Market Outlook, 1-5 July 2019

1134

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia tercatat melanjutkan rally-nya di minggunya yang kelima merespon positif keputusan MK yang mengukuhkan kemenangan pasangan Jokowi –  Ma’ruf Amin, sekalipun tempo pergerakannya melambat, sementara bursa kawasan Asia cenderung variatif sembari memerhatikan pertemuan antara Trump dan Jinping di event G-20. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.68% ke level 6,358.629. Untuk minggu berikutnya (1-5 Juli 2019), IHSG kemungkinan akan ada konsolidasi jangka pendek dengan bias positif sementara uptrend dari 5 pekan lalu masih terlihat, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6465 dan kemudian 6516, sedangkan support level di posisi 6269 dan kemudian 6190.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS secara mingguan fluktuatif dan berakhir menguat 0.08% ke level Rp 14,128 terutama setelah keputusan MK yang menolak seluruh gugatan kubu 02 serta oleh dana asing yang masuk ke pasar, sementara dollar di pasar global bergerak dalam range terbatas. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan berada dalam range antara resistance di level 14,260 dan 14,355, sementara support di level Rp14,080 dan Rp13,993.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Manufacturing PMI pada Senin malam; disambung dengan rilis ISM Non-Manufacturing PMI dan ADP Non-Farm Employment Change pada Rabu malam; berikutnya data Non-Farm Employment Change, Unemployment Rate dan Average Hourly Earnings m/m pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Manufacturing PMI Inggris pada Senin sore; diikuti dengan rilis Services PMI Inggris pada Rabu sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Caixin Manufacturing PMI China pada Senin pagi; dilanjutkan dengan rilis Cash Rate dari RBA Australia pada Selasa pagi yang diperkirakan dipangkas 25 bp ke level 1.00%.  

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum bergerak terbatas menjelang pertemuan antara Trump dan Jinping pada G-20 meeting di Jepang serta oleh pernyataan the Fed yang mengindikasikan the Fed tidak akan terlalu agresif dalam memulai pemangkasan suku bunganya, dimana indeks dolar AS secara mingguan naik tipis ke 96.19. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau menanjak terbatas ke 1.1373. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1447 dan kemudian 1.1514, sementara support pada 1.1181 dan 1.1116.

Poundsterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.2698 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2782 dan kemudian 1.2811, sedangkan support pada 1.2505 dan 1.2476. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat tipis ke level 107.86.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.73 dan 109.93, serta support pada 106.79 serta level 105.13. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7024. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7048 dan 0.7069, sementara support level di 0.6833 dan 0.6666.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat walau terbatas menjelang pertemuan Trump dan Jinping pada G-20 meeting sementara sentimen pemangkasan suku bunga bank sentral global agak mereda. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat tipis ke level 21,275. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 21497 dan 21638, sementara support pada level 21075 dan lalu 20924. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 28,543. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28891 dan 29480, sementara support di 27985 dan 27227.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau fluktuatif di tengah harapan investor akan adanya penyelesaian perang dagang AS-China dengan S&P500 membukukan gain semester 1 terbaiknya dalam 20 tahun terakhir. Indeks Dow Jones secara mingguan terkoreksi tipis ke level 26,599.96, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 26806 dan 26907, sementara support di level 26415 dan 26275. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2,941.76, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2964 dan 2975, sementara support pada level 2905 dan 2874.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau masih rally di minggunya yang keenam oleh keraguan pasar bahwa pertemuan Trump dan Jinping akan dapat menyelesaikan isyu perang dagang AS – China, sehingga harga emas spot menguat ke level $1,409.01 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1438 dan berikut $1449, serta support pada $1382 dan $1332.

Ketrampilan seorang investor pada masa-masa ini seperti sedang diuji. Situasi pasar yang sebagian agak sideways, sebagian lagi sedang dalam tren-tren jangka menengah sehingga dibutuhkan kemampuan analisis yang jeli supaya tidak salah dalam mengambil keputusan investasi, baik untuk masuk ataupun keluar pasar. Ketrampilan biasanya berbanding lurus dengan pengalaman atau jam terbang. Ini juga yang sering menjadi kendala bagi banyak investor karena masih memiliki banyak aktivitas lain di samping trading investasi. Bagi Anda yang sering tidak cukup punya waktu, vibiznews.com adalah sobat investasi Anda. Kami memang ada di bidang ini, siang dan malam, tanpa henti untuk juga membantu Anda. Untuk Anda yang telah mengalaminya, disampaikan terimakasih untuk para members yang telah bersama terus dengan kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here