BCA Siap Akuisisi Bank Royal; Mengapa Bank Memilih Akuisisi?

929

(Vibiznews – Banking) – Kelapa Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana beberapa waktu lalu telah menyampaikan bahwa BCA akan mengakuisisi satu bank dalam waktu dekat ini, yaitu PT Bank Royal Indonesia.

Heru kemudian pernah juga menyampaikan kepada media belum lama ini bahwa proses akuisisi ini belum sampai ke OJK. Masih ada proses RUPS, proses due diligent, dan lainnya.

Jika memang masih dalam proses sedemikian itu, harusnya realisasi akuisisi memang masih akan memakan sejumlah waktu lagi.

Di lingkungan industri perbankan memang sudah terdengar aksi-aksi korporasi yang akan dilakukan beberapa bank terkait merger dan akuisisi. Di antaranya, dapat disebut Bank BRI yang berniat mengakuisisi perusahaan asuransi umum pada semester I tahun 2019 ini. Info lainnya, Bank Mandiri sedang mencari perusahaan untuk dijadikan anak usaha di bidang jasa keuangan sebagai complementary business bagi Bank di tahun 2019 ini. Lalu, Bank BTN diberitakan telah menyatakan niat untuk mengakuisisi perusahaan di bidang manajer investasi dan asuransi.

Read http://vibiznews.com/2019/01/10/antara-organik-dan-anorganik-strategi-perbankan-menumbuhkan-bisnisnya/

Yang sudah terealisasi duluan di tahun ini, kita tahu adalah Bank BTPN yang sudah diperkuat permodalannya oleh pemegang saham utamanya saat ini yakni Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Sementara, Bank Danamon telah dirangkul oleh MUFG Bank.

Akuisisi Demi Sinergi

Maraknya gelombang merger akuisisi di industri perbankan, mungkin, menimbulkan pertanyaan mengapa strategi aksi korporasi demikian yang cenderung dipilih bank-bank besar tersebut di atas? Sementara itu, bukannya tidak mungkin bank-bank lainnya juga sedang mempersiapkan strategi yang sama, hanya belum terekspos ke publik.

Jawaban singkat atas pertanyaan tersebut barangkali dapat dirangkai dengan satu kata: “sinergi”. Ini bisa dibilang sebagai motif bisnis utama dalam aksi merger atau akuisisi. Pertanyaan berikutnya sinergi yang bagaimana yang diharapkan tampil dalam proses akuisisi ini?

Dalam sejumlah literatur tentang M&A ada diterangkan tentang tiga jenis sinergi yang dihasilkan, yaitu: operating, financial, dan managerial synergies. Ketiganya bisa berkombinasi dan saling bergantung satu dengan yang lainnya.

Pertama-tama, tentang “sinergi operasi”. Peningkatan kekuatan pasar atau pangsa pasar dapat diaktakan sebagai motif yang paling didahulukan. Ketika M&A bermaksud untuk mencapai peningkatan kekuatan di pasar, tujuannya secara umum adalah meningkatkan kekuatan negosiasi terhadap pemasok atau mengalahkan pesaing.

Peningkatan pendapatan perusahaan dapat dihasilkan melalui bertambahnya diversifikasi produk dan jasa, dan meningkatnya kapasitas produksi karena bergabungnya kekuatan faktor produksi secara bersama dengan merger ini. Kekuatan pangsa pasar bertambah dengan asumsi terdapat peningkatan skala ekonomi, ketika biaya rata-rata menjadi turun bila produk atau jasa dihasilkan bersama dibandingkan kalau saat masing-masing perusahaan masih terpisah. Sinergi juga bisa dihasilkan dalam inovasi teknis, misalnya melalui bertambahnya hak paten, inovasi teknologi, dan lainnya.

Berikutnya perihal “sinergi finansial”. Sinergi ini di perusahaan dapat terwujud dalam akses yang lebih baik ke sumber pendanaan, karena meningkatkan kelayakan kredit, umpamanya, atau menurunkan risiko melalui diversifikasi.

Dalam kasus ini, sebagai contoh, Bank BTPN dan Bank Danamon baru-baru ini langsung mendapatkan rating AAA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), karena aksi merger telah memberikan kepada kedua bank ini dukungan permodalan yang kuat dari masing-masing pemegang saham mayoritasnya saat ini.

Yang ketiga adalah “sinergi manajerial”. Tim merger dan akuisisi harus tahu caranya meningkatkan target operasi dan kinerja bisnis, dan sebagai hasilnya menciptakan suatu “cross-business synergy”.  Seperti apa? Di sini diharapkan adanya sinergi peningkatan skill fungsional perusahaan untuk meningkatkan kinerja bisnis; kemampuan strategis perusahaan untuk menaikkan posisi kompetitif); serta, kemampuan mendesain organisasi untuk dapat merumuskan dan mengeksekusi strategi.

Sinergi dengan Bank Royal

Kembali ke Bank BCA yang berencana mengakuisisi Bank Royal. Siapa Bank Royal ini? Bank Royal dimiliki oleh keluarga Soemedi yang memiliki usaha baja di PT Master Steel Mfg. Menurut laporan keuangan Januari 2019, aset Bank Royal mencapai Rp 904,44 miliar, dengan total kredit sebesar Rp 544,53 miliar, dan termasuk bank kecil.

Bank Royal ini sebelumnya bernama PT Bank Rakjat Parahyangan, berkedudukan di Bandung, Ciparay, didirikan pada Oktober 1965. Artinya bank ini sudah 54 tahun beroperasi. Nama bank kemudian berubah pada 1982 menjadi PT Bank Pasar Rakyat Parahyangan. Kemudian pada Januari 1990, namanya menjadi PT Bank Royal Indonesia sampai saat ini.

Sinergi apa yang diharapkan BCA dengan akuisisi Bank Royal ini? Yang paling tahu tepatnya tentu tim akuisisi di BCA. Tetapi dapat diduga salah satu alasannya adalah sinergi operasi itu, berupa perluasan pangsa pasar BCA di antara nasabah Bank Royal yang sudah berdiri 54 tahun ini.

Di samping itu, aksi ini merupakan strategi pertumbuhan anorganik untuk menaikkan lagi aset dan pasar Bank BCA secara relatif cepat.

Fase Due Diligent

Dalam proses akuisisi ini, salah satu fase penting adalah due diligent. Ini sangat penting untuk memastikan kelengkapan dan kecocokan aspek legal, teknis, produk dan jasa, serta manajerial bank yang akan diakuisisi.

Misalnya, sesuai dengan pengalaman pribadi penulis saat terlibat dalam proses akuisisi dari bank nasional besar kepada sejumlah bank nasional lainnya secara sekaligus, adalah pemetaan atau mapping kecocokan produk dan jasa bank-bank yang akan diakuisi. Dalam hal ini, proses akuisisi memang lebih efisien dibandingkan proses merger. Karena di akuisisi bank utama yang memilih produk atau jasa yang tepat dan cocok dengan sistem bank saat ini, sedangkan dalam merger biasanya ada perhitungan adjustment and balancing yang lebih kompleks prosesnya.

Produk yang tepat dapat dipilih bank pengakuisisi untuk meningkatkan diversifikasi dan penetrasi produk dan jasa bank berikutnya. Produk yang tidak matching dengan sistem, tinggal dikeluarkan dalam portfolio produk jasa yang akan datang.

 

Demikian opini terkait aksi merger dan akuisi bank belakangan ini. Akan adakah gelombang lainnya? Kita akan lihat bersama perkembangan industri perbankan selanjutnya.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here