Faktor – Faktor Peningkatan Harga Minyak Sawit

1624

(Vibiznews – Commodity) – Pada artikel di akhir minggu ini ada beberapa faktor yang membuat harga minyak sawit kembali berbalik meningkat sebelum memasuki kuartal ke empat di tahun 2019.

Harga minyak sawit Desember naik 1.1% di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menjadi 2,169 ringgit per ton pada penutupan pasar hari Kamis.

Harga minyak sawit sempat turun ke terendah enam minggu pada awal minggu ini karena persediaan diperkirakan meningkat, namun harga kembali naik karena beberapa faktor positif yang terjadi selama minggu ini.

Adapun Faktor – faktor yang menyebabkan harga minyak sawit kembali meningkat pada hari Kamis karena hal-hal berikut :


I.Persediaan Menurun:

Persediaan minyak sawit di Malaysia naik ke tertinggi menjadi sebesar 3.2 juta ton sampai akhir 2018, namun persediaannya turun ke terendah enam bulan pada bulan Agustus menjadi 2.25 juta ton Menurut Direktur MPOB pada konperensi di India memperkirakan persediaan akan turun dibawah 2 juta ton pada akhir kuartal ke empat.

II.Ekspor Minyak Sawit Meningkat :
Pada hari Rabu lalu memperkirakan India akan meningkatkan import minyak sawit pada 2019/20 sebesar 2% dari tahun lalu karena permintaan minyak nabati itu akan meningkat lebih besar dari persediaan local
Perkiraan ekspor 2019 naik 10% dari tahun menjadi 18.2 juta per ton naik dari 16.5 juta ton di 2018.

III.Produksi Minyak Sawit Turun
Perkiraan produksi minyak sawit Malaysia tahun ini turun menjadi 20 juta ton, dari perkiraan 20.3 juta ton tahun lalu. Sementara perkiraan produksi 2020 naik 20.5 juta ton.

IV. Faktor Cuaca
Cuaca kering dan berasap di Asia Tenggara mempengaruhi produksi dari minyak sawit sehingga produksi berkurang tahun ini, karena tanaman sawit membutuhkan kelembaban yang maksimal untuk menghasilkan buahnya.
Persediaan dari minyak sawit akan sesuai dengan pola yang biasa meningkat sampai bulan Nopember, setelah itu produksi minyak sawit akan turun sesuai pola normal tetapi akibat dari pengurangan penggunaan pupuk dua tahun terakhir dan cuaca kering sekarang.

V. Meningkatnya penggunaan Biodiesel

Melemahnya produksi minyak sawit bertepatan dengan perkembangan dari kebutuhan biodiesel di Asia Tenggara, sehingga persediaan dari minyak sawit berkurang. Perbedaan antara harga CPO Eropa dengan minyak Brent naik dari USD85 menjadi USD190 pada kuartal ke dua tahun 2020.

Indonesia dan Malaysia dua Negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia meningkatkan pemakaian biodiesel sehingga konsumsi bertambah dan persediaan berkurang.

Pemerintah Indonesia memberikan peraturan penggunaan biodiesel yang mengandung 20% minyak sawit yang terkenal dengan program B20 dan di Januari 2020 meningkat menjadi B30.

Pemerintah Malaysia memberikan peraturan penggunaan biodiesel yang menggunakan 7% sampai 10% minyaksawit pada tahun ini dan program B20 pada tahun 2020.

Dengan adanya peraturan tersebut produksi biodiesel Malaysia mencapai 1.3 juta ton tahun ini sedangkan di Indonesia sebesar 7 juta ton.

Tahun depan Indonesia akan menerapkan penggunaan B30 sehingga menaikan produksi biodiesel diatas 8 juta ton, sekalipun ekspor ke Eropa berkurang, sementara di Malaysia produksi biodiesel akan mencapai 1.6 juta ton di tahun 2020.

Sementara harga CPO di Eropa diperkirakan akan naik menjadi $620 per ton atau $570 FOB, pada kuartal pertama 2020, karena penurunan persediaan.

Harga minyak sawit biasanya sejalan dengan harga minyak nabati lain yaitu harga minyak kedelai di CBOT turun 0.4% di pertengahan sesi, dan ditutup naik 0.1%, kenaikan harga minyak kedelai di AS karena pengaruh peningkatan ekspor kedelai AS ke Cina.

Analisa tehnikal pada minyak sawit support pertama pada 2,028 ringgit dan berikut di 1,921 ringgit sedangkan resistant pertama di 2,409 ringgit dan berikut ke 2,511 ringgit.

Loni T / Analyst Vibiz Learning Centre – Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here