Bursa Asia Awal Pekan Mixed; Pasar China Tertekan Pelemahan Impor

494
bursa shanghai

(Vibiznews – Index) Bursa saham Asia berakhir mixed pada awal pekan Senin (15/04), dengan pasar saham China melemah akibat impor menurun yang mensinyalkan kepercayaan investor melemah.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,37 persen menjadi 22.169,11. Indeks Topix naik 1,4 persen menjadi 1.627,93.

Indeks Kospi Korea Selatan menyelesaikan naik 0,42 persen menjadi 2.242,88. Saham Asiana Airlines dan afiliasinya melonjak. Saham Asiana Airlines naik 30 persen. Afiliasi Air Busan dan Asiana IDT masing-masing naik 29,94 persen dan 29,78 persen.

Pemegang saham utama Asiana Airlines, Kumho Industrial, mengatakan pada hari Senin bahwa pihaknya akan menjual seluruh sahamnya di maskapai yang terbelit hutang tersebut untuk membuatnya tetap bertahan, Reuters melaporkan. Itu mengikuti minggu-minggu ketidakpastian keuangan setelah operator gagal untuk memenangkan penandatanganan auditor pada laporan keuangan 2018, yang memicu peringatan penurunan peringkat kredit, menurut laporan Reuters.

Di China, saham membalikkan keuntungan: Indeks Shanghai turun 0,34 persen menjadi 3.177,79 sedangkan indeks Shenzhen kehilangan 0,84 persen menjadi 1.723,9.

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,33 persen pada 29810,72.

Indeks ASX 200 ditutup datar. Sebagian besar sektor lebih rendah sementara subindex energi bertambah 0,54 persen dan sektor keuangan yang sangat tertekan naik 0,39 persen.

Data bea cukai menunjukkan ekspor China bulan Maret lebih tinggi dari yang diharapkan: ekspor dalam mata uang dolar naik 14,2 persen dalam setahun, melampaui prediksi kenaikan 7,3 persen, menurut jajak pendapat Reuters. Namun, impor masih jauh dari harapan, mengindikasikan permintaan domestik di ekonomi terbesar kedua di dunia itu masih lemah.

Investor akan mencari tanda-tanda pemulihan lebih lanjut dalam ekonomi Tiongkok, dan implikasinya terhadap prospek pertumbuhan global. Pekan lalu, Dana Moneter Internasional kembali memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2019, mengutip risiko seperti meningkatnya ketegangan perdagangan dan kebijakan moneter yang lebih ketat oleh bank sentral AS.

Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan Washington dan Beijing membuat kemajuan dalam kesepakatan perdagangan, yang mencakup menyepakati mekanisme penegakan hukum. Namun, Mnuchin menolak mengatakan apakah AS akan menggunakan tarif sebagai alat penegakan hukum.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya bursa Asia akan melihat pergerakan bursa Wall Street, yang akan mencermati perkembangan kesepakatan perdagangan AS-China.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here