Apakah Rally Emas Sudah Berakhir?

593

(Vibiznews-Column) Sekali lagi $1,300 emas per ons kembali menjadi fokus dengan dolar AS menguat dan sentimen terhadap resiko diperkirakan akan membebani harga emas dalam jangka pendek, menurut sebagian dari analis pasar.

Pasar emas memulai suatu bulan yang baru dengan posisi dibawah karena harga bergerak menembus kebawah “support” kritikal jatuh ke kerendahan selama lima minggu. Tekanan jual datang seminggu setelah harga emas terdorong naik ke ketinggian selama 10 bulan. Emas berjangka bulan April terakhir diperdagangkan pada $1,300.30 per ons, turun 2.4% dari posisi hari Jumat minggu lalu. Sementara itu, dolar AS terakhir diperdagangkan pada 96.45, naik 0.24% pada hari itu.

Menurut sebagian analis, pasar emas diperdagangkan pada level “support” yang kritikal. “Emas telah menembus ke bawah garis tren support yang meningkat. Apabila kita melihat pecahnya batas $1,303 ke bawah, hal ini akan bisa menjadi persiapan untuk suatu periode kelemahan, dengan pasar melepaskan kembali keuntungan yang telah diperolehnya selama empat bulan yang lalu.” Kata Joshua Mahony, analis pasar di IG di dalam catatan riset pada hari Jumat minggu lalu.

Wall Street vs Main Street

Menurut survey emas dari Kitco News, Wall Street dan Main Street sedikit terpecah mengenai kemana arah harga emas bergerak dalam jangka pendek. Jumlah terbesar dari blok Wall Street memandang harga emas akan turun sementara Main Street tetap memandang sebagai “bullish”.

Dari 16 profesional pasar yang mengambil bagian di dalam survey Wall Street, 7 partisipan atau 44% memandang harga emas sebagai “bearish” dalam jangka pendek. Ada 5 suara atau 31% yang memandang harga emas akan naik, sisa 4 yang lain atau 25% netral.

Sementara dari 556 responden yang mengambil bagian di dalam polling online Main Street, sebanyak 286 atau 51% memandang harga emas akan naik sedangkan 192 atau 35% memprediksi emas akan jatuh dan sisa 78 atau 14% melihat pasar emas sebagai “sideways” dalam jangka pendek.

Mark Leibovit, editor dari VR Gold Letter, dan Colin Cieszynski, kepala strategi pasar di  SIA Wealth Management, kedua-duanya melihat emas akan melemah karena faktor musiman. Cieszynki menambahkan bahwa momentum Relative Strength Index juga mengarah turun.

Cieszynski mengatakan,”gagalnya pertemuan tingkat tinggi AS-Korea Utara dan ketegangan politik lainnya tidak ada yang berpengaruh terhadap emas dan dengan dolar AS mulai naik, emas memiliki kecenderungan turun dalam jangka pendek.”

Neil Mellor, ahli strategi matauang senior di Bank of New York Mellon mengatakan bahwa dia “bearish” terhadap emas dengan berkomentar bahwa sulit bagi emas untuk menjadi “bullish” karena menguatnya dolar AS dan kenyataan bahwa tidak peduli bagaimanapun investor memandang, tidak ada tekanan inflasi yang meningkat di dalam ekonomi global.

Afshin Nabavi, kepala trading pada “trading house MKS (Switzerland)SA, mengatakan bahwa emas bisa melemah ke level $1,300, disebabkan karena “long liquidation” dan menguatnya dolar AS. Namun dia  menambahhkan, dengan isu-isu geopolitik, kita harus memegang batas “support” dan memandang keatas. Dia memprediksi metal kuning akan berada di dalam range $1,300-$1,345.

Tingkat Bunga

Kelemahan emas terjadi setelah keluarnya data yang menunjukkan ekonomi yang lumayan tangguh, khususnya dengan data pada hari Kamis yang menunjukkan bahwa ekonomi AS lebih kuat daripada yang diperkirakan pada kuartal keempat 2018. Meskipun, data lainnya yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan momentum yang melambat di sektor manufaktur pada bulan lalu dan penurunan di dalam penghasilan pribadi pada bulan Januari.

Fawad Razaqzada, analis tehnikal di City index berkata bahwa data yang ada tidaklah selemah atau sekonsisten seperti yang sebagian ekonom perkirakan, yang mendukung pembaharuan momentum dari dolar AS dan mendorong imbal hasil turun dengan para investor merasakan kurang perlu untuk menyimpan assets “safe-haven”.

“Sekarang ini kita hanya melihat kelemahan sebagian, tidak ada yang konsisten dari kelemahan-kelemahan yang ada dan hal itu akan mempengaruhi ekspektasi mengenai tingkat bunga,” katanya. “Kita perlu sungguh-sungguh melihat data yang lebih lemah secara konsisten untuk benar-benar bisa mendorong kenaikan tingkat bunga disingkirkan dari meja pertemuan pada tahun ini dan mendorong harga emas naik lebih tinggi”.

Ole Hansen, kepala strategi komoditi di Saxo Bank setuju bahwa semuanya berhubungan dengan ekspektasi tingkat bunga dan sekarang ini data yang ada mulai menantang sentimen yang “dovish” di pasar.

Dia berkata,”Saat ini pasar paling tidak siap untuk kenaikan tingkat bunga yang lebih tinggi. Jadi setiap data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positip akan menyebabkan pergerakan sentimen dan akan membebani harga emas.”

Hansen berkata bahwa dia bisa melihat kelemahan di dalam emas pada jangka pendek disebabkan karena sentimen investor yang berevolusi. Namun, dia menambahkan bahwa emas masih tetap berada pada tren naik yang positip.

Dia mengatakan,”Saya pikir di dalam jangka pendek kita bisa mendorong harga emas menembus support di $1,300 dan saya pikir level yang perlu diperhatikan adalah $1,275 karena ini adalah support kunci dan level retracement dari rally ini.”

Razaqzada mengatakan bahwa sementara harga emas bisa bergerak lebih rendah lagi, dia merasa aksi jual ini hanyalah suatu koreksi dari tren naik yang lebih luas.

Dolar AS

Bukan hanya data ekonomi AS yang bercampur mendukung pembelian dolar AS dan membebani emas, Neil Mellor, ahli strategi matauang senior dari Bank New York Mellon, mengatakan bahwa bertumbuhnya problem di zona Euro akan memberikan dukungan lebih jauh terhadap “greenback”.

Minggu ini European Central Bank (ECB) akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter dan investor akan melihat bagaimana bertumbuhnya resiko global akan membebani prospek pertumbuhan ekonomi regional.

Dia berkata,”Ketika ada suatu dunia ketidakpastian di pasar, investor memiliki beberapa pilihan dan hal ini mendukung dolar AS. ECB menghadapi banyak problem dan tidak jelas bagaimana mereka akan menghadapi mereka, khususnya banyak dari amunisinya telah terpakai.”

Namun bukan saja kekuatan dolar AS yang sekarang ini menghantam permintaan emas. Mellor mengatakan bahwa pertumbuhan inflasi yang lemah juga mengurangi kebutuhan dari para investor untuk memegang metal kuning.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here