Apakah Katalisator Baru Untuk Kenaikan Harga Emas Akan Muncul Minggu Ini?

1577

(Vibinews-Column) – Emas sedang menunggu katalisator baru yang bisa mendorong naik dan respon Arab Saudi terhadap serangan drone pada minggu lalu bisa menyalakan kembali tren bullish dari emas.

Harga emas naik secara moderat dan harga perak naik tajam pada awal perdagangan sesi Amerika Serikat kemarin malam. Keengganan terhadap resiko di pasar dunia telah kembali merangkak masuk memulai minggu perdagangan yang baru, dengan masih adanya ketidakpastian di medan geopolitik.

Metal kuning sedang stabil diatas $1,500 per ons dengan harga meningkat sekitar 1.38% atas basis mingguan. Emas berjangka Comex bulan Desember terakhir diperdagangkan di $1,520.20 per ons.

Minggu yang penuh dengan kejadian dimulai dengan reaksi pasar terhadap serangan pada tanggal 14 September atas dua fasilitas minyak Arab Saudi. Washington dan Riyadh menuduh Iran atas serangan ini, dengan Iran menyangkal keterlibatan dalam bentuk apapun.

Katalisator emas yang baru pada minggu ini bisa datang dari respon Arab Saudi terhadap serangan drone ini.

Pada hari Jumat minggu lalu, Amerika Serikat merespon dengan mengenakan sanksi yang baru atas Iran, termasuk terhadap bank sentral negara itu. Di dalam pernyataan yang mengumumkan sanksi tersebut, Sekretaris Treasury Amerika Serikat Steven Mnuchin mengatakan,”Serangan yang terlalu berani dari Iran terhadap Arab Saudi adalah tidak dapat ditolerir.”

Kepala ekonom komoditi dari Capital Economics Caroline Bain mengatakan,”Setiap tanda-tanda dari meningkatnya ketegangan atau pembalasan akan menjadi faktor yang positip bagi harga emas. Kami memperkirakan akan ada pembelian safe-haven jika hal ini terjadi.”

ABN Amro di dalam catatannya baru-baru ini memperingati bahwa kenaikan signifikan di dalam harga minyak bisa memicu resesi.

Kepala ekonom ABN Amro Han de Jong menulis,”Resesi pada tahun 1970an disebabkan oleh guncangan harga minyak sebagaimana juga resesi pada tahun 1990 an”.

Menggali Perpecahan Di Dalam The Fed

Penggerak kunci bagi emas adalah pasar menggali meningkatnya perpecahan di Federal Reserve.

Pada hari Rabu minggu lalu, the Fed memangkas tingkat suku bunga sebanyak 25 basis poin ke level diantara 1.75% dan 2.0%, sementara menyuarakan sedikit yang lebih “hawkish” daripada yang diantisipasikan oleh pasar. Bank sentral tidak memperkirakan pemangkasan tingkat bunga pada tahun 2019 atau 2020 sementara menekankan bahwa setiap keputusan tingkat bunga akan terus meningkat di dalam ketergantungan akan data.

Meskipun outlook dari the Fed agak “hawkish”, ada pertumbuhan perpecahan diantara anggota the Fed. Apabila kita memperinci pemangkasan tingkat bunga dari the Fed yang terbaru terlihat bahwa tiga presiden regional dari the Fed memberikan suara “tidak” namun untuk alasan yang berbeda. Dua dari mereka ingin agar tidak ada perubahan di dalam tingkat suku bunga, sementara orang yang ketiga menginginkan pemangkasan tingkat bunga yang lebih besar lagi.

Presiden Federal Reserve St. Louis James Bullard menjelaskan alasannya kenapa dia mengingini pemangkasan sebesar 50 basis poin.

Bullard berkata bahwa menurut pandanganya adalah manajemen resiko yang berhati-hati untuk memangkas tingkat suku bunga secara agresif sekarang dan menaikkannya kemudian apabila resiko penurunan tidak material. Sektor manufaktur AS kelihatannya sudah mengalami resesi.

Menurut Bain dari Capital Economics pasar kemungkinan masih kecewa dengan the Fed karena ekspektasi pasar yang terlalu “dovish”.

Wall Street & Main Street

Meskipun sentimen “bullish” emas terus berlanjut, lebih banyak analis Wall Street yang mengarah ke “sidelines” dengan metal kuning memerlukan katalis yang baru untuk naik lebih tinggi.

Sementara, para investor Main Street tetap “bullish” dengan kuat atas emas dalam jangka pendek.

Dari 19 profesional pasar yang mengambil bagian di dalam survey Wall Street, sebanyak 9 suara atau 47% memandang emas naik. Sementara 4 analis atau 21% mengatakan harga emas akan turun dalam jangka pendek. 6 analis sisanya atau 32% memandang “sideways”.

Sementara, dari 1.033 responden yang mengambil bagian di dalam polling Main Street, 613 suara atau 59% memandang emas akan naik sedangkan 244 atau 24% memprediksi emas akan jatuh. Sisa 176 suara atau 17% memandang pasar “sideways”.

Emas Bergerak Dalam Rentang Yang Ketat

Bill Baruch, Presiden Blue Line Futures mengatakan,”sepanjang emas terus diperdagangkan diatas $1,500 per ons, analis masih akan tetap bullish. Saya tidak berencana untuk menjadi bearish sampai harga emas ditutup dibawah area $1,484. Sedangkan apabila berhasil naik menembus $1,530 akan menghidupkan kembali tren bullish.

Analis metal berharga dari Standard Chartered Suki Cooper mengatakan bahwa adan batas bawah harga emas yang baru yang mendukung kenaikan harga emas, yaitu harga emas di $1,450. Pembelian dari bank sentral telah membantu menaikkan harga bawah ini. Cooper memproyeksikan rally emas akan berlanjut setelah koreksi jangka pendek.

Emas bisa diperdagangkan pada rentang harga yang sempit pada minggu ini, kata Kepala strategi global dari TD Sekuritas, Bart Melek. Rentang metal kuning untuk jangka pendek adalah diantara $1,480 dan $1,500.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here