Bursa Asia Pasifik Berakhir Mixed Mencermati Perlambatan Ekonomi

601

(Vibiznews – Index) Bursa Asia Pasifik berakhir mixed pada awal pekan hari Senin (11/03) terpengaruh perlambatan ekonomi global setelah data penting di Amerika Serikat dan China meleset dari ekspektasi pekan lalu.

Pasar Saham China daratan diperdagangkannaik. Indeks Shanghai naik 1,92 persen menjadi 3.026,99 sedangkan indeks Shenzhen naik 3,89 persen pada 1,667,81.

Bank Rakyat China diperkirakan melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut untuk mendorong pinjaman karena berupaya mendukung ekonomi negara yang melambat. Gubernur Yi Gang mengatakan pada hari Minggu bahwa bank sentral tidak akan menggunakan nilai tukar untuk meningkatkan ekspornya atau sebagai alat dalam sengketa perdagangan.

Indeks Nikkei 225 Jepang berakhir naik 0,47 persen pada 21.125,09 sementara indeks Topix bertambah 0,57 persen menjadi 1.581,44.

Saham Nissan naik 1,11 persen karena mantan bos perusahaan itu, Carlos Ghosn, dilaporkan meminta izin dari Pengadilan Distrik Tokyo untuk menghadiri pertemuan dewan pembuat mobil pada hari Selasa, kata Reuters, mengutip sebuah sumber.

Ghosn, mantan ketua Nissan, dibebaskan dari pusat penahanan di Tokyo pekan lalu dengan jaminan $ 9 juta setelah ditahan selama lebih dari 100 hari atas tuduhan pelanggaran keuangan.

Di Korea Selatan, indeks Kospi mendekati datar di 2.138,10.

Indeks Hang Seng Hong Kong diperdagangkan naik 0,97 persen pada 28.503,30.

Indeks ASX 200 di Australia turun 0,38 persen menjadi 6.180,20 karena sebagian besar sektor menurun. Sektor energi turun 1,55 persen karena cadangan minyak turun: Saham Santos turun 2,16 persen, Oil Search lebih rendah 1,99 persen dan Woodside Petroleum turun 1,73 persen.

Harga minyak berada di bawah tekanan pada hari Jumat setelah data yang menunjukkan kenaikan pekerjaan di AS terhenti pada Februari, sementara impor dan ekspor China bulan lalu merosot. Bank Sentral Eropa juga memangkas prospek pertumbuhan untuk zona Eropa.

Sesi Senin diikuti setelah AS dan China meleset dari ekspektasi pada data penting Jumat lalu, mendorong kekhawatiran lebih lanjut atas perlambatan ekonomi global.

Data pemerintah di AS menunjukkan ekonomi terbesar di dunia itu menambahkan hanya 20.000 pekerjaan pada bulan Februari versus kenaikan yang diperkirakan sebesar 180.000, menandai bulan penciptaan lapangan kerja terlemah sejak September 2017.

Sementara itu, data bea cukai Tiongkok menunjukkan ekspor turun 20,7 persen pada tahun lalu, kehilangan ekspektasi ekonom dari penurunan 4,8 persen. Impor turun 5,2 persen, lebih dari yang diperkirakan turun 1,4 persen.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya bursa Asia akan mencermati pergerakan bursa Wall Street, yang akan mencermati pidato dari Ketua Fed Powell yang jika memberikan sentimen positif akan dapat menguatkan bursa Wall Street.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting Group

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here