OECD Akan Memangkas Prospek Pertumbuhan Global; Ketidakpastian Perang Dagang Pemicunya

343

(Vibiznews – Economy) – Ketegangan perdagangan antara AS dan China menghentikan pemulihan global dan terus membahayakan investasi dan pertumbuhan ekonomi, demikian Sekjen OECD memperingatkannya Senin ini kepada CNBC (20/05).

“Kita sedang berada di tengah pemulihan ketika semua keputusan tentang perdagangan ini dimulai dan itu tidak hanya menghambat pemulihan, tetapi pada dasarnya telah menyebabkan perlambatan ekonomi dengan masih ada potensi untuk kerusakan yang lebih besar,” Angel Gurria, Sekjen OECD, mengatakan kepada CNBC.

“Semua orang bertaruh hari ini … pada isyu kesepakatan dagang antara China dan AS, tetapi masalahnya adalah ketegangan telah semakin besar dan, kedua, masalah – dampak limpahan dari tensi ini – menjadi semakin jelas,” katanya dalam interview dengan CNBC pada awal even OECD Spring Forum di Paris.

Tema-tema utama dalam forum OECD tahun ini berkisar dari tantangan kerja sama internasional dan prospek ekonomi global, hingga masa depan pekerjaan dan perdagangan serta kompetisi di era digital. Nampaknya, tensi perdagangan global yang meningkat antara China dan AS kemungkinan akan mendominasi forum.

Hubungan antara kedua negara raksasa ekonomi memburuk di awal bulan ini ketika Presiden Trump mengumumkan bahwa ia akan menaikkan tarif barang senilai $200 miliar dari 10% menjadi 25%. China meresponnya dengan menaikkan tarif atas barang-barang AS sebesar $60 miliar.

Pembicaraan untuk mengakhiri perselisihan perdagangan Tiongkok-AS diyakini telah terhadang dan sementara itu, data terbaru untuk bulan April menunjukkan aktivitas konsumen dan industri yang melambat di AS maupun di China. Trump menegaskan tariff atas barang-barang China memang berdampak, namun, katanya itu menyebabkan perusahaan-perusahaan memindahkan produksinya dari China ke Vietnam.

Eropa juga telah terancam dengan tarif impor AS yang akan menghukum industri mobilnya, meskipun tariff tersebut belum dikenakan. Trump mengatakan pada Jumat lalu bahwa Uni Eropa memperlakukan AS “lebih buruk dari China, hanya saja mereka lebih kecil.”

Gurria dalam wawancara tersebut mengatakan ketegangan perdagangan telah berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan investasi, serta telah membuat OECD memangkas hampir 1% dari prediksi pertumbuhan globalnya dalam 12 bulan terakhir. Setahun yang lalu, OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 3,9% pada 2019, sekarang perkiraannya menjadi 3,1%. Ini terkait akan dirilisnya prospek ekonomi terbaru dari OECD pada hari Selasa.

“Ketidakpastian adalah musuh terbesar pertumbuhan dan ketika Anda tidak memiliki investasi karena ketidakpastian perdagangan, maka tentu saja pertumbuhan akan turun. Dan inilah yang terjadi dalam periode waktu yang relatif singkat. Ini benar-benar pandangan yang sangat buruk hari ini, dan ini merupakan sumber keprihatinan yang sangat besar,” kata Gurria kepada CNBC (20/05).

 

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa semakin banyak lembaga internasional yang memberi peringatan dampak buruk dari perang dagang yang memanas belakangan ini bagi pertumbuhan ekonomi global. Adalah Presiden Jokowi yang dalam Pertemuan IMF – Bank Dunia di Bali Oktober tahun lalu telah memberi peringatan melalui pidato ‘Game of Thrones’ -yang banyak dipuji tokoh-tokoh ekonomi dunia itu- bahwa peperangan itu pada akhirnya tidak menguntungkan siapa pun. Tidak bagi yang kalah, tidak juga bagi yang menang.

Sekarang untuk tetap medongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia, petumbuhan ekonomi domestik dengan segala potensinya itu yang harus nampaknya lebih diprioritaskan. Di samping itu, diharapkan ada imbas positif dari persaingan ini, dimana Indonesia semakin menjadi pilihan investasi dunia setelah China.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here