Indonesia Diakui Sebagai Pasar E-commerce yang Bertumbuh Tercepat di Dunia

605

(Vibiznews – Economy & Business) – Indonesia kembali diakui dunia sebagai pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat di dunia, demikian disematkan sebuah media internasional yang berbasis di London, New Economy, baru-baru ini. Indonesia disebutkan berada di ambang revolusi digital berkat angkatan mudanya yang fasih digital, kebangkitan start-ups teknologi dan prospek proyek infrastruktur mendatang.

New Economy menyebutkan bahwa dengan penduduk yang tersebar di 17.000 pulau, Indonesia tampaknya bukan merupakan tempat yang tepat untuk melejitnya belanja online. Meskipun kota-kota seperti Jakarta padat penduduknya, sebagian besar penduduk masih tinggal di daerah pedesaan. Misalnya Kalimantan, dengan penduduk yang mencari nafkah dari sektor batu bara dan kelapa sawit. Tetapi pengiriman ke daerah-daerah ini mahal, dan menjadikan e-commerce adalah mimpi buruk logistik.

Namun, kenyataannya dengan fakta sebagian orang Indonesia terhambat dalam jaringan banyak barang konsumen telah menciptakan minat yang semakin besar untuk berbelanja online. Negara ini sekarang menjadi rumah pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat di dunia, menurut PPRO Group, dan diperkirakan akan bernilai $53 miliar (sekitar hampir Rp758 triliun) pada tahun 2025, demikian dilansir dari New Economy (29/05).

Kebangkitan E-commerce

Pengenalan smartphone bagi banyak orang Indonesia termasuk revolusioner, menurut media global ini. Berbeda dengan masyarakat di Barat, yang biasanya online untuk pertama kali melalui komputer, sebagian besar orang Indonesia pertama kali mengenal internet melalui ponsel. Dewasa ini, 95 persen pengguna internet di negara ini mobile dan orang Indonesia menghabiskan 206 menit sehari di media sosial dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya 124 menit. Peluncuran ekonomi mobile telah membuka banyak peluang bagi konsumen Indonesia dan mendorong meningkatnya permintaan belanja online.

Tokopedia merupakan salah satu start-up paling sukses yang muncul dari tren ini. Didirikan pada tahun 2009, pasar online tiba pada waktu yang tepat untuk menghubungkan basis konsumen online yang berkembang dengan para pengecer dan pedagang independen. Pada tahun 2017, platform e-commerce ini memperoleh investasi sebesar $1.1 miliar (sekitar Rp15,7 triliun) dari raksasa e-commerce China, Alibaba.

“Ketika Tokopedia didirikan pada 2009, Tokopedia melihat adanya disparitas dalam peluang di Indonesia,” menurut Nuraini Razak, VP Corporate Communications Tokopedia, mengatakan kepada The New Economy. “Usaha kecil di daerah pedesaan harus pindah ke daerah perkotaan untuk memperluas jangkauan pasar mereka, sementara konsumen di berbagai wilayah Indonesia memiliki akses terbatas kepada barang atau harus membayar lebih untuk barang yang sama hanya karena masalah tempat tinggal mereka.”

Platform seperti Tokopedia juga telah memfasilitasi pilihan baru kewirausahaan yang berkembang. Secara tradisional, sebagai salah satu negara paling kaya sumber daya alam di dunia, tenaga kerja Indonesia sebagian besar terkonsentrasi di industri seperti tembaga, timah, minyak dan gas atau di satu lapangan pekerjaan terbesar, yaitu sektor pertanian. Sekarang, ide memulai bisnis online menjadi daya tarik baru di kalangan pemuda yang mengerti digital.

“Tokopedia telah memfasilitasi lebih dari 5,5 juta pedagang di Indonesia, 70 persen di antaranya termasuk golongan yang baru pertama kali jadi pengusaha,” kata Razak. “Berjalannya waktu, para user di Indonesia semakin memiliki opsi, kenyamanan, dan akses keuangan, yang semakin mendorong ekonomi digital di Indonesia.”

Inovasi Digital

New Economy memandang bahwa Pemerintah Indonesia telah mengakui adanya peranan penting para start-ups dan UKM dalam mendorong inovasi digital di dalam negeri dan telah berjanji untuk mendukung digitalisasi sekitar delapan juta UKM pada tahun 2020. Ada juga harapan bahwa Presiden Joko Widodo, yang baru-baru ini terpilih kembali untuk masa jabatan kedua, akan mengupayakan untuk memajukan transformasi digital di Indonesia. Dalam masa jabatannya yang terakhir, Widodo telah menyelesaikan berbagai proyek infrastruktur, membangun jalan, kereta api, dan pelabuhan yang memang sangat dibutuhkan. Sekarang dia ingin terus mendorong anggaran infrastruktur, baik untuk pengembangan perkotaan maupun digital, diterangkan New Economy.

Razak menjelaskan bahwa Indonesia telah terus meningkatkan penetrasi internetnya, di antaranya dengan “smartphone yang jauh lebih murah dan jaringan infrastruktur yang lebih baik, seperti 4G/LTE”. Namun, membuka transformasi digital sejati bukanlah tugas yang mudah bagi Jokowi. Menurut McKinsey & Company, terlepas dari penduduk yang fasih digital, Indonesia tertinggal jauh di belakang negara-negara ASEAN lainnya dalam hal revolusi digital. Bandwidth-nya tergolong buruk dibandingkan wilayah lain, dan di beberapa provinsi, proporsi orang dengan akses internet sampai serendah 2,5 persen saja.

Media dengan fokus konsumen intelektual global ini memandang supaya lebih banyak orang akan dapat mengambil bagian dalam ekonomi digital, Indonesia perlu meningkatkan jaringan fibre optic-nya, serta menambah infrastruktur 4G-nya. Namun bagusnya, diakui ada proyek Palapa Ring yang akan membawa 13.000 km kabel fibre optic bawah laut ke pulau-pulau besar Indonesia, sementara kolaborasi perusahaan Teleglobal dan SES Networks akan meningkatkan akses internet di daerah-daerah terpencil dengan jaringan berbasis satelitnya.

Kendala utama lainnya, menurut New Economy, adalah masalah SDM. Saat ini, Indonesia kekurangan SDM teknologi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan secara signifikan. Dibandingkan Singapura dan Malaysia, disebutkan Indonesia kalah dalam investasi di bidang pendidikan per kapitanya. Pekerja dengan skill tinggi hanya 10 persen dari total tenaga kerja, menurut World Economic Forum (WEF). Akibatnya, banyak perusahaan Indonesia sering melepaskan pekerjaan teknologi ke luar negeri atau membawa masuk tenaga kerja asing paruh waktu.

Presiden Jokowi, dilihat majalah internasional ini, telah menargetkan untuk memperbaiki sistem pendidikan Indonesia dan percaya perubahan ini akan tergantung sebagiannya pada investasi asing. Misalnya saja, Indonesia memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Australia, yang mencakup akses bebas tarif bagi universitas Australia untuk mendirikan kampus di Indonesia. “Widodo berharap langkah seperti itu akan meningkatkan transfer keterampilan dari Australia ke Indonesia,” diuraikan New Economy.

Menutup penelitiannya, New Economy memandang bahwa ekonomi digital Indonesia telah siap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. E-commerce telah memiliki dampak transformatif pada negeri ini, sebagian besar karena UKM dan para start-ups yang berhasil mendorong inovasi. Sekarang, Indonesia perlu mendorong dan memfasilitasi inovasi itu dengan menerapkan infrastruktur yang tepat dan memperbaiki sistem pendidikan. Hanya dengan demikian Indonesia akan dapat memastikan benar memperoleh manfaat dari suatu transformasi digital.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group
Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here