Market Outlook, 5-9 August 2019

959

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau volatile, menanjak lalu terseok di akhir pekan mengikuti bursa regional, dan berakhir masih menguat, sementara bursa kawasan Asia merah di akhir pekan oleh memanasnya tensi perang dagang kembali. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.24% ke level 6,340.180. Untuk minggu berikutnya (5-9 Agustus 2019), IHSG kemungkinan masih akan menghadapi tekanan di tengah isyu konflik dagang, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6404 dan kemudian 6468, sedangkan support level di posisi 6283 dan kemudian 6269.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terus bergerak dalam trend melemah, di minggunya yang kedua, sehingga secara mingguan melemah tajam 1.14% ke level Rp 14,180, sementara dollar di pasar global juga sempat perkasa di 2 tahun terkuatnya lalu terkoreksi. Rupiah tercatat di akhir minggu kembali sebagai mata uang terlemah se Asia terhadap dollar. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan berpotensi kembali turun di awal pekan dan berada dalam range antara resistance di level 14,230 dan 14,280, sementara support di level Rp14,005 dan Rp13,889.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data ISM Non-Manufacturing PMI pada Senin malam; disambung dengan rilis pidato anggota FOMC Bullard pada Selasa malam; berikutnya data Core PPI m/m pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Services PMI Inggris pada Senin sore; diikuti dengan rilis GDP m/m dan Manufacturing Production m/m Inggris pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis pengumuman Cash Rate RBA (Australia) pada Selasa siang yang diperkirakan bertahan di level 1.00%; dilanjutkan dengan pengumuman Official Cash Rate RBNZ (New Zealand) pada Selasa pagi yang diperkirakan dipangkas ke level 1.25%.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum menguat dan sempat bertengger di 2 tahun tertingginya, namun kemudian terkoreksi cukup kuat pada 2 hari pasar terakhirnya oleh ekspektasi bahwa the Fed akan memangkas suku bunganya pada September karena rilis NFP yang lebih rendah, dimana indeks dolar AS secara mingguan naik ke 98.10. Sementara itu, pekan lalu Euro terhadap dollar terpantau melemah tipis ke 1.1107. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1225 dan kemudian 1.1281, sementara support pada 1.1027 dan 1.0922.

Pound sterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.2157 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2458 dan kemudian 1.2577, sedangkan support pada 1.2078 dan 1.1986. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah tajam ke level 106.57.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 109.32 dan 109.93, serta support pada 105.65 serta level 105.13. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah ke level 0.6800. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6917 dan 0.6996, sementara support level di 0. 6666 dan 0.6532.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum berakhir di zona merah diguncang oleh memanasnya tensi dagang AS – China kembali. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 21,087. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 21589 dan 21823, sementara support pada level 20924 dan lalu 20646. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir terjerumus ke level 26,918. Minggu ini akan berada antara level resistance di 28275 dan 28809, sementara support di 28080 dan 27985.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau tergelincir signifikan oleh rencana AS yang akan menambah tariff impor China 10% serta data pertambahan tenaga kerja AS yang melambat. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah signifikan ke level 26,485.01, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 27281 dan 27398, sementara support di level 26249 dan 26958. Index S&P 500 minggu lalu melemah tajam ke level 2,932.05, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3017 dan 3027, sementara support pada level 2912 dan 2874.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau menguat kembali oleh terkoreksinya dollar, memanasnya tensi perang dagang dan tren pemangkasan bunga secara global, sehingga harga emas spot menanjak kuat ke level $1,440.53 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1452 dan berikut $1487, serta support pada $1400 dan $1381.

Isyu gejolak pasar karena tensi perang dagang antara AS dengan China terus mengemuka. Isyu lain, seperti rencana lanjutan the Fed dan bank sentral global lainnya untuk memangkas suku bunganya bisa begitu menggerakkan pasar. Kita melihat bahwa faktor fundamental ekonomi serta politik begitu signifikan dalam memengaruhi pasar. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator perekonomian dan yang terkait tersebut. Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here