Prospek Pasar SBN Ritel Akan Tetap Semarak di 2024

323
Pasar Obligasi Anjlok, Yield SBN Pekan Lalu Naik
Sumber: Kemenkeu

(Vibiznews – Bonds & Mutual Fund) – Minat investor atas surat Berharga Ritel (SBN) semakin meningkat hal ini dapat dilihat dari penawaran yang masuk pada lelang SBN.

Apa yang menjadi pendorongnya?

Hal ini dapat dilihat dari pencapaian hasil lelang di 2023, potensi penurunan suku bunga global. Dan solidnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi pendorongnya.

Pemerintah memproyeksikan pasar Surat Berharga Negara (SBN) ritel di 2024 akan tetap semarak.

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Deni Ridwan mengatakan sepanjang tahun tahun ini pemerintah menerbitkan SBN ritel sebanyak tujuh kali. Perlu diketahui, dari enam SBN ritel yang telah ditawarkan, pemerintah telah memperoleh dana Rp 127,4 triliun.

Capaian tersebut masih berpotensi bertambah sebesar Rp 19,5 triliun dari penawaran Sukuk Tabungan seri ST011 yang baru akan ditutup pada Rabu (6/12). Adapun per Selasa (5/12) pukul 15.28 WIB, penjualan ST011 telah mencapai Rp 19,44 triliun.

Dengan demikian, penerbitan SBN ritel sepanjang tahun ini melampaui target pemerintah sebesar Rp 130 triliun. Demikian juga realisasinya, jauh di atas realisasi tahun 2022 sebesar Rp 107,4 triliun.

“Capaian ini menggembirakan di tengah dinamisnya kondisi pasar keuangan domestik yang banyak dipengaruhi ketidakpastian global. Seperti tingginya inflasi, tingkat suku bunga di negara maju serta perlambatan ekonomi dunia,” demikian rilisnya kepada wartawan (Senin, 4/12).

Melihat pencapaian tersebut, Analis Vibiz Research memperkirakan investasi SBN Ritel di 2024 masih semarak. Hal ini dapat dilihat dari dua hal.

Pertama, dari dalam negeri didorong kondisi perekonomian nasional yang solid dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan tingkat inflasi yang terkendali.

Kedua, dari faktor global, seperti tingkat inflasi di negara-negara maju yang semakin membaik sehingga berpotensi menurunkan tingkat suku bunga.

Analis memproyeksikan tingkat suku bunga secara umum di 2024 akan lebih stabil dan cenderung menurun pada semester II. Hal ini seiring dengan proyeksi para analis terkait potensi penurunan tingkat inflasi dan suku bunga di negara maju.

Dengan demikian, kupon SBN Ritel akan tetap menarik karena selalu ditetapkan berdasarkan kondisi pasar terkini dengan level yang lebih tinggi dari tingkat inflasi domestik. Juga disertai pengenaan tarif pajak atas kupon yang lebih rendah.

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting