{"id":598981,"date":"2026-07-02T18:14:19","date_gmt":"2026-07-02T11:14:19","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=598981"},"modified":"2026-07-02T18:16:35","modified_gmt":"2026-07-02T11:16:35","slug":"ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/","title":{"rendered":"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman"},"content":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Keterbukaan ekonomi yang selama ini menjadi ciri khas Jerman pernah menjadi aset ekonomi terbesarnya. Selama hampir dua dekade, model tersebut menghadirkan pertumbuhan yang nyaris tanpa gangguan dan menjadikan Jerman sebagai salah satu pemenang terbesar era globalisasi.Namun kini, keterbukaan itu justru berubah menjadi liabilitas terbesar.<\/p>\n<p>China, yang dahulu merupakan pembeli rakus berbagai produk buatan Jerman, telah bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi merkantilis. Negara itu kini memproduksi banyak barang yang sama dengan harga jauh lebih murah serta kualitas yang setara, bahkan dalam banyak kasus lebih baik. Produk-produk China tidak hanya membanjiri pasar Eropa, tetapi juga menyingkirkan perusahaan-perusahaan Jerman di berbagai pasar internasional.<\/p>\n<p>Jerman juga menyadari bahwa negaranya rentan terhadap kebijakan proteksionis yang memutus akses perusahaan-perusahaannya terhadap sumber daya penting dan teknologi strategis. Pada saat yang sama, perekonomian negara itu terus diguncang berbagai guncangan eksternal di luar kendalinya, mulai dari lonjakan harga energi akibat perang Iran hingga kebijakan tarif Presiden Donald Trump.<\/p>\n<p>Kepala Ekonom KfW, Dirk Schumacher, mengatakan bahwa Jerman memang merupakan salah satu pemenang <em>globalization<\/em>. Namun, menurutnya, hubungan saling ketergantungan antarnