{"id":575376,"date":"2025-01-27T18:38:49","date_gmt":"2025-01-27T11:38:49","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=575376"},"modified":"2025-01-27T20:50:41","modified_gmt":"2025-01-27T13:50:41","slug":"carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/","title":{"rendered":"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif"},"content":{"rendered":"<ol>\n<li style=\"text-align: justify;\"><strong> Latar Belakang Carry Trade di Pasar Berkembang<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Carry trade adalah strategi investasi di mana investor meminjam dalam mata uang negara dengan suku bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. Strategi ini populer di pasar berkembang karena beberapa negara, seperti Brasil dan Meksiko, menawarkan imbal hasil tinggi yang menarik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, carry trade juga bergantung pada stabilitas mata uang. Jika volatilitas mata uang meningkat, potensi keuntungan dapat berubah menjadi kerugian akibat pergerakan nilai tukar yang tidak menguntungkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"2\">\n<li><strong> Faktor Pemicu Volatilitas di Pasar Mata Uang<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketidakpastian kebijakan perdagangan global sering kali menjadi salah satu pemicu utama volatilitas mata uang. Ancaman tarif oleh pemerintahan Donald Trump pada barang-barang dari Meksiko dan China adalah gambaran dari risiko geopolitik yang memengaruhi pasar keuangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa faktor yang mempengaruhi volatilitas saat ini:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Kebijakan Tarif AS:<\/strong><br \/>\nPemerintahan Donald Trump mengancam untuk menerapkan tarif tinggi pada barang dari Meksiko (25%) dan China (10%). Ketidakpastian ini membuat investor enggan mempertahankan posisi carry trade dalam mata uang negara-negara yang terdampak.<\/li>\n<li><strong>Kebijakan Moneter Global yang Berlawanan:<\/strong><br \/>\nBank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga secara mengejutkan hingga 0,5%, level tertinggi sejak 2008. Sementara itu, Federal Reserve cenderung mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi. Ketidaksesuaian kebijakan ini menciptakan dinamika yang kompleks bagi carry trade yang didanai yen atau dolar AS.<\/li>\n<li><strong>Pelemahan Yuan:<\/strong><br \/>\nYuan China, salah satu mata uang pendanaan utama dalam carry trade, menghadapi tekanan dari kebijakan tarif AS dan perlambatan ekonomi domestik. Ini memperburuk sentimen terhadap mata uang Asia lainnya.<\/li>\n<li><strong>Kondisi Domestik di Pasar Berkembang:<\/strong><br \/>\nNegara-negara seperti Brasil dan Meksiko menghadapi masalah fiskal domestik, yang menambah ketidakpastian. Meskipun mata uang mereka menawarkan imbal hasil tinggi, risiko makroekonomi membuat investor semakin berhati-hati.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"3\">\n<li><strong>Carry Trade dan Inflasi Global<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Carry trade sering kali berkaitan dengan inflasi dan kebijakan moneter di berbagai negara. Saat inflasi meningkat, bank sentral cenderung menaikkan suku bunga, yang dapat menguntungkan carry trade di negara-negara dengan imbal hasil tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, situasi saat ini menunjukkan dinamika yang lebih kompleks:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Inflasi AS dan Prospek Kebijakan Fed:<\/strong><br \/>\nDengan inflasi di AS masih menjadi perhatian utama, Federal Reserve kemungkinan akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu dekat. Ini membuat dolar AS menjadi lebih mahal sebagai mata uang pendanaan, mengurangi daya tarik carry trade berbasis dolar.<\/li>\n<li><strong>Tekanan Inflasi di Pasar Berkembang:<\/strong><br \/>\nDi sisi lain, beberapa negara berkembang, seperti Brasil dan Afrika Selatan, mulai menunjukkan penurunan inflasi. Ini membuka peluang bagi bank sentral mereka untuk menurunkan suku bunga, yang dapat menciptakan momentum baru bagi carry trade.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"4\">\n<li><strong>4<\/strong><strong>. Dampak pada Strategi Carry Trade<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Volatilitas yang meningkat membuat carry trade menjadi strategi yang kurang menarik. Berikut adalah beberapa dampaknya:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Penurunan Imbal Hasil:<\/strong><br \/>\nData menunjukkan bahwa pengembalian carry trade yang didanai yen anjlok 12% pada tahun lalu, terburuk sejak 2021. Yen yang menguat akibat kebijakan BoJ semakin menggerus keuntungan.<\/li>\n<li><strong>Risiko Nilai Tukar:<\/strong><br \/>\nKetika mata uang pasar berkembang seperti peso Meksiko atau rupiah Indonesia terdepresiasi, keuntungan dari imbal hasil tinggi dapat hilang akibat kerugian nilai tukar.<\/li>\n<li><strong>Perubahan Preferensi Investor:<\/strong><br \/>\nInvestor mulai mencari mata uang dengan stabilitas lebih tinggi atau menggunakan pendekatan selektif. Misalnya, Goldman Sachs lebih menyukai real Brasil dan peso Meksiko, yang telah memasukkan risiko fiskal ke dalam harga, dibandingkan mata uang Asia yang lebih rentan terhadap pelemahan yuan.<\/li>\n<\/ul>\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"5\">\n<li><strong>5<\/strong><strong>. Risiko Mata Uang dan Diversifikasi Pendanaan<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Carry trade tidak hanya dipengaruhi oleh volatilitas mata uang target tetapi juga oleh mata uang pendanaan. Yen Jepang dan dolar AS adalah dua mata uang pendanaan utama, namun kedua mata uang ini memiliki risiko berbeda:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Yen Jepang:<\/strong><br \/>\nKenaikan suku bunga oleh Bank of Japan meningkatkan risiko apresiasi yen. Jika yen terus menguat, keuntungan carry trade yang didanai yen dapat terkikis.<\/li>\n<li><strong>Dolar AS:<\/strong><br \/>\nDolar AS, meskipun stabil, menjadi kurang menarik sebagai mata uang pendanaan karena biaya pendanaan yang tinggi di tengah kebijakan suku bunga Fed.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>Strategi Alternatif:<\/strong><br \/>\nInvestor dapat mempertimbangkan diversifikasi mata uang pendanaan. Misalnya, menggunakan mata uang yang lebih stabil seperti franc Swiss (CHF) atau dolar Singapura (SGD) untuk mengurangi risiko nilai tukar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"6\">\n<li><strong>6<\/strong><strong>. Strategi Bertahan di Tengah Volatilitas<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk menghadapi kondisi pasar yang penuh gejolak, investor dapat mempertimbangkan beberapa strategi berikut:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Diversifikasi Portofolio:<\/strong><br \/>\nMenggabungkan mata uang dengan risiko rendah seperti baht Thailand atau yuan sebagai pendanaan dapat membantu mengurangi dampak volatilitas yang besar pada mata uang lain.<\/li>\n<li><strong>Pantauan Ketat pada Kebijakan Global:<\/strong><br \/>\nInvestor perlu memperhatikan arah kebijakan moneter dan fiskal di negara-negara utama seperti AS, Jepang, dan China. Kejelasan terkait tarif AS, misalnya, dapat menjadi faktor kunci yang mengubah sentimen pasar.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<ol style=\"text-align: justify;\" start=\"7\">\n<li><strong>7<\/strong><strong>. Prospek Ke Depan untuk Carry Trade<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun kondisi saat ini tidak menguntungkan, carry trade tetap memiliki potensi di masa depan, terutama jika volatilitas global mereda. Berikut beberapa skenario yang mungkin terjadi:<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify;\">\n<li><strong>Penguatan Mata Uang Pasar Berkembang:<\/strong><br \/>\nJika ketegangan tarif mereda dan kebijakan domestik lebih stabil, mata uang seperti peso Meksiko atau real Brasil dapat mengalami reli, membuka peluang carry trade kembali.<\/li>\n<li><strong>Penurunan Suku Bunga di Pasar Berkembang:<\/strong><br \/>\nNegara-negara dengan suku bunga tinggi mungkin mulai menurunkan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan daya tarik aset mereka.<\/li>\n<li><strong>Stabilitas Kebijakan Moneter Global:<\/strong><br \/>\nJika perbedaan suku bunga antara AS dan Jepang mulai mengecil, carry trade berbasis yen dapat menjadi lebih menarik karena potensi apresiasi yen berkurang.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n<p style=\"text-align: justify;\">Carry trade saat ini berada di persimpangan yang sulit akibat kombinasi volatilitas mata uang, ketegangan geopolitik, dan kebijakan moneter yang beragam. Investor perlu menerapkan pendekatan yang lebih selektif, menggabungkan analisis fundamental dengan teknologi canggih untuk memitigasi risiko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam jangka panjang, carry trade tetap memiliki potensi besar di pasar berkembang yang fundamental ekonominya membaik. Namun, keberhasilan strategi ini sangat tergantung pada kemampuan investor untuk beradaptasi dengan dinamika global yang terus berubah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Carry Trade di Pasar Berkembang Carry trade adalah strategi investasi di mana investor meminjam dalam mata uang negara dengan suku bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. Strategi ini populer di pasar berkembang karena beberapa negara, seperti Brasil dan Meksiko, menawarkan imbal hasil tinggi yang menarik. