna hijau pada hari Jumat minggu lalu setelah menyentuh level tertinggi di $1,254.30 per ons untuk pertamakalinya sejak bulan Juli 2017. Emas berjangka Comex bulan Februari terakhir diperdagangkan pada $1,254.20, naik 0.85% pada hari itu.

Sikap Federal Reserve Yang “Dovish”

Mikanikrezai mengatakan,”Berbaliknya the Fed ke sikap dovish pada akhir bulan November mengakibatkan tekanan turun lebih jauh atas dolar AS dan tingkat bunga riil AS dan dengan demikian mendorong permintaan untuk emas yang menghasilkan finish yang kuat pada akhir tahun 2018. “

Retorika the Fed telah beralih menjadi kurang “hawkish” belakangan ini dengan Gubernur Jerome Powell menyatakan bahwa kebijakan moneter bank sentral mendekati zona netral dan bahwa semua keputusan pada masa depan akan tergantung kepada data.

Pada hari Jumat tanggal 28 Desember, menjelang akhir dari tahun 2018, emas berjangka Comex bulan Februari menuju ke keuntungan bulanan ketiga berturut-turut, menyentuh ketinggian selama enam bulan di $1,284.70 per ons sebagaimana yang telah diprediksikan oleh para analis dan trader emas bahwa harga emas akan menjadi lebih kuat mengakhiri tahun 2018.

Wall Street Journal melaporkan,”Dengan strategi ketergantungan data, the Fed bisa mundur dari jalur yang telah diprediksi sebelumnya akan kenaikan tingkat bunga secara kuartalan yang telah dilakukan selama hampir dua tahun, menaikkan kemungkinan the Fed menunda kenaikan tingkat bunga pada masa yang akan datang.”

Menurut Mikanikrezai hal ini berarti atmosfir yang lebih disukai bagi emas. Dolar AS dan tingkat bunga riil AS berada dalam tekanan turun yang menghasilkan kenaikan permintaan moneter terhadap emas kuning yang signifikan.

Berdasarkan tren harga emas pada bulan-bulan menjelang akhir tahun 2018, emas akan memperbaharui kekuatannya pada tahun 2019 karena dua faktor terbesar yaitu melemahnya dolar AS dan sikap the Fed yang menjadi lebih “dovish”

Pembelian Oleh Bank-Bank Sentral

Ketidak pastian geopolitik dengan kelemahan ekonomi yang terus bertambah membuat metal berharga menonjol sebagai asset safe-haven yang nyata, menurut World Gold Council (WGC).

Di dalam interview dengan Kitco News, John Reade, kepala strategi pasar di WGC berkata bahwa dia melihat potensi pasar emas dengan para investor akan memiliki assets defensif yang semakin sedikit untuk dipilih pada tahun 2019 ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi diperkirakan akan menciptakan volatilitas pada pasar keuangan. Dia menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2018 para investor menemukan keamanan di pasar dolar dan saham AS, namun, kondisi pasar keuangan mulai kelihatan banyak berbeda memasuki tahun 2019. Apa yang pada mulanya kelihatannya seperti koreksi jangka pendek pada saham, sekarang kelihatan menjadi trend turun yang menguat dan dengan bertumbuhnya resiko ekonomi, emas mulai kelihatan sangat menarik.

Pasar saham berputar menjadi kondisi pasar yang “bearish” dan investor memiliki opsi “safe-haven” yang lebih sedikit, memasuki tahun yang baru. Dow Jones Industrial Average turun signifikan sejak mencatat rekor ketinggian beberapa bulan yang lalu. Dow Jones turun hampir 17% sejak rekor ketinggian pada bulan Oktober. Sementara S&P 500 turun hampir 18% dari ketinggian bulan September.

Jika perlambatan ekonomi berjalan dengan cepat atau asset beresiko turun tajam, investasi yang mengalir ke emas bisa menandingi yang terjadi selama krisis keuangan 2008-2009.

Namun, bukan hanya diversifikasi para investor eceran yang akan menggerakkan harga emas tahun 2019. Menurut Reade, disamping permintaan para investor, faktor yang paling signifikan yang menggerakkan emas pada tahun 2019 adalah pembelian yang berkelanjutan dari bank sentral.

Pada tahun lalu bank sentral membeli emas dengan kecepatan yang tercepat dalam hampir tiga tahun. Menurut statistik yang dikumpulkan oleh WGC, bank sentral global membeli emas total sebanyak 341.3 metrik ton. Sementara negara-negara seperti Rusia, Turki dan Kazakhstan melanjutkan membeli cadangan emas selama 2018, ditemani oleh National Bank of Poland, yang menaikkan cadangannya menjadi 116.7 ton, naik dari 13.7 ton. Bank sentral Hongaria menaikkan cadangan emasnya 10 kali lipat menjadi 31.5 ton. Bank sentral Mongolia membeli 12.2 ton emas di dalam delapan bulan pertama dari tahun lalu.

