(Vibiznews-Stocks), Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan. Di awal tahun 2012 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi instruksi kepada menteri BUMN, Dahlan Iskan, untuk melaksanakan IPO bagi BUMN dengan tujuan memaksimalkan potensi BUMN yang ada. Akan ada delapan BUMN yang rencananya akan go public.
Sebelum memberikan ekspektasi pada delapan BUMN tersebut, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu kinerja delapan belas (18) saham BUMN yang sudah terdaftar pada Bursa Efek Indonesia, sebagai patokan untuk menentukan minat pada 8 saham BUMN baru nanti.
BBNI, BBRI,BBTN, dan BMRI
Keempat saham ini merupakan saham yang berada di sektor perbankan. Di industri Perbankan, BBRI merupakan emiten dengan pertumbuhan yang paling tinggi, yaitu 33,33% sepanjang tahun 2011 sampai dengan 26 Januari 2012. Dilihat dari sisi fundamental, BBRI juga merupakan emiten dengan kinerja terbaik bila dilihat dari ROE dan ROA nya yaitu 29,25% dan 3,46%. Di tempat kedua, BBRI memiliki pertumbuhan positif dan kinerja secara fundamental yang baik, walau masih dibawah BBCA yang berstatus bank swasta.
Sementara itu, sepanjang 2011, pertumbuhan untuk BBNI dan BBTN bisa dikatakan kurang baik, kedua emiten ini memiliki pertumbuhan yang negatif dan secara fundamental masih kalah dibanding BBRI. Melihat performa tahun 2011, di tahun 2012, keempat saham BUMN ini memiliki potensi yang cukup baik, akan tetapi potensi terbesar ada pada BBRI disusul dengan BMRI.
INAF dan KAEF
Kedua saham ini berada pada sektor aneka industri. Dari seluruh saham BUMN, kedua saham ini memberikan return yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan harga saham yang diatas 100%. INAF dan KAEF masing-masing tumbuh sebesar 143,75% dan 157,86%. Hanya saja, disayangkan bahwa kedua perusahaan ini kapitalisasinya belum terlalu besar.
Pada kuartal ketiga 2011, laba bersih dari KAEF meningkat menjadi Rp 120,4 miliar dari tahun 2010 yang hanya Rp 38,9 miliar. Sementara itu,sangat disayangkan bahwa INAF masih mengalami kerugian walau berkurang menjadi 23,3 miliar dibanding tahun 2010 yang mencapai 41,4 miliar. Kedua perusahaan ini masih kalah jauh apabila dibandingkan pesaing dalam industri yang sama, yaitu PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)yang memiliki tingkat ROE dan ROA yang lebih tinggi, yaitu 22,4% dan 18,9%.
Bagi KAEF, walaupun volume perdagangannya cukup minim, namun fundamental yang baik selama 2011 masih memungkinkan adanya potensi pada tahun 2012.
Bagi INAF, volume perdagangan yang cukup tinggi dan pertumbuhan harga yang spektakuler di tahun 2011 belum bisa menjadi pegangan dalam menentukan prospek saham ini. Dengan fundamental yang masih kurang baik, saham ini menjadi kurang berpotensi selama 2012 mendatang.
WIKA, ADHI, dan PTPP
Ketiga saham ini termasuk dalam bidang konstruksi. Pertumbuhan yang dialami ketiganya adalah negatif. Pada kuartal ketiga 2011, Laba bersih WIKA naik menjadi Rp 215 miliar dari tahun 2010 sebelumnya yaitu sebesar Rp 204 miliar. PTPP pun dalam periode yang sama mencatat laba bersih yang meningkat menjadi Rp 61 miliar dari sebelumnya yang hanya Rp 46,6 miliar. Sedangkan ADHI mengalami penurunan laba bersih menjadi Rp 30,2 miliar dibanding tahun sebelumnya yaitu Rp 75,7 miliar.
Selain ADHI, terlihat ada peningkatan kinerja pada saham BUMN bidang konstruksi ini. Namun itupun masih kalah dibanding dengan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) yang ROE dan ROA nya mencapai 17% dan 6,73% dibanding PTPP (6,44% dan 1,39%) dan WIKA (13,73% dan 3,98%). Dengan melihat kinerja pada tahun 2011, maka WIKA, ADHI dan PTPP belum memiliki prospek yang baik untuk tahun 2012.
PGAS dan PTBAPGAS dan PTBA merupakan emiten yang masuk dalam industri energi.

Kedua saham ini juga termasuk saham yang kurang menggembirakan berdasarkan pertumbuhan harganya yang negatif selama 2011.
Pada kuartal ketiga 2011, Laba PTBA berjumlah Rp 2,3 triliun, meningkat dibanding periode sama tahun 2010 yang hanya sebesar Rp 1,39 triliun. Sementara itu, PGAS mencatat laba bersih sebesar 4, 506 triliun, turun bila dibandingkan kuartal ketiga 2010 yang sebesar 4,69 triliun.
Nilai ROE dan ROA PTBA yang sebesar 37,78% dan 29,27% termasuk cukup baik diantara kompetitor dalam industri sejenis, walupun masih agak kalah dengan ITMG yang sebesar 49,05% dan 32,14%. Sedangkan PGAS memiliki ROE dan ROA yang jauh lebih baik daripada kompetitor utamanya, yaitu LAPD dengan tingkat ROE dan ROA hanya sebesar 1,82% dan 1,06%.
Berdasarkan kinerja pada tahun 2011 yang baik dan volume perdagangan yang cukup besar, PTBA memiliki potensi yang cukup baik pada 2012. Sedangkan untuk PGAS, kinerja pada tahun 2011 masih cenderung kurang bila dilihat dari penurunan laba bersih yang dialaminya, maka pada 2012 PGAS belum memiliki prospek yang baik.
(Debora Maria/WS/vbn)