Review Forex 15/05: Dolar AS Nyaris Imbangi Pukulan Yen, Rival Lainnya Takluk

191

(Vibiznews – Forex) – Mengakhiri perdagangan forex sesi Amerika beberapa saat lalu hari Kamis (16/05) posisi mata uang utama dolar AS  menunjukkan kekuatan stabil  yang sebagian besar dipicu karena data ekonomi yang lemah dari China. Namun terjadi pergerakan fluktuatif oleh tarik menarik sentimen meredanya kekhawatiran perang dagang dengan rilis data ekonomi yang mengecewakan.

Terpantau indeks dolar yang menunjukkan kekuatan mata uang dolar AS terhadap beberapa rival mata uang utama lainnya ditutup menguat   0,07 persen ke posisi 97,58 yang sempat naik ke posisi 97,70 dan turun ke posisi 97,44, setelah dibuka pada posisi 97,56.

Mata uang Tiongkok, yuan, turun mendekati level terendahnya pada 2019, setelah data menunjukkan output industri China melambat menjadi 5,4% y/y pada April  tahun ini setelah naik 8,5% sebulan sebelumnya.  Kemudian pertumbuhan penjualan ritel China juga turun 7,2% setiap tahun pada April, dari 8,7% sebulan lalu.

Terhadap rival-rival utamanya dolar AS berhasil melemahkannya kecuali terhadap yen Jepang yang sudah menghajarnya kuat dan berkurang kejatuhannya. Karenanya Yen diperdagangkan dalam kisaran ketat sedikit di bawah garis flat terhadap dolar setelah sempat kuat pada 109,14 dan kemudian ditutup pada  109,58 per dolar.

Aussie juga melemah terhadap dolar AS, turun sekitar 0,28% pada $0,6925 per aussie. Tekanan pelemahan paling besar dari data ekonomi China diatas. Terhadap Pound Sterling, dolar naik hampir 0,5% dengan satu unit sterling pada posisi $1,2842, kurang dari $1,2906 sehari sebelumnya.

Kemudian Euro turun tipis di $ 1,1202 sekalipun terdapat data peningkatan 0,4% dalam PDB Jerman kuartal pertama dan laporan yang menunjukkan pertumbuhan PDB zona euro naik dua kali lipat pada kuartal pertama. Tekanan terhadap euro juga dibatasi oleh keputusan  Presiden AS Donald Trump  menunda pengenaan tarif impor mobil dari UE selama enam bulan.

Untuk data ekonomi AS yang dirilis mengecewakan pertama datang dari laporan Departemen Perdagangan yang menunjukkan kemunduran tak terduga dalam penjualan ritel AS di bulan April. Penjualan ritel turun 0,2 persen pada April setelah melonjak 1,7 persen pada Maret.

Tidak termasuk penurunan tajam dalam penjualan mobil, penjualan ritel naik 0,1 persen pada April setelah melonjak 1,3 persen pada Maret, meskipun penjualan ex-otomotif diperkirakan naik 0,7 persen.

Sentimen negatif juga dihasilkan sebagai reaksi terhadap laporan Federal Reserve yang menunjukkan penurunan tak terduga dalam produksi industri pada bulan April. Produksi industri turun 0,5 persen pada April menyusul kenaikan 0,2 persen pada Maret.

Sementara itu, laporan terpisah dari National Association of Home Builders (NAHB) menunjukkan kepercayaan pemilik rumah telah meningkat lebih dari yang diperkirakan pada bulan Mei dengan indeks naik menjadi 66 di Mei dari 63 di April.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here