Home Tags Posts tagged with "nikel"

0 483

Pelantikan Joko Widodo sebagai presiden Indonesia ke-7 pada Senin 20 Oktober 2014, diperkirakan akan menjadi awal dari kelanjutan fundamental pada harga logam dunia. Posisi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil utama logam-logam seperti nikel, tembaga, dan timah akan menjadi faktor penentu pergerakan harga logam di pasar komoditas global.

Pada awal tahun 2014 di masa kepemimpinan Presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono, harga logam-logam di pasar komoditas dunia sempat melejit akibat kebijakan pelarangan ekspor biji mentah Indonesia. Diberlakukannya kewajiban untuk mengolah biji mentah terlebih dahulu sebelum kegiatan ekspor pada logam, membuat supply global mengalami gangguan kuat.

Upaya yang diberlakukan dalam rangka meningkatkan penyerapan tenaga kerja domestik sekaligus menguatkan nilai tambah ekspor tersebut, membuat pasar logam global khawatir akan terjadinya kelangkaan.

Namun, sentimen yang sempat menjadi determinan terkuat pada logam-logam di pasar global khususnya pada nikel dan timah tersebut kini mulai perlahan melemah. Harga nikel yang sempat naik hingga ke level $21.100/ton pada 13 Mei lalu, kini telah jatuh ke level $15.600/ton pada 17 Oktober 2014 di bursa patokan global yaitu LME.

Ketidakpastian arah kebijakan Indonesia seiring pergantian presiden pun menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga logam tersebut terdorong melemah dan diperburuk oleh lesunya perekonomian global yang menggerus ekspektasi demand. Para investor masih terindikasi menunggu arah kebijakan lanjutan oleh presiden terpilih Indonesia yaitu Joko Widodo apakah akan melanjutkan larangan ekspor biji mentah ataupun membatalkan regulasi tersebut dengan memperbolehkan ekspor biji mentah.

Dari sisi ketidakpastian, sebelum terpilih menjadi presiden, Joko Widodo pernah berujar bahwa kebijakan larangan ekspor biji mentah tetap akan diberlakukan dalam penyampai visi dan misi pilpres 2014. Berlandaskan dari pernyataan tersebut, sentimen terhadap pergerakan harga logam khususnya nikel kembali mendapatkan sentimen arahan yang positif.

Namun, pergerakan harga sejak rilis pernyataan tersebut dan indikasi bahwa Joko Widodo memenangkan pilpres Indonesia, harga nikel justru terus jatuh meskipun pergerakan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti jumlah persediaan gudang yang naik di LME dan perekonomian Eropa yang lesu.

Berdasarkan kondisi pergerakan tersebut, indikasi terlihat cukup jelas bahwa investor juga turut menanti ketegasan terkait kebijakan ekspor biji mentah Indonesia. Dimungkinkan, posisi investor saat ini masih meragukan pola pengambilan kebijakan Joko Widodo dengan menggunakan landasan ucapan sebelum pemilihan presiden dengan realisasi.

Posisi sangsi terhadap arah kebijakan pun mungkin cukup goyah, pasca janji susunan kabinet non-transaksional telah terbantahkan dengan proporsi rencana 14 profesional dan 20 dari partai politik. Selain terbantahkannya janji terkait kabinet yang membuat posisi sangsi terhadap janji pra-pilpres, kondisi perpolitikan pun terlihat masih belum stabil yang terindikasi oleh masih panasnya persaingan antara kubu pemerintah dan oposisi di sidang untuk penentuan pimpinan MPR dan juga DPR sehingga arah kebijakan pun semakin cenderung buram.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka kelanjutan gebrakan terkait posisi sangsi investor global terhadap arah kebijakan Indonesia khususnya terkait larangan ekspor biji mentah diperkirakan akan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Adapun kondisi demand global yang sedang lemah, membuat kepastian akan kelanjutan kebijakan akan sangat bernilai dalam menentukan arah investasi dalam periode mendatang untuk mengetahui prospek supply logam-logam global asal Indonesia.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

 

0 248

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Kamis 2 Oktober 2014 terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Penguatan harga nikel di bursa LME dipicu oleh penguatan daya beli seiring pelemahan nilai Dollar AS dan dorongan rebound pasca harga menyentuh level terendah 6 bulan.

Pergerakan harga nikel di bursa LME yang cenderung terus melemah di Bursa LME akibat sentimen penumpukan supply di gudang bursa terpantau berhasil rebound pada perdagangan Kamis lalu di LME. Rebound harga yang dipicu oleh relatif sangat rendahnya harga dan support nilai Dollar AS, membuat pergerakan harga dapat ditutup menguat cukup signifikan meskipun fundamental masih negatif.

Adapun sebelumnya pergerakan harga nikel berada dalam trend bearish kuat sepanjang September 2014. Pada rentang periode tersebut, harga nikel bahkan jatuh hingga 10,63% ke tingkat harga $16.600/ton atau melemah hingga $1.975/ton. Adapun pelemahan tersebut dilandasi oleh posisi persediaan nikel LME yang naik hingga 8,88% sepanjang September ke level 358.374 ton.

Pada penutupan perdagangan Kamis 2 Oktober 2014 di bursa LME, harga nikel terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 0,94% ke tingkat harga $16.115/ton atau menguat $150/ton.

Analis Vibiz Research Centre memprediksi harga nikel berpotensi untuk kembali bergerak menguat pada perdagangan hari ini di bursa LME. Hal tersebut dilandasi oleh posisi harga nikel yang sangat rendah dan dapat memicu peningkatan aksi beli para investor.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 265

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Kamis 18 September 2014 terpantau ditutup melemah. Pelemahan harga nikel dipicu oleh penguatan nilai Dollar Amerika Serikat dan sentimen sisi supply yang terus meningkat.

Pergerakan nilai Dollar Amerika Serikat di pasar valuta asing terpantau memicu harga nikel untuk semakin melemah di LME. Sejauh ini, harga nikel di LME telah melemah dalam 6 hari beruntun hingga ke level terendah 5 bulan. Adapun nilai Dollar Amerika Serikat menyebabkan pelemahan harga nikel akibat pelemahan daya beli dan peralihan pola investasi para investor.

Selain faktor penguatan nilai Dollar Amerika Serikat di pasar valuta asing, harga nikel juga masih tertekan sentimen sisi supply. Persediaan nikel di gudang LME yang pada Kamis lalu kembali meningkat hingga ke level 339.228 ton, semakin menguatkan tekanan pada harga nikel akibat penumpukan persediaan.

Pada penutupan perdagangan Kamis lalu di bursa London Metal Exchange, harga nikel terpantau ditutup melemah. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan ditutup turun 0,36% ke tingkat harga $17.940/ton atau melemah $65/ton.

Analis Vibiz Research Centre memprediksi harga nikel di bursa London Metal Exchange pada perdagangan hari ini berpotensi untuk mengalami penguatan. Hal tersebut dilandasi oleh potensi aksi beli pasca terus turunnya harga di LME.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 157

Harga nikel di bursa LME pada penutupan perdagangan Rabu 17 September 2014 terpantau ditutup melemah tipis. Pelemahan harga nikel di bursa LME dipicu oleh aksi wait and see para investor terhadap keputusan penetapan suku bunga AS oleh The Fed.

Posisi wait and see para investor terhadap keputusan penetapan suku bunga Amerika Serikat oleh The Fed yang belum dirilis pada perdagangan Rabu lalu terpantau memicu harga nikel untuk bergerak flat di LME. Pentingnya data The Fed terhadap pasar komoditas dalam kaitannya pada pola investasi dan juga daya beli investor asing, memicu aksi beli untuk melemah akibat posisi tunggu para investor. Dampak dari hal tersebut harga nikel pun bergerak flat di perdagangan Rabu lalu.

Sebelumnya, harga nikel di bursa LME telah berada dalam trend bearish kuat akibat tekanan sentimen sisi supply. Posisi persediaan nikel di bursa LME yang terus naik cukup signifikan sejak pertengahan Juni hingga terakhir pada level 337.992 ton membuat harga nikel LME tertekan cukup kuat.

Pada penutupan perdagangan Rabu lalu di bursa LME, harga nikel terpantau ditutup melemah tipis. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan ke depan ditutup turun 0,03% ke tingkat harga $18.005/ton atau melemah $5/ton.

Analis Vibiz Research Centre memprediksi harga nikel pada perdagangan hari ini berpotensi untuk bergerak menguat. Hal tersebut dilandasi oleh potensi rebound seiring harga nikel yan terus melemah di LME. Walaupun demikian pergerakan diduga akan terbatasi akibat kecenderungan menguatnya nilai Dollar AS meskipun The Fed belum melakukan peningkatan suku bunga AS.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 75

Harga nikel di Bursa LME pada penutupan perdagangan pekan lalu, 26-29 Agustus 2014 terpantau ditutup melemah secara agregat sepekan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen dari persediaan nikel LME yang kembali melambung memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa.

Pergerakan harga nikel di LME pada perdagangan pekan lalu terpantau masih sangat terpengaruh oleh posisi persediaan nikel di gudang LME. Arahan yang semakin melemah dari kebijakan larangan biji mentah Indonesia semakin membuat pergerakan sangat fokus terhadap posisi supply nikel. Adapun stok persediaan yang kembali melonjak memicu harga nikel untuk kembali melemah secara agregat sepekan akibat peningkatan persediaan dari 325.781 ton ke 329.136 ton.

Walaupun demikian, pergerakan harga nikel pada pekan lalu lebih didominasi pergerakan menguat meskipun persediaan terus meningkat. Sepanjang 4 hari perdagangan pekan lalu, harga nikel 3 kali mengalami penguatan. Penguatan tersebut lebih dilandasi oleh aksi beli para investor pasca penurunan tajam harga pekan sebelumnya dan dorongan data perekonomian AS yang cenderung positif.

Pada perdagangan pekan lalu di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup dengan mengalami pelemahan secara agregat sepekan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan ditutup turun 0,80% ke tingkat harga $18.575/ton atau melemah $150/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel masih akan berada dalam tekanan sisi persediaan nikel LME yang terus meningkat. Namun, aksi beli pasca pelemahan tajam harga berpotensi untuk membuat harga nikel dapat menguat tipis pekan ini.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 118

Harga nikel di Bursa London Metal Exchange pada perdagangan Senin 18 Agustus 2014 terpantau ditutup melemah. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen negatif dari persediaan nikel di gudang LME yang terus memecahkan rekor tertinggi baru hingga diatas 320.000 ton.

Persediaan nikel di Bursa LME yang terus melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir terpantau masih melanjutkan gerusan terhadap harga nikel. Persediaan nikel yang naik pada Senin lalu hingga 324.984 ton pada Senin lalu membuat harga nikel melemah akibat penumpukan supply yang makin besar di gudang LME.

Sebelumnya, harga nikel LME telah melambung hingga kisaran diatas $21.000/ton pada Mei lalu akibat larangan ekspor biji mentah Indonesia. Puncaknya, harga nikel mencapai tingkat harga tertinggi di 21.100 pada 13 Mei 2014. Posisi persediaan gudang LME pada saat itu, jauh lebih rendah dibandingkan posisi saat ini. Dengan posisi persediaan nikel di gudang yang saat itu berada di level 278.868 ton, posisi persediaan saat ini telah naik hingga 16,54%.

Pada penutupan perdagangan Senin 18 Agustus 2014 di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup melemah. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan turun 0,43% ke tingkat harga 18.475/ton atau melemah $80/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel berpotensi untuk lanjut melemah pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh potensi penguatan USD yang melemahkan daya beli investor dan masih tingginya persediaan di gudang LME.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 336

Larangan pemerintah Indonesia terhadap ekspor bijih besi pada awal tahun ini telah memacu investasi dalam negeri sebanyak $ 18 miliar untuk pembangunan pabrik pengolahan sampai dengan tahun 2017, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sebagian besar investor dari Tiongkok berencana setidaknya akan membangun 64 fasilitas untuk memproses nikel, bauksit dan logam lainnya, R. Sukhyar, direktur jenderal mineral dan batubara, mengatakan dalam sebuah wawancara. Sampai akhir tahun 2014 nanti, diperkirakan nilai investasi akan mencapai $ 4.9 miliar.  

Harga nikel yang digunakan untuk membuat stainless steel telah mengalami penguatan sebanyak 56 persen tahun ini, naik menjadi $ 21.625 per metrik ton pada bulan Mei. Sementara di bursa berjangka LME (London Metal Exchange) nikel diperdagangkan 0,4 persen lebih tinggi yaitu di harga $ 18.820 per ton, naik untuk hari ketiga. Harga akan tetap di atas $ 18.000 pada tahun ini, kata Sukhyar.

Jumlah smelter nikel yang akan dibangun para adalah sebanyak 30 yang akan memproses sekitar 20 juta ton bijih besi dan diperkirakan target produksi ini akan dicapai saat smelter mulai berfungsi di tahun 2017, kata Sukhyar. Sebelum larangan tersebut, bijih mentah dikirimkan langsung ke China untuk membuat nikel pig iron.

Kelebihan pasokan dibandingkan permintaan akan sebesar 97.100 ton pada tahun 2015, menurut Morgan Stanley, sementara Goldman Sachs Group Inc melihat ada defisit sebesar 200.000 ton di tahun yang sama. Larangan ekspor bijih besi mentah telah mengurangi hasil produksi tambang-tambang di Indonesia sebesar 8,9 persen dari target produksi tahun 2015, demikian pernyataan Morgan Stanley dalam sebuah laporan tertanggal 8 Juli.

Mindo Sianipar/Vibiz Commodity Academy/VM/VBN
Editor : Jul Allens
image: commons.wikipedia.org

0 278

Harga nikel pada perdagangan Rabu 6 Agustus 2014 di Bursa LME terpantau ditutup melemah signifikan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh kembali pecahnya rekor tertinggi baru pada persediaan nikel di gudang LME.

Pergerakan persediaan nikel di gudang LME yang kembali memecahkan rekor tertinggi baru, kembali berdampak pada anjloknya harga nikel di LME. Persediaan nikel di gudang LME yang kini berada di level 317.874 ton, memberi tekanan kepada harga akibat penumpukan persediaan di nikel siap kirim di bursa. Tekanan dari persediaan nikel tersebut, terpantau telah menjadi momok pada pergerakan harga nikel LME sejak pertengahan Juli 2014.

Sebelumnya, posisi supply nikel justru menjadi dorongan fundamental kuat yang mengangkat harga nikel hingga level tertinggi 2 tahun. Hal tersebut disebabkan oleh hilangnya aliran pengiriman nikel asal Indonesia akibat kebijakan larangan ekspor biji mentah Indonesia. Posisi Indonesia pada pasar nikel global, merupakan penghasil nikel terbesar global dengan total produksi mencapai 30% total output global.

Pada perdagangan Rabu 6 Agustus 2014, harga nikel ditutup melemah signifikan di Bursa London Metal Exchange. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan anjlok hingga 0,94% ke tingkat harga $18.400 atau melemah $175/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel akan kembali melemah pada perdagangan hari ini di LME. Hal tersebut dilandasi oleh potensi penguatan nilai USD yang dapat melemahkan daya beli investor.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 311

Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan pekan lalu, 28 Juli-1 Agustus 2014, terpantau ditutup melemah signifikan secara agregat sepekan. Pelemahan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh sentimen negatif kuat dari persediaan gudang di LME yang terus meningkat ke rekor tertinggi baru.

Tekanan kuat dari tingginya persediaan nikel di gudang LME, terpantau masih menjadi momok terhadap pergerakan harga nikel. Persediaan nikel yang kembali naik hingga 1,75% dalam sepekan dari 312.156 ton ke 317.628 ton, membuat harga nikel terus turun akibat sentimen dari tekanan sisi supply.

Pergerakan melemah dari sisi supply pun, terpantau semakin memburuk pasca rilis data manufaktur global pada akhir pekan lalu. Data manufaktur global yang berada dalam kondisi negatif padaInggrismemicu harga nikel kian tergerus akibat potensi pelemahan demand terhadap nikel LME. Hal tersebut, bahkan menutup sentimen positif dari peninglatan sektor manufaktru Jerman dan AS serta pasar logam terbesar dunia yaitu Tiongkok yang mengalami penguatan sektor manufaktur kwe level 51,7% dari sebelumnya di level 51.

Pada perdagangan pekan lalu di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup melemah signifikan secara agregat sepekan. Harga nikel berjangka LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan turun 4,4% ke tingkat harga $18.375/ton atau melemah $855/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel akan cenderung bergerak kembali melemah pada perdagangan. Hal tersebut dilandasi oleh masih kuatnya sentimen negatif dari tekanan persediaan nikel LME yang terus meningkat.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 231

Harga logam-logam di Bursa LME pada perdagangan Kamis 31 Juli 2014 terpantau ditutup dengan penguatan pada tembaga dan timah, sedangkan nikel justru mengalami pelemahan. Kecenderungan penguatan pada harga logam di Bursa LME dipicu oleh dorongan aksi beli serta kondisi sentimen dari sisi supply pada logam-logam LME.

Pergerakan harga logam-logam di Bursa LME pada perdagangan Kamis lalu, terpantau mengalami kecenderungan untuk menguat jelang rilis data-data manufaktur global pada Jumat 1 Agustus 2014. Harga timah yang pada Kamis lalu harus ditutup anjlok, bahkan kembali naik signifikan. Sementara pada pergerakan harga tembaga, terus melemahnya harga tembaga dalam pekan ini, terpantau mengakhiri trend tersebut pada perdagangan kemarin. Namun, harga nikel justru mengalami pelamahan akibat penumpukan persediaan di gudang LME.

Pada perdagangan timah di LME kemarin, harga timah terpantau ditutup menguat akibat masih adanya dorongan sentimen positif dari potensi kelangkaan akibat kebijakan ekspor Indonesia. Imbas dari hal tersebut harga timah LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 1,55% ke tingkat harga $22.950/ton atau menguat $350/ton.

Sejalan dengan pergerakan harga timah, harga tembaga juga terpantau menguat di LME akibat aksi beli para investor pasca terus melemahnya harga tembaga. Harga tembaga LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan pada Kamis lalu ditutup naik 0,78% ke tingkat harga $7.120/ton atau menguat $55/ton.

Sementara pada pergerakan harga nikel LME, pada Kamis lalu, persediaan nikel yang kembali memecahkan rekor tertinggi di LME memicu harga nikel untuk mengalami pelemahan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan ditutup turun 0,13% ke tingkat harga $18.800/ton atau melemah $25/ton.

Terkait untuk pergerakan harga logam-logam di Bursa LME pada perdagangan hari ini, Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi adanya kecenderungan harga logam untuk mengalami penguatan. Hal tersebut dilandasi oleh telah rilisnya data manufaktur Tiongkok yang menguat. Terpantau pada pagi ini, data manufaktur Tiongkok berdasarkan Biro Statistik setempat naik dari level 51 ke 51,7. Sementara pada data HSBC final manufacturing PMI, sektor manufaktur Tiongkok juga dikabarkan menguat dari level 50,7 ke 51,7.

Walaupun demikian, terpantau dari penutupan perdagangan logam di bursa Asia pada siang ini, harga tembaga di Shanghai Future Exchange hanya mengalami penguatan tipis. Terbatasnya penguatan tembaga di SHFE, dipicu oleh masih kuatnya sentimen negatif dari pemberian izin ekspor konsentrat tembaga oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, akan selesainya masa perbaikan smelter-smelter di Tiongkok turut memberikan tekanan akibat potensi peningkatan supply Tiongkok.

 Terkait pergerakan harga tembaga di SHFE pada perdagangan hari ini, tembaga masih dapat ditutup menguat pada perdagangan hari ini. Harga tembaga SHFE untuk kontrak Oktober 2014 naik 0,16% ke tngkat harga 50.530 Yuan/ton atau menguat 80 Yuan/ton.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 234

Harga nikel di Bursa LME pada perdagangan Rabu 30 Juli 2014 terpantau ditutup menguat signifikan. Penguatan harga nikel di Bursa LME dipicu oleh rilis data GDP kuartal 2 Amerika Serikat yang mengindikasikan potensi penguatan demand nikel di pasar AS.

Pengaruh data GDP kuartal AS yang rilis pada Rabu lalu, terpantau cukup kuat untuk mempengaruhi harga nikel di Bursa LME. Ekspektasi akan peningkatan demand dari pasar AS, pasca rilis data tersebut, berhasil meningkatkan harga nikel yang sebelumnya melemah akibat ketidakpastian persediaan nikel di LME yang terus meningkat dan terpantau masih naik sebesar 1.680 ton pada Rabu lalu.

Berdasarkan data GDP kuartal 2 AS yang baru rilis pada Rabu kemarin, pertumbuhan perekonomian Amerika Serikat naik hingga 4% dari sebelumnya -2,1% dan melebihi ekspektasi di 2,9%. Dampak dari data tersebut, peningkatan perekonomian AS menumbuhkan harapan peningkatan permintaan nikel untuk kebutuhan perekonomian AS yang sedang tumbuh.

Pada perdagangan Rabu 30 Juli 2014 di Bursa LME, harga nikel terpantau ditutup menguat signifikan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 1,24% ke tingkat harga $18.825/ton atau menguat $230/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga nikel akan cenderung bergerak melemah terbatas pada perdagangan hari ini di LME. Hal tersebut dilandasi oleh potensi aksi wait and see para investor akibat akan rilisnya data-data manufaktur di Jerman, Uni Eropa, Tiongkok, dan AS pada Jumat mendatang.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

0 189

Harga logam-logam di LME sepertin nikel, tembaga, dan timah pada perdagangan Kamis 24 Juli 2014 terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Penguatan harga logam di Bursa LME dipicu oleh rentetan data manufaktur global yang rilis pada Kamis lalu.

Rilis beberapa data manufaktur global pada Kamis lalu terpantau cenderung memberikan dampak sentimen positif terhadap pergerakan harga logam di LME. Data-data manufaktur dari negara Tiongkok, Jerman, dan kawasan Uni Eropa yang menguat membuat indikasi akan adanya peningkatan demand logam di pasar global meskipun data serupa di AS dan Prancis mengalami penurunan.

Berdasarkan data-data manufaktur tersebut, data Tiongkok menjadi hal yang lebih difokuskan oleh para investor akibat posisi Tiongkok selaku pengguna logam terbesar dunia. Dari data HSBC Flash Manufacturing PMI Tiongkok, sektor manufaktur Tiongkok dikabarkan naik ke level 52 dari sebelumnya di 50,7 dengan ekspektasi awal di 51. Masih dari perkembangan data manufaktur Asia, data markit flash manufacturing PMI Jepang, berbalik dengan Tiongkok justru melemah 0,7 poin ke level 50,8 meskipun diestimasi akan naik ke level 51,9.

Dari kawasan Eropa, data manufaktur juga terpantau berada dalam kondisi mixed, namun cenderung untuk menguat. Berdasarkan data manufaktur yang dirilis kemarin, Jerman dan EU mengalami penguatan sektor manufaktur sedangkan Prancis justru melemah. Pada data manufaktur di Eropa, data Jerman menunjukan sektor manufkatur Jerman naik dari 54 ke 55,9, sektor manufaktur EU naik dari 51,8 ke level 51,9, sedangkan Prancis Turun dari 48,2 ke 47,6. Imbas dari kecenderungan penguatan di data manufaktur tersebut, harga logam LME terangkat akibat ekspektasi akan penguatan demand logam global.

Pada perdagangan Kamis 24 Juli 2014, harga nikel, tembaga, dan timah terpantau ditutup menguat cukup signifikan. Harga nikel LME untuk pengiriman 3 bulan kedepan naik 0,58% ke tingkat harga $19.175/ton atau menguat $110/ton, tembaga naik 1,05% ke tingkat harga $7.145/ton atau menguat $74,5/ton, sementara timah menguat 0,56% ke tingkat harga $22.325/ton atau naik $125/ton.

Sedangkan terkait pergerakan pasar logam di Bursa Asia pada hari ini, harga tembaga di SHFE terpantau ditutup menguat sementara timah KLTM ditutup flat. Harga tembaga bejangka SHFE untuk kontrak September 2014 naik 1,49% ke tingkat harga 51.040 Yuan/ton atau menguat 750 Yuan/ton. Sementara timah KLTM pada hari ini ditutup tanpa mengalami perubahan di tingkat harga $22.280/ton.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga logam-logam LME akan cenderung kembali menguat pada perdagangan hari ini. Hal tersebut dilandasi oleh kuatnya sentimen positif dari data manufaktur global khususnya Tiongkok dan juga Jerman.

 

 

Bagus Aditoro/ Analyst Economy Research at Vibiz Research/VM/VBN
Editor: Jul Allens
image: Wikimedia

To show sotck chart