Bursa Asia 11 April Mixed Merespon Perkembangan Brexit

819

(Vibiznews – Index) Pasar Saham Asia ditutup mixed pada hari Kamis (11/04) di tengah perkembangan geopolitik dimana para pemimpin Uni Eropa dan Inggris menyetujui perpanjangan batas waktu Brexit hingga 31 Oktober.

Saham China Daratan turun, dengan indeks Shanghai turun 1,6 persen menjadi 3.189,96 dan indeks Shenzhen juga turun 2,187 persen menjadi 1.740,37.

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,93 persen pada 29839.45. Saham raksasa teknologi China, Tencent, naik lebih dari 1 persen, sebelumnya melampaui 400 dolar Hong Kong per saham untuk pertama kalinya sejak Juni 2018.

Pergerakan di China terjadi setelah inflasi konsumen negara itu pada bulan Maret menyentuh level tertinggi 5 bulan di belakang kenaikan harga pangan.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 ditutup 0,11 persen lebih tinggi pada 21.711,38 dengan saham Fast Retailing bertambah 0,51 persen, sementara indeks Topix turun sedikit untuk menyelesaikan hari perdagangannya di 1.606,52.

Di Korea Selatan, indeks Kospi ditutup hampir datar di 2.224,44.

Di Australia, indeks ASX 200 turun 0,4 persen menjadi ditutup pada 6.198,70. Perdana Menteri Australia Scott Morrison hari Kamis mengumumkan bahwa pemilihan umum akan diadakan 18 Mei.

Pada perkembangan perdagangan AS-China, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan kepada CNBC pada hari Rabu bahwa Washington dan Beijing telah cukup sepakat tentang mekanisme penegakan hukum saat kesepakatan tercapai.

Dari Eropa, para pemimpin Uni Eropa dan Inggris mencapai kesepakatan untuk memperpanjang batas waktu Brexit.

Donald Tusk, presiden Dewan Eropa, mengatakan perkembangan ini memberikan tambahan enam bulan bagi Inggris untuk menemukan solusi terbaik.

KTT darurat diselenggarakan setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May meminta penundaan lebih lanjut untuk keberangkatan Inggris dari blok tersebut. Anggota parlemen Inggris telah menolak perjanjian May tiga kali tetapi mereka juga gagal mencapai mayoritas untuk mendukung opsi alternatif.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa juga berbalik dovish, mempertahankan suku bunga karena presidennya Mario Draghi memperingatkan risiko penurunan, mengutip momentum pertumbuhan yang lebih lambat di zona Eropa. Bulan lalu, Federal Reserve AS telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dan menunda kenaikan lebih lanjut tahun ini.

Tetapi risalah pertemuan kebijakan moneter Maret Fed yang dirilis pada hari Rabu mengungkapkan bahwa pejabat Fed meninggalkan ruang untuk kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini, tetapi saat ini tidak berharap untuk membuat perubahan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya bursa Asia akan melihat pergerakan bursa Wall Street, yang akan mencermati data Jobless Claim yang jika terealisir meningkat akan menekan bursa Wall Street.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here