Buruknya Data Ekonomi China Turunkan Harga Minyak di Asia

243

(Vibiznews-Commodity) – Harga minyak mentah tergelincir pada perdagangan sesi Asia hari Senin (15/07) setelah pemerintah China melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartalan paling lambat dalam setidaknya 27 tahun, memperkuat kekhawatiran tentang permintaan  importir minyak mentah terbesar di dunia.

Harga minyak acuan internasional atau minyak mentah Brent berjangka untuk kontrak bulan September turun 21 sen menjadi $66,51 per barel, sementara minyak mentah berjangka AS untuk Agustus turun 28 sen menjadi $ 59,93 per barel. Harga minyak untuk kedua kontrak pekan lalu membukukan kenaikan mingguan terbesar mereka dalam tiga minggu terakhir akibat pemotongan produksi minyak AS dan ketegangan diplomatik di Timur Tengah.

Pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 6,2% pada kuartal kedua dari tahun sebelumnya, sejalan dengan ekspektasi para analis, dengan permintaan di dalam negeri dan luar negeri goyah pasca krisis perang perdagangan AS-China.

Pekan lalu harga minyak sempat mendapat sentimen positif dari badai tropis Barry yang telah memangkas produksi minyak mentah Teluk Meksiko sebesar 73%, atau 1,38 juta barel per hari. Selain itu juga terangkat oleh konflik di kawasan Teluk pasca penahanan kapal tanker milik Iran oleh Inggris beberapa pekan lalu.

Namun kurangnya berita dari Timur Tengah  telah menyebabkan reaksi harga minyak melemah ditambah dengan meningkatnya ekspektasi berkurangnya permintaan minyak global setelah laporan lambatnya pertumbuhan ekonomi China.

Untuk perdagangan selanjutnya, analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak WTI akan meluncur ke posisi support 59.80 – 58.30. Namun jika bergerak kuat  akan  mendaki ke posisi resisten 60.55 – 61.40.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting  
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here