Forbes Menyebut Indonesia Macan Ekonomi Baru di Asia Tenggara, Mengapa?

1443

(Vibizmedia – Economy & Business) – Media global terkemuka Forbes baru-baru ini memberikan predikat Indonesia sebagai macan ekonomi baru di kawasan Asia Tenggara. Istilah “macan” dikenal sebagai julukan bagi negara-negara Asia Timur yang ekonominya tumbuh pesat. Untuk Indonesia hal yang sama ini semakin diakui dunia, terutama berkat ekonomi digital atau ekonomi mobile.

Pada paruh kedua abad terakhir yang lalu, Hong Kong, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan dikenal sebagai “macan ekonomi” Asia karena industrialisasi, perdagangan, dan pengembangan finasial yang cepat yang menyebabkan tingginya tingkat pertumbuhan berkelanjutan. Hari ini, Hong Kong dan Singapura dikenal sebagai pusat keuangan terkemuka dunia, sedangkan Korea Selatan dan Taiwan dikenal karena industri manufaktur dan seni mereka.

“Transformasi serupa sedang terjadi di Asia Tenggara, hanya saja kini perintis perubahan didorong oleh ekonomi mobile. Hal ini amat terbukti jelas di Indonesia, negara dengan populasi keempat terbesar di dunia,” demikian tulis Forbes belum lama ini (14/05).

Forbes menyebutkan tentang beberapa fakta menakjubkan tentang Indonesia:

  • Negara muda, dengan usia rata-rata adalah 29 tahun, dan 60% dari populasi adalah berusia 40 tahun atau di bawahnya.
  • Negara nomor satu yang paling mobile di dunia: dari 150 juta pengguna internet di Indonesia, 95%-nya, atau 142 juta orang, adalah pengguna handphone.
  • 60% dari semua orang dewasa Indonesia sekarang memiliki smartphone.

Ketika ketiga faktor ini digabungkan, Indonesia mewakili populasi besar penduduk muda yang paham digital. Orang Indonesia disebutkan menghabiskan 206 menit sehari di media sosial dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya 124 menit. Platform teratas seperti Youtube, Whatsapp, dan Facebook semuanya digunakan oleh lebih dari 80% orang Indonesia secara online. Dan 76% dari semua pengguna internet di Indonesia melakukan pembelian lewat ponsel mereka. Ini merupakan tingkat tertinggi e-commerce seluler dari negara mana pun di dunia.

Source: Forbes (14/05)

 

Beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan yang pesat dalam ekonomi internet Indonesia. Selain e-commerce, game online, iklan, musik dan video berlangganan, serta layanan travel online dan ojek online atau pengiriman makanan, semuanya menikmati adopsi penuh semangat dari konsumen muda Indonesia.

Laporan detail oleh Google dan Temasek yang dirilis tahun lalu menyatakan:

“Kepulauan digital” Indonesia sedang menembaki semua sisi. Didukung oleh basis pengguna internet terbesar di kawasan ini (150 juta user pada tahun 2018), Indonesia memiliki ekonomi internet terbesar ($27 miliar pada 2018) dan pertumbuhan tercepat (49% CAGR 2015-2018) ekonomi internet di kawasan ini. Dengan ruang pertumbuhan besar di semua sektor, siap untuk tumbuh menjadi $100 miliar pada tahun 2025.

Investasi ventura (venture investment) dinilai sebagai sumber meroketnya ekonomi mobile Indonesia. Berinvestasi di Indonesia saat ini pun serupa seperti berinvestasi di China pada tahun 2008.

Para “unicorn” pun muncul di bermacam sektor berbeda, seperti e-commerce, online travel, dan transportasi online, seperti Tokopedia, Traveloka, dan Go-Jek.

Apa yang membuat venture companies begitu bersemangat adalah kemampuan untuk mendukung model bisnis yang telah terbukti di China dan AS, sambil mengadaptasinya ke pasar besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan ini.

Namun tantangan dan hambatan signifikan terhadap pertumbuhan tetap ada, Forbes menyebutkan. Mirip dengan India, Indonesia menderita infrastruktur yang buruk. Meskipun biaya data seluler relatif murah, bandwidth-nya termasuk buruk: kecepatan rata-rata unduhan seluler sekitar 10 mbps, kurang dari setengah rata-rata global.

Mungkin satu-satunya tantangan (dan peluang) terbesar bagi ekonomi seluler Indonesia adalah dalam pembayaran dan e-money. Google dan Temasek memperkirakan bahwa e-commerce di Indonesia akan mencapai $53 miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan ini bahkan lebih mengesankan mengingat fakta bahwa kurang dari setengah orang Indonesia yang memiliki rekening bank, dan hanya 2,4% orang Indonesia memiliki kartu kredit.

Di sinilah letak paradoks besar Indonesia. 56% persen dari seluruh penduduk Indonesia menghuni kota-kota besar dan semakin hidup dalam perangkat seluler. Setengah lainnya tinggal di daerah pedesaan dan tersebar di 17.000 pulau di mana uang tunai tetap menjadi alat tukar utama. Karena bank tradisional mengandalkan lokasi fisik untuk mendapatkan pelanggan, penyebaran ini membatasi jangkauan mereka.

“Dengan makin banyak dari 180 juta orang Indonesia yang belum ber-bank telah memakai smartphone, maka perlombaan saat ini adalah menyediakan uang mobile dan layanan finansial,” tulis Forbes.

Tantangan signifikan dan hambatan lain yang dihadapi Indonesia adalah infrastruktur yang perlu ditingkatkan. Sebab, hal itu berdampak kepada lambatnya koneksi internet.

Gelombang startup fintech baru menyerbu pasar, tetapi beberapa langkah besar telah dibuat oleh pemain seperti Go-Jek, termasuk dengan dompet seluler Go-Jek, Go-Pay. Pada saat yang sama, Go-Jek telah bermitra dengan bank tradisional untuk menawarkan produk konvensional seperti KPR. Ini benar-benar transformasional.

Sebuah artikel baru-baru ini di Nikkei Asian Review mengutip contoh penjual makanan jalanan yang menjadi pengemudi Go-Jek. Dia belum pernah dianggap layak kredit, tetapi setelah menjadi pengemudi Go-Jek selama empat tahun dia bisa mendapatkan KPR dari Bank BUMN yang bermitra dengan Go-Jek dan akan dapat membeli rumah pertamanya.

Forbes menyebutkan bahwa ini seperti kebalikannya Uber: ketimbang aplikasi ride-hailing meledak karena semua orang memiliki kartu kredit dan dompet ponsel, penggunaan layanan transportasi telah mendorong inklusi keuangan dan mengubah kehidupan masyarakat.

Indonesia, bagaimanapun, tetap dipandang sebagai tempat yang menarik dalam segi ekonomi digital. Beberapa ide yang potensial adalah aplikasi video untuk pemasaran atau mengembangkan influencer Youtube demi memasarkan suatu brand atau aplikasi. Hal penting lainnya adalah fokus kepada kebutuhan para wanita. Ini karena mereka memiliki minat tinggi dalam melakukan pembelian sehingga harusnya menjadi target menarik bagi bisnis e-money.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here