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101031,"featured_media":521159,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[29,3011],"tags":[],"class_list":["post-575376","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-economy-business","category-news-insight"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Latar Belakang Carry Trade di Pasar Berkembang Carry trade adalah strategi investasi di mana investor meminjam dalam mata uang negara dengan suku bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. Strategi ini populer di pasar berkembang karena beberapa negara, seperti Brasil dan Meksiko, menawarkan imbal hasil tinggi yang menarik. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-01-27T11:38:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-01-27T13:50:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1980\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Kristanto Nugroho\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Kristanto Nugroho\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/\",\"name\":\"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-01-27T11:38:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-01-27T13:50:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ab8c0e34ef493acf62c0a6b01eef3108\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg\",\"width\":1980,\"height\":1080},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ab8c0e34ef493acf62c0a6b01eef3108\",\"name\":\"Kristanto Nugroho\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/94d25d2082f4c98bcbae05e8010a8b71?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/94d25d2082f4c98bcbae05e8010a8b71?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Kristanto Nugroho\"},\"description\":\"CEO of Vibiz Media Network, currently he is also the advisor of Vibiz Consulting.\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/kristanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com","og_description":"Latar Belakang Carry Trade di Pasar Berkembang Carry trade adalah strategi investasi di mana investor meminjam dalam mata uang negara dengan suku bunga rendah untuk diinvestasikan pada aset dengan imbal hasil lebih tinggi di negara lain. Strategi ini populer di pasar berkembang karena beberapa negara, seperti Brasil dan Meksiko, menawarkan imbal hasil tinggi yang menarik. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2025-01-27T11:38:49+00:00","article_modified_time":"2025-01-27T13:50:41+00:00","og_image":[{"width":1980,"height":1080,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Kristanto Nugroho","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Kristanto Nugroho","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/","name":"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg","datePublished":"2025-01-27T11:38:49+00:00","dateModified":"2025-01-27T13:50:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ab8c0e34ef493acf62c0a6b01eef3108"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/global-market-3-1-1.jpg","width":1980,"height":1080},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2025\/01\/27\/carry-trade-di-tengah-gejolak-volatilitas-dan-ketegangan-tarif\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Carry Trade di Tengah Gejolak Volatilitas dan Ketegangan Tarif"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ab8c0e34ef493acf62c0a6b01eef3108","name":"Kristanto Nugroho","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/94d25d2082f4c98bcbae05e8010a8b71?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/94d25d2082f4c98bcbae05e8010a8b71?s=96&d=mm&r=g","caption":"Kristanto Nugroho"},"description":"CEO of Vibiz Media Network, currently he is also the advisor of Vibiz Consulting.","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/kristanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575376","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101031"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=575376"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575376\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":575377,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/575376\/revisions\/575377"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/521159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=575376"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=575376"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=575376"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}