Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (27 November); Rupiah Menguat Kembali

912
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy and Bonds) – Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik, demikian rilis dari Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Jumat ini (27/11).

 

Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut:

A)   Perkembangan Nilai Tukar 23 – 26 November 2020

Pada akhir hari Kamis, 26 November 2020 

  1. Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.090 per dolar AS.
  2. YieldSBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,15%.
  3. DXY melemah ke level 91,99.
  4. Yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 0,882%.

Pada pagi hari Jumat, 27 November 2020

  1. Rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.080 per dolar AS.
  2. Yield SBN 10 tahun dibuka stabil di 6,15%.

Aliran Modal Asing (Minggu III November 2020)

  1. Premi CDS (Credit Default Swaps) Indonesia 5 tahun turun ke 71,71 bps per 26 November 2020 dari 77,94 bps per 20 November 2020.
  2. Berdasarkan data transaksi 23 – 26 November 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp4,87 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp3,51 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp1,36 triliun.
  3. Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto sebesar Rp141,13 triliun.

 

B)   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

  1. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV November 2020, perkembangan harga pada bulan November 2020 diperkirakan inflasi sebesar 0,25% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2020 secara tahun kalender sebesar 1,21% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,57% (yoy).
  2. Penyumbang utama inflasi, yaitu daging ayam ras sebesar 0,10% (mtm), telur ayam ras sebesar 0,05% (mtm), bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan minyak goreng masing-masing sebesar 0,02% (mtm), serta tomat, bawang putih, dan jeruk masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas emas perhiasan sebesar -0,02% (mtm) dan tarif angkutan udara sebesar -0,01% (mtm).

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” demikian akhir catatan dari Departemen Komunikasi BI, Jumat ini (27/11).

 

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here