Home Tags Posts tagged with "nikel"

0 761

Pelantikan Joko Widodo sebagai presiden Indonesia ke-7 pada Senin 20 Oktober 2014, diperkirakan akan menjadi awal dari kelanjutan fundamental pada harga logam dunia. Posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil utama logam-logam seperti nikel, tembaga, dan timah akan menjadi faktor penentu pergerakan harga logam di pasar komoditas global.

Pada awal tahun 2014 di masa kepemimpinan Presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, harga logam-logam di pasar komoditas dunia sempat melejit akibat kebijakan pelarangan ekspor biji mentah Indonesia. Diberlakukannya kewajiban untuk mengolah biji mentah terlebih dahulu sebelum kegiatan ekspor pada logam, membuat supply global mengalami gangguan kuat.

Upaya yang diberlakukan dalam rangka meningkatkan penyerapan tenaga kerja domestik sekaligus menguatkan nilai tambah ekspor tersebut, membuat pasar logam global khawatir akan terjadinya kelangkaan.

Namun, sentimen yang sempat menjadi determinan terkuat pada logam-logam di pasar global khususnya pada nikel dan timah tersebut kini mulai perlahan melemah. Harga nikel yang sempat naik

0 405

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Kamis 2 Oktober 2014 terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Penguatan harga nikel di bursa LME dipicu oleh penguatan daya beli seiring pelemahan nilai Dollar AS dan dorongan rebound pasca harga menyentuh level terendah 6 bulan.

Pergerakan harga nikel di bursa LME yang cenderung terus melemah di Bursa LME akibat sentimen penumpukan supply di gudang bursa terpantau berhasil rebound pada perdagangan Kamis lalu di LME. Rebound harga yang dipicu oleh relatif sangat rendahnya harga dan support nilai Dollar AS, membuat pergerakan harga dapat ditutup menguat cukup signifikan meskipun fundamental masih negatif.

Adapun sebelumnya pergerakan harga nikel berada dalam trend bearish kuat sepanjang September 2014. Pada rentang periode tersebut, harga nikel bahkan jatuh hingga 10,63% ke tingkat harga $16.600/ton atau melemah hingga $1.975/ton. Adapun pelemahan tersebut dilandasi oleh posisi persediaan nikel LME yang naik hingga 8,88% sepanjang September ke level

0 308

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Kamis 18 September 2014 terpantau ditutup melemah. Pelemahan harga nikel dipicu oleh penguatan nilai Dollar Amerika Serikat dan sentimen sisi supply yang terus meningkat.

Pergerakan nilai Dollar Amerika Serikat di pasar valuta asing terpantau memicu harga nikel untuk semakin melemah di LME. Sejauh ini, harga nikel di LME telah melemah dalam 6 hari beruntun hingga ke level terendah 5 bulan. Adapun nilai Dollar Amerika Serikat menyebabkan pelemahan harga nikel akibat pelemahan daya beli dan peralihan pola investasi para investor.

Selain faktor penguatan nilai Dollar Amerika Serikat di pasar valuta asing, harga nikel juga masih tertekan sentimen sisi supply. Persediaan nikel di gudang LME yang pada Kamis lalu kembali meningkat hingga ke level 339.228 ton, semakin menguatkan tekanan pada harga nikel akibat penumpukan persediaan.

Pada penutupan perdagangan Kamis lalu di bursa London Metal Exchange, harga nikel terpantau ditutup

0 199

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Rabu 17 September 2014 terpantau ditutup melemah tipis. Pelemahan harga nikel di bursa LME dipicu oleh aksi wait and see para investor terhadap keputusan penetapan suku bunga AS oleh The Fed.

Posisi wait and see para investor terhadap keputusan penetapan suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed yang belum dirilis pada perdagangan Rabu lalu terpantau memicu harga nikel untuk bergerak flat di LME. Pentingnya data The Fed terhadap pasar komoditas dalam kaitannya pada pola investasi dan juga daya beli investor asing, memicu aksi beli untuk melemah akibat posisi tunggu para investor. Dampak dari hal tersebut harga nikel pun bergerak flat di perdagangan Rabu lalu.

Sebelumnya, harga nikel di bursa LME telah berada dalam trend bearish kuat akibat tekanan sentimen sisi supply. Posisi persediaan nikel di bursa LME yang terus naik cukup signifikan sejak pertengahan Juni hingga terakhir pada

0 114

Harga nikel di Bursa LME pada penutupan perdagangan pekan lalu, 26-29 Agustus 2014 terpantau ditutup melemah secara agregat sepekan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen dari persediaan nikel LME yang kembali melambung memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Pergerakan harga nikel di LME pada perdagangan pekan lalu terpantau masih sangat terpengaruh oleh posisi persediaan nikel di gudang LME. Arahan yang semakin melemah dari kebijakan larangan biji mentah Indonesia semakin membuat pergerakan sangat fokus terhadap posisi supply nikel. Adapun stok persediaan yang kembali melonjak memicu harga nikel untuk kembali melemah secara agregat sepekan akibat peningkatan persediaan dari 325.781 ton ke 329.136 ton.

Walaupun demikian, pergerakan harga nikel pada pekan lalu lebih didominasi pergerakan menguat meskipun persediaan terus meningkat. Sepanjang 4 hari perdagangan pekan lalu, harga nikel 3 kali mengalami penguatan. Penguatan tersebut lebih dilandasi oleh aksi beli para investor pasca penurunan tajam harga pekan sebelumnya

0 150

Harga nikel di Bursa London Metal Exchange pada perdagangan Senin 18 Agustus 2014 terpantau ditutup melemah. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen negatif dari persediaan nikel di gudang LME yang terus memecahkan rekor tertinggi baru hingga diatas 320.000 ton.

Persediaan nikel di Bursa LME yang terus melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir terpantau masih melanjutkan gerusan terhadap harga nikel. Persediaan nikel yang naik pada Senin lalu hingga 324.984 ton pada Senin lalu membuat harga nikel melemah akibat penumpukan supply yang makin besar di gudang LME.

Sebelumnya, harga nikel LME telah melambung hingga kisaran diatas $21.000/ton pada Mei lalu akibat larangan ekspor biji mentah Indonesia. Puncaknya, harga nikel mencapai tingkat harga tertinggi di 21.100 pada 13 Mei 2014. Posisi persediaan gudang LME pada saat itu, jauh lebih rendah dibandingkan posisi saat ini. Dengan posisi persediaan nikel di gudang yang saat itu berada di level

0 437

Larangan pemerintah Indonesia terhadap ekspor bijih besi pada awal tahun ini telah memacu investasi dalam negeri sebanyak $ 18 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan sampai dengan tahun 2017, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebagian besar investor dari Tiongkok berencana setidaknya akan membangun 64 fasilitas untuk memproses nikel, bauksit dan logam lainnya, R. Sukhyar, direktur jenderal mineral dan batubara, mengatakan dalam sebuah wawancara. Sampai akhir tahun 2014 nanti, diperkirakan nilai investasi akan mencapai $ 4.9 miliar.  

Harga nikel yang digunakan untuk membuat stainless steel telah mengalami penguatan sebanyak 56 persen tahun ini, naik menjadi $ 21.625 per metrik ton pada bulan Mei. Sementara di bursa berjangka LME (London Metal Exchange) nikel diperdagangkan 0,4 persen lebih tinggi yaitu di harga $ 18.820 per ton, naik untuk hari ketiga. Harga akan tetap di atas $ 18.000 pada tahun ini, kata Sukhyar.

Jumlah smelter nikel yang akan dibangun para adalah sebanyak 30 yang

0 331

Harga nikel pada perdagangan Rabu 6 Agustus 2014 di Bursa LME terpantau ditutup melemah signifikan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh kembali pecahnya rekor tertinggi baru pada persediaan nikel di gudang LME.

Pergerakan persediaan nikel di gudang LME yang kembali memecahkan rekor tertinggi baru, kembali berdampak pada anjloknya harga nikel di LME. Persediaan nikel di gudang LME yang kini berada di level 317.874 ton, memberi tekanan kepada harga akibat penumpukan persediaan di nikel siap kirim di bursa. Tekanan dari persediaan nikel tersebut, terpantau telah menjadi momok pada pergerakan harga nikel LME sejak pertengahan Juli 2014.

Sebelumnya, posisi supply nikel justru menjadi dorongan fundamental kuat yang mengangkat harga nikel hingga level tertinggi 2 tahun. Hal tersebut disebabkan oleh hilangnya aliran pengiriman nikel asal Indonesia akibat kebijakan larangan ekspor biji mentah Indonesia. Posisi Indonesia pada pasar nikel global, merupakan penghasil nikel terbesar global dengan total produksi

0 383

Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan pekan lalu, 28 Juli-1 Agustus 2014, terpantau ditutup melemah signifikan secara agregat sepekan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen negatif kuat dari persediaan gudang di LME yang terus meningkat ke rekor tertinggi baru.

Tekanan kuat dari tingginya persediaan nikel di gudang LME, terpantau masih menjadi momok terhadap pergerakan harga nikel. Persediaan nikel yang kembali naik hingga 1,75% dalam sepekan dari 312.156 ton ke 317.628 ton, membuat harga nikel terus turun akibat sentimen dari tekanan sisi supply.

Pergerakan melemah dari sisi supply pun, terpantau semakin memburuk pasca rilis data manufaktur global pada akhir pekan lalu. Data manufaktur global yang berada dalam kondisi negatif padaInggrismemicu harga nikel kian tergerus akibat potensi pelemahan demand terhadap nikel LME. Hal tersebut, bahkan menutup sentimen positif dari peninglatan sektor manufaktru Jerman dan AS serta pasar logam terbesar dunia yaitu Tiongkok yang mengalami

0 288

Harga logam-logam di Bursa LME pada perdagangan Kamis 31 Juli 2014 terpantau ditutup dengan penguatan pada tembaga dan timah, sedangkan nikel justru mengalami pelemahan. Kecenderungan penguatan pada harga logam di Bursa LME dipicu oleh dorongan aksi beli serta kondisi sentimen dari sisi supply pada logam-logam LME.

Pergerakan harga logam-logam di Bursa LME pada perdagangan Kamis lalu, terpantau mengalami kecenderungan untuk menguat jelang rilis data-data manufaktur global pada Jumat 1 Agustus 2014. Harga timah yang pada Kamis lalu harus ditutup anjlok, bahkan kembali naik signifikan. Sementara pada pergerakan harga tembaga, terus melemahnya harga tembaga dalam pekan ini, terpantau mengakhiri trend tersebut pada perdagangan kemarin. Namun, harga nikel justru mengalami pelamahan akibat penumpukan persediaan di gudang LME.

Pada perdagangan timah di LME kemarin, harga timah terpantau ditutup menguat akibat masih adanya dorongan sentimen positif dari potensi kelangkaan akibat kebijakan ekspor Indonesia. Imbas dari hal tersebut harga timah LME

0 283

Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan Rabu 30 Juli 2014 terpantau ditutup menguat signifikan. Penguatan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh rilis data GDP kuartal 2 Amerika Serikat yang mengindikasikan potensi penguatan demand nikel di pasar AS.

Pengaruh data GDP kuartal AS yang rilis pada Rabu lalu, terpantau cukup kuat untuk mempengaruhi harga nikel di Bursa LME. Ekspektasi akan peningkatan demand dari pasar AS, pasca rilis data tersebut, berhasil meningkatkan harga nikel yang sebelumnya melemah akibat ketidakpastian persediaan nikel di LME yang terus meningkat dan terpantau masih naik sebesar 1.680 ton pada Rabu lalu.

Berdasarkan data GDP kuartal 2 AS yang baru rilis pada Rabu kemarin, pertumbuhan perekonomian Amerika Serikat naik hingga 4% dari sebelumnya -2,1% dan melebihi ekspektasi di 2,9%. Dampak dari data tersebut, peningkatan perekonomian AS menumbuhkan harapan peningkatan permintaan nikel untuk kebutuhan perekonomian AS yang sedang tumbuh.

Pada perdagangan Rabu

0 244

Harga logam-logam di LME sepertin nikel, tembaga, dan timah pada perdagangan Kamis 24 Juli 2014 terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Penguatan harga logam di Bursa LME dipicu oleh rentetan data manufaktur global yang rilis pada Kamis lalu.

Rilis beberapa data manufaktur global pada Kamis lalu terpantau cenderung memberikan dampak sentimen positif terhadap pergerakan harga logam di LME. Data-data manufaktur dari negara Tiongkok, Jerman, dan kawasan Uni Eropa yang menguat membuat indikasi akan adanya peningkatan demand logam di pasar global meskipun data serupa di AS dan Prancis mengalami penurunan.

Berdasarkan data-data manufaktur tersebut, data Tiongkok menjadi hal yang lebih difokuskan oleh para investor akibat posisi Tiongkok selaku pengguna logam terbesar dunia. Dari data HSBC Flash Manufacturing PMI Tiongkok, sektor manufaktur Tiongkok dikabarkan naik ke level 52 dari sebelumnya di 50,7 dengan ekspektasi awal di 51. Masih dari perkembangan data manufaktur Asia, data markit flash manufacturing PMI Jepang, berbalik dengan Tiongkok justru melemah 0,7

To show sotck chart