Melemahnya Pasar Saham

Walaupun tidak mengharapkan pesta kembang api di sektor metal berharga, analis dari Citi mengatakan bahwa mereka suka untuk membeli emas setiap mengalami kejatuhan dengan resiko geopolitik dan keuangan tetap membuat assets “safe-haven” berada di posisi beli di tahun 2019.

Analis dari Citi mengatakan,”Kami bullish secara moderat atas emas secara jangka menengah. Penurunan dari pasar saham AS yang meningkat frekuensinya, pembalikan dari Quantitative Easing yang bertahap, volatilitas pasar makro yang secara keseluruhan naik dan resiko geopolitik yang meningkat, semuanya akan terus memberikan emas pada posisi yang disukai untuk dibeli.”

Pada skenario dasarnya, Citibank melihat harga emas naik ke $1,300 per ons pada tahun depan dengan harga rata-rata setahun $1,265 per ons. Namun, bank ini juga melihat ada 30% kemungkinan harga emas naik ke $1,400 per ons pada kuartal ketiga tahun 2019 dengan rata-rata setahun $1,365 per ons.

Analis Citibank mengatakan,”Dorongan ke $1,300 – 1,400 per ons kelihatannya berkelanjutan jika saham-saham AS dan global memasuki pasar yang “bearish” atau ada dorongan yang substansial di dalam sentimen Emerging Market dan kelemahan dolar AS yang tidak diantisipasi karena kesepakatan perdagangan AS dengan Cina yang material di kuartal pertama pada tahun 2019.”

Menurut Citibank, ancaman terbesar di pasar emas tetaplah dolar AS. Namun, dolar AS bisa menjadi berkurang sebagai faktor penentu harga metal berharga jika pasar saham terus mengalami penurunan.

Menurut riset bank Citi yang terakhir, ketidak pastian ekonomi bisa menjadi faktor terbesar yang menyetir harga emas naik lebih tinggi pada tahun 2019. Para analis mencatat bahwa rata-rata harga emas telah naik 7% ketika S&P 500 telah jatuh lebih dari 12%.

Pada tanggal 28 Desember 2018, harga emas diperdagangkan pada level tertinggi dengan pasar saham terpelintir ke teritori pasar yang “bearish”. S&P 500 turun hampir 15% dari rekor ketinggian yang terlihat pada bulan September. Emas berjangka bulan Februari terakhir diperdagangkan pada $1.279.60 per ons, turun 0.12% pada hari itu.

Pembelian Dari Cina & India

Menurut Dutch Bank ABN AMRO, minat yang baru di emas pada dua pasar yang penting akan membantu membalikkan keberuntungan di dalam metal berharga pada tahun 2019.

Georgette Boele, koordinator dari strategi metal berharga dan FX pada ABN AMRO berkata di dalam laporannya pada hari Rabu bahwa mereka “bullish” untuk emas dan perak pada tahun 2019 karena melihat minat yang baru di dalam metal berharga dari pasar “emerging”, khususnya India dan Cina, dua negara yang mengkonsumsi emas terbesar di dunia.

Boele mengatakan bahwa pasar domestic Cina dan India diperkirakan bertumbuh pada tahun 2019 dengan matauang kedua negara pulih dari tahun yang suram. Walaupun otoritas Cina telah mengijinkan matauang mereka untuk jatuh pada tahun 2018 untuk menghaluskan pengaruh dari perang dagang global yang berkelanjutan, Boele mengatakan bahwa tahun 2019 hanya tinggal ada sedikit ruang bagi Yuan untuk turun lebih jauh.

Dia mengatakan,”otoritas Cina sangat berhati-hati dalam hal mengijinkan matauangnya melemah melewati 7.00 versus dolar AS, karena resikonya cukup tinggi sehingga mereka bisa kehilangan control atas matauang mereka. Pelemahan Yuan Cina melewati 7 terhadap dolar AS bisa memicu dan menyebarkan spekulasi pelarian modal dan mereka akan memilih menghindari hal itu, paling tidak sekarang. Dengan latarbelakang ini, kami memperkirakan bahwa Yuan Cina akan pulih pada tahun 2019. Ini akan membuat investor menjadi tenang dan memperbaiki sentimen terhadap emas.”

Boele mengatakan bahwa mereka juga melihat “rebound” di Rupee India, yang menyentuh kerendahan sepanjang waktu terhadap dolar AS pada musim panas tahun lalu.

