Bank Dunia Memangkas Pertumbuhan Global, Ekonomi Indonesia Tetap Stabil

349

(Vibiznews – Economy) – The World Bank (Bank Dunia) dalam laporan terbarunya Global Economic Prospect, yang dirilis 5 Juni 2019, memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,3 persen menjadi 2,6 persen pada tahun 2019. Sebelumnya, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan menyentuh 2,9 persen.

Bank Dunia menyebutkan bahwa koreksi proyeksi ini dibuat dengan asumsi ketidakpastian kebijakan yang terus meningkat, tarif impor baru akan dikenakan, serta peningkatan tensi perang dagang antara AS dan China yang masih akan memburuk. Angka pertumbuhan perdagangan dunia ini merupakan angka terendah dalam satu dekade terakhir, yaitu sejak krisis keuangan global melanda.

Untuk pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang (EMDE) secara umum Bank Dunia memasang revisi proyeksi hingga 0,3 persen, yakni dari 4,3 persen menjadi hanya 4 persen. Kontribusi negatif besarnya terutama datang dari Turki.

Sekalipun demikian, pertumbuhan ekonomi RI, disebutkan Bank Dunia sebagai tetap stabil di kisaran 5,2 persen. “Di Indonesia, pertumbuhan selama ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi dari berbagai proyek infrastruktur,” tulis laporan tersebut.

Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan (2020) diproyeksikan masih naik menjadi sebesar 5,3 persen. Figur ini agak di batas bawah dari proyeksi pemerintah yang berada di kisaran 5,3-5,6 persen.

“Pertumbuhan ekonomi India dan Indonesia diperkirakan tetap stabil dan di atas rata-rata negara EMDEs,” tambah Bank Dunia dalam laporan tersebut (05/06).

Disebutkan pula, bahwa terlepas dari fundamental ekonomi yang kuat, Indonesia tetap rentan terhadap risiko perubahan mendadak terhadap kondisi keuangan global, terutama terkait arus modal asing.

 

Analis Vibiz Research Center melihat ada sisi positif dan negatif dari laporan dan proyeksi World Bank terbaru ini. Positifnya adalah pengakuan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang kuat dan stabil, khususnya di sisi domestik. Di antaranya, karena dorongan dari berbagai proyek infrastruktur yang telah dan masih akan dibangun pemerintahan Presiden Jokowi.

Sisi negatifnya adalah, tentunya, pengaruhnya kepada ekspor kita. Tekanan akan datang baik dari penurunan permintaan global maupun juga dari harga-harga komoditas ekspor kita yang diperkirakan bakal melemah.

Ini menjadi tantangan yang tidak ringan bagi team teknokrat ekonomi pemerintah. Untuk tetap dapat survive, nampaknya perekonomian domestik harus terus diperkuat. Juga, diversifikasi tujuan ekspor RI kepada, misalnya, kelompok negara EMDE perlu diperluas.

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here