Setelah BI dan BOK, Bank Sentral Asia Lainnya Siap Pangkas Bunga; BI Agresif?

1420

(Vibiznews – Banking) – Bank Sentral Indonesia dan Korea Selatan baru saja memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun pada hari Kamis (18/07). Keputusan ini tanpa menunggu penurunan suku bunga AS segera karena bank sentral bertujuan untuk membantu dunia usaha dalam mengatasi meningkatnya risiko pada pertumbuhan ekonomi.

Pemangkasan bunga di Korea, agak berbeda dengan BI, mengejutkan para ekonom yang mengantisipasi langkah Seoul tersebut hanya setelah keputusan kebijakan Federal Reserve pada 31 Juli ini. Kedua bank sentral dikabarkan membuka pintu untuk pelonggaran lebih lanjut, demikian rilis dari Star Online (18/07).

Risiko global sedang meningkat di tengah perang dagang AS – China yang berlarut-larut, mengurangi kepercayaan bisnis dan menghalangi investasi, serta ekonomi Asia merasakan tekanan tambahan ketika pertumbuhan China mendingin ke posisi terendah hampir 30-tahun.

BI dan Bank of Korea (BOK) memangkas suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25 basis poin (bps).

Deutsche Bank memperkirakan bank sentral lainnya di Asia akan mengikuti, di antara pertumbuhan ekonomi yang suam-suam dan tekanan inflasi yang terbatas, serta menambahkan bahwa Bank Indonesia dan bank sentral Filipina bisa menjadi bank sentral “yang paling agresif”.

Serangkaian keputusan tingkat bunga akan dirilis di Asia pada awal Agustus. Salah satunya adalah dari Bangk Sentral Philipina, yang telah memangkas satu kali tahun ini. Lalu, Bank sentral India, yang telah memotong tiga kali suku bunga pada 2019, seperti halnya Bank of Thailand, yang pada Desember lalu menaikkan bunga untuk pertama kalinya sejak 2011.

Gubernur Bank of Korea (BOK) dan Bank Indonesia (BI) sama-sama mengatakan pada Kamis bahwa mereka melihat lebih banyak ruang untuk kebijakan “akomodatif”, yang berarti akan lebih banyak penurunan suku bunga yang mungkin dilakukan.

 

BI Akan Agresif?

BI sendiri memangkas suku bunga acuan untuk pertama kalinya dalam periode hampir dua tahun, menurunkan suku bunga repo 7 hari sebesar 25 bps menjadi 5,75%.

Indonesia disebutkan tidak terpukul sengketa dagang seperti Korea Selatan, tetapi perang dagang AS-China, telah memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan penurunan harga komoditas yang dapat menekan kinerja ekonominya, demikian menurut Star Online (18/07).

Pertumbuhan di ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini bahkan kuat bertahan di sekitar 5% dalam beberapa tahun terakhir dan BI – yang menyatakan upaya untuk mendukung permintaan domestik diperlukan untuk mengurangi penurunan ekspor – masih melihat pertumbuhan tahun 2019 di bawah titik median dari outlook pertumbuhan 5,0% -5,4%.

“Ada ruang untuk kebijakan moneter yang akomodatif, sejalan dengan ekspektasi inflasi yang rendah untuk lebih mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur Perry Warjiyo kepada wartawan.

Setelah pemangkasan bunga BI, pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar siklus pelonggaran untuk mengimbangi enam kali kenaikan BI rate pada tahun 2018, sebesar 175 bps.

Sebuah poling Reuters sebelum hari Kamis menunjukkan banyak analis percaya suku bunga acuan BI pada Maret tahun depan bisa menjadi 5,25%, yang berarti memerlukan pemotongan 50 bps lagi.

Sementara itu, Morgan Stanley lebih menonjol lagi prakiraannya, dengan menyatakan BI akan memangkas suku bunganya empat kali pada akhir tahun ini untuk memacu pertumbuhan ekonomi, dikutip dari Bloomberg (18/07).

 

Analis Vibiz Research Center melihat siklus kebijakan moneter longgar sudah dimulai dengan keputusan penurunan BI 7-DRR setelah bertahan hampir 2 tahun. Acuan bank sentral dunia, terutama adalah the Fed. Kalau the Fed agresif, misalnya akan memangkas langsung sebesar 50 bps pada akhir Juli ini, bank sentral lainnya tentunya akan terpicu untuk ikut lebih berani dalam memangkas suku bunganya.

Bagaimana dengan BI? BI nampaknya tidak ragu untuk memangkas suku bunganya lagi. Tetapi mungkin tidak demikian agresif sampai 4 kali, seperti prediksi Morgan Stanley. Selama ini kita kenal RDG BI cukup hati-hati dalam bertindak. Karenanya, kemungkinannya adalah cukup akomodatif, sehingga pemangkasan bunga 2 kali lagi masih lebih mungkin untuk tahun ini.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

 

SHARE
Previous articleAussie Dolar Terjun Dari Rekor Tinggi 12 Pekan
Next articleMarket Outlook, 22-26 July 2019
Alfred is the Managing Partner of Vibiz Consulting. Active consultant and writer in the field of banking, economics, investment and property. He is also known as a dynamic facilitator.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here