Infrastruktur Mendongkrak Industri Properti; TOD Ramai Dibangun

595

(Vibiznews – Property) – Sebagian di antara karya fenomenal dalam pemerintahan di bawah Presiden Jokowi selama 4 tahun lebih terakhir adalah pembangunan infrastruktur besar-besaran. Di antaranya, total panjang jalan yang telah dibangun dalam era pemerintahannya tercatat 8.448 km, sehingga panjang jalan di Indonesia pada akhir 2018 menjadi 47.017 km.

Demikian pula, Pemerintah disebutkan telah membangun 436 km jalan tol hanya dalam waktu 4 tahun. Pembangunan jalan tol ini akan terus berlanjut, sehingga pada 2019 total panjang jalan tol nasional akan mencapai 1.851 km.

Sebagaimana juga diketahui, pada tahun 2019, Pemerintah menganggarkan dana APBN untuk infrastruktur sebesar Rp415 triliun, naik 1,04% dari anggaran infrastruktur tahun sebelumnya. Anggaran akan digunakan antara lain untuk pembangunan jalan sepanjang 1.835 kilometer serta jembatan sepanjang 37.177 meter.

Infrastruktur Perumahan Lampaui Target

Selain itu, anggaran infrastruktur juga dialokasikan untuk untuk sektor perumahan, melalui Program Satu Juta Rumah. Sejak dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 April 2015, Program Satu Juta Rumah terus meningkat. Dari tahun 2015 sebanyak 699.770 unit, lalu tahun 2016 sebanyak 805,169 unit dan tahun 2017 sebanyak 904.758 unit.

Kemudian di tahun 2018, akhirnya capaian Program Satu Juta Rumah melampaui target dan tercatat terbangun 1.132.621 unit. Secara keseluruhan dari tahun 2015 hingga dengan tahun 2018 telah terbangun 3.542.318 unit rumah.

Pada tahun 2019, Kementerian PUPR pun menaikan target Program Satu Juta Rumah menjadi sebesar 1,25 juta unit.

Korelasi Properti

Lalu, bagaimana keterkaitan antara pembangunan infrastruktur besar ini dengan industri properti di Indonesia? Sangat dekat korelasinya.

Beberapa waktu lalu, Country Manager Rumah.com, Marine Novita menjelaskan kepada media pers pembangunan infrastruktur khususnya di bidang transportasi sangat menunjang berkembangnya industri properti di Indonesia.

“Seiring makin majunya sarana transportasi di kota-kota besar di Indonesia, orang semakin menyadari praktisnya beraktivitas menggunakan transportasi umum, terutama aktivitas reguler seperti ke kantor. Di Jabodetabek, misalnya, mereka yang rumah dan kantornya dekat stasiun commuter line memilih transportasi umum, meskipun mereka punya mobil sendiri. Selain praktis, menggunakan transportasi umum juga relatif lebih hemat,” terang Marine.

Mengutip hasil survei dari Rumah.com Property Affordability Sentiment Index yang surveinya diambil pada semester satu 2018, tampak adanya kecenderungan yang terpantau, dimana 61% dari 1000 responden menganggap jarak hunian terhadap sarana transportasi umum seperti halte atau stasiun sebagai faktor yang sangat penting sebelum memutuskan membeli hunian.

Marine kemudian menjelaskan lagi, “Pembangunan infrastruktur juga menjadi stimulus pertumbuhan suplai hunian karena wilayah-wilayah yang tadinya dianggap antah-berantah, menjadi terasa lebih mudah dijangkau. Sebagai contoh, Kecamatan Serpong di wilayah Tangerang Selatan kini tumbuh menjadi salah satu kawasan hunian favorit. Sekarang, Bekasi yang dulu dijauhi mulai kini makin diminati setelah pembangunan sejumlah jalan tol dan Light Rail Transit (LRT).”

Contoh lain yang ditunjukkan adalah Kawasan Jakarta Timur. Rumah.com Property Index mencatat kenaikan indeks harga properti Jakarta Timur meningkat sebesar 48% sejak awal tahun 2015 atau dimulainya pembangunan LRT, hingga akhir tahun 2018. Kenaikan ini hampir dua kali lipat kenaikan indeks harga properti DKI Jakarta secara keseluruhan, yang mencapai 27%.

TOD Marak Dibangun

Dari kecenderungan yang ada ini, tidak heran bila sejumlah pengembang memasarkan propertinya dengan menjual kedekatan lokasinya terhadap transportasi umum. Contohnya lagi di Citra Maja Raya, dimana kawasan hunian seluas 2000 hektare ini dibangun berbasis kepada Transit Oriented Development (TOD) dengan Stasiun Maja sebagai simpul transportasinya (hub).

Konsep TOD ini mengintegrasikan dan mendekatkan transportasi massal dengan kawasan hunian.

Analis Vibiz Research melihat sebelumnya juga dari kelompok pengembang BUMN Karya sudah mengembangkan proyek-proyek berbasis Transit Oriented Development (TOD). Dan untuk tahun ini BUMN Karya disebut telah menyiapkan total dana lebih dari Rp2 triliun untuk mengembangkan proyek TOD ini.

Di antaranya proyek-proyek yang berasal dari PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Mayoritas perusahaan sudah memulai konstruksinya pada tahun lalu.

Lokasi-lokasi proyek TOD dari BUMN Karya ini di antaranya berada di: Bekasi, Sentul, Walini, Ciracas, Karawang, Bendungan Hilir, Senen, juga Manggarai. Semua di area dekat terminal stasiun.

Dengan demikian dapat kita lihat, buah karya infrastruktur dari Presiden Jokowi dan team kabinetnya, baik dalam hal konektivitas transportasi maupun dalam pembangunan infrastruktur perumahan, telah membangkitkan industri properti sekaligus meningkatkan kemudahan transportasi hunian di banyak lokasi.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here