Bank ini juga melihat potensi permintaan investasi yang diperbaharui dengan mereka memperkirakan turunnya imbal hasil obligasi AS dan melemahnya dolar AS pada tahun 2019. Boele mengatakan bahwa mereka memperkirakan Federal Reserve hanya akan bisa menaikkan tingkat bunga satu kali saja pada tahun 2019 dengan ekonomi AS mulai melambat. Hal ini akan menahan naiknya tingkat bunga riil sehingga imbal hasil riil kemungkinan tidak naik. Semua faktor ini mendukung pandangan kami bahwa dolar AS telah mencapai puncak dan akan melemah pada tahun 2019 dan 2020 dan karenanya harga emas akan mengalami “rally” pada tahun 2019.

Melemahnya Dolar AS & RendahnyaTingkat Bunga Riil AS

Menurut riset yang terakhir dari analis Bank of American Merrill Lynch (BoAML), investor yang mencari komoditi yang “bullish” pada tahun 2019 harus melihat kepada emas.

Di dalam presentasi teleconference minggu lalu, Michael Widmar, ahli strategi metal pda BOA mengatakan bahwa melemahnya dolar AS, naiknya inflasi dan bagaimana tingkat bunga riil yang rendah akan menggerakkan harga emas naik lebih tinggi pada tahun 2019.

Di dalam outlook akhir tahunnya, BOA melihat harga emas rata-rata akan berada disekitar $1,296 per ons dengan kenaikan harga bisa mencapai $1,400 per ons selama tahun 2019.

Di dalam presentasenya, Widmer mencatat bahwa pada tahun lalu, tiga faktor bekerja berkoloborasi satu dengan yang lain yang membawa harga emas turun, tingkat bunga riil naik, pertumbuhan ekonomi AS positip dan dolar AS kuat.

Namun, memasuki tahun yang baru 2019, dia menambahkan bahwa tren ini semua sudah berbalik.

Bersamaan dengan berbaliknya gelombang di dalam tingkat bunga AS dan kekuatan dolar AS, BOA melihat meningkatnya volatilitas keuangan yang mendorong harga emas naik pada tahun 2019. Bank of America juga melihat volatilitas yang lebih tinggi dengan likuiditas global terus mengetat.

Main Street Dari Survey Kitco News

Survey harga emas tahunan dari Kitco News menunjukkan bahwa investor eceran sangat “bullish” terhadap emas pada tahun 2019. Dari hampir 5000 orang yang berpartisipasi pada polling onlinenya Kitco, 1.640 partisipan, atau 34% melihat harga emas terdorong keatas $1,500 per ons sampai akhir tahun 2019.

Namun penurunan harga emas tidak seluruhnya lenyap dengan 18% atau 868 pemberi suara melihat harga emas akan jatuh dibawah $1,100 per ons pada akhir dari tahun 2019.

Hanya 7% dari responden atau 329 pemberi suara melihat harga emas bertengger disekitar level sekarang sedikit dibawah $1,300 per ons.

Main Street lebih “bullish” secara signifikan dibandingkan dengan analis dari Wall Street. Menurut laporan outlook yang direview oleh Kitco News, kebanyakan institusi keuangan memperkirakan harga emas hanya akan sedikit naik pada tahun 2019, dengan banyak bank memperkirakan harga emas rata-rata disekitar $1,300 per ons.

Bank of American Merrill Lynch dan Dutch Bank ABN AMRO adalah diantara institusi yang paling “bullish” terhadap emas pada tahun 2019, dengan kedua-duanya melihat harga emas bisa mencapai $1,400 ons.

Siklus “Bullish” Yang Baru

EB Tucker, Direktur dari Metalla Royalty & Streaming, mengatakan bahwa pada tahun 2019 kita akan melihat siklus “bullish” yang baru bagi emas dan akan mendorong metal berharga ini naik sampai $1,500 per ons.

Tucker mengatakan kepada Kitco News pada tanggal 5 Desember 2018,”Untuk membuat uang yang besar pada pasar ini, kita harus melihat kepada siklus. Tidak ada yang berubah. Kita telah melihat tiga siklus besar dari emas sejak tahun 2000 dan kita akan mendapatkan satu yang berikutnya.”

Tucker berkata bahwa puncak dari siklus berikutnya bisa mencapai $1,900 per ons, namun itu tidak akan terjadi pada tahun 2019 ini.

Dia mengatakan,”Kita akan melihat emas mencapai $1,500 pada tahun 2019, hal ini berarti peningkatan harga emas sebanyak 22%, ini akan menjadi satu dari pasar dengan “performance” yang paling baik, di dalam tahun dimana pasar saham sangat, sangat volatil.”

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here