Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diproyeksikan Tetap Kuat

1396

(Vibiznews – Economy & Business) Bank Indonesia pada hari Kamis (21/03) mengeluarkan keputusan mempertahankan suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%. Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Bank Indonesia dalam rilisnya menyatakan kebijakan tersebut dikeluarkan dalam upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomian, khususnya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

Bank Indonesia juga menyatakan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2019 diperkirakan tetap kuat ditopang permintaan domestik. Konsumsi diperkirakan tetap tinggi, didukung daya beli dan keyakinan konsumen yang terjaga, stimulus fiskal yang berlanjut khususnya melalui belanja sosial, serta belanja terkait persiapan Pemilu. Investasi sedikit melambat pada triwulan I 2019 akibat pola musiman awal tahun, dan diperkirakan kembali menguat pada triwulan-triwulan berikutnya didukung proyek infrastruktur. Namun Bank Indonesia juga menyatakan ekspor neto menurun sejalan dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan menurunnya harga komoditas. Karena itu Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2019 pada kisaran 5,0-5,4%.

Penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tercermin dalam beberapa indikator sebagai berikut

  1. Neraca Pembayaran Indonesia triwulan I 2019 diperkirakan membaik.

Membaiknya neraca pembayaran akan menopang ketahanan eksternal, dimana hal ini didukung aliran masuk modal asing yang tetap besar, yang sampai dengan Februari 2019 mencapai 6,3 miliar dolar AS. Sementara itu, neraca perdagangan mencatat surplus 0,33 miliar dolar AS pada Februari 2019 dipengaruhi penurunan impor nonmigas, di tengah ekspor nonmigas yang juga menurun. Dengan perkembangan ini, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2019 cukup tinggi yakni 123,3 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, akan dilakukan langkah memperkuat ekspor, termasuk peningkatan kinerja sektor pariwisata, dan mengendalikan impor sehingga defisit transaksi berjalan 2019 dapat menuju kisaran 2,5% PDB. Kebijakan juga diarahkan untuk menarik aliran modal untuk membiayai defisit transaksi berjalan.

2. Penguatan Nilai tukar Rupiah.

Hingga 19 Maret 2019, Rupiah menguat 1,05% secara point to point dan 0,85% secara rerata, didukung aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik. Aliran masuk modal asing terutama terjadi di pasar Surat Berharga Negara, sedangkan pasar saham mencatat aliran keluar. Bank Indonesia melihat nilai tukar Rupiah akan bergerak stabil sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga dengan baik.

3. Inflasi menurun dan tetap terkendali.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Februari 2019 mengalami deflasi 0,08% (mtm) atau inflasi 2,57% (yoy), turun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,32% (mtm) atau 2,82% (yoy). Deflasi IHK bersumber dari deflasi kelompok volatile food, sedangkan kelompok inti dan kelompok administered price mencatat inflasi yang rendah. Sementara itu, inflasi inti terkendali didukung konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi. Sejalan dengan itu, inflasi kelompok administered prices juga tetap rendah, dipengaruhi penurunan harga bensin. Ke depan, Bank Indonesia terus konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk mengendalikan inflasi tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran.

4. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan risiko kredit yang terkendali.

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Januari 2019 tetap tinggi yakni 23,1% dan disertai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 2,6% (gross) atau 1,2% (net). Dari fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit pada Januari 2019 tercatat 12,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Desember 2018 sebesar 11,8% (yoy). Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Januari 2019 sebesar 6,4%, tidak berbeda jauh dibandingkan dengan pertumbuhan Desember 2018 sebesar 6,5%. Sementara itu, kinerja korporasi go public membaik tercermin dari peningkatan keuntungan dan kemampuan membayar kewajiban. Ke depan, Bank Indonesia memandang ruang ekspansi pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan tetap terbuka. Bank Indonesia memperkirakan kredit perbankan tetap tumbuh tinggi mendekati batas atas kisaran 10-12% (yoy) dan didukung pertumbuhan DPK yang diprakirakan dalam kisaran 8-10% (yoy).

5. Kelancaran sistem pembayaran tetap terpelihara.

Pembayaran tunai tumbuh positif, dengan Uang Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 7,4% (yoy) pada Februari 2019, sedangkan pembayaran nontunai secara konsisten terus meningkat. Penggunaan ATM-Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik (UE) tumbuh 15,3% (yoy) pada Januari 2019, diantaranya UE yang mengalami pertumbuhan mencapai 66,6% (yoy). Penggunaan ATM-Debit masih mendominasi transaksi sistem pembayaran ritel dengan pangsa 94,8% dan pertumbuhan 15,4% (yoy). Sementara itu, penggunaan UE semakin populer, terutama sebagai instrumen pembayaran untuk moda transportasi dan e-commerce. Ke depan Bank Indonesia akan terus memperkuat peran sistem pembayaran dalam mendukung kegiatan ekonomi.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting Group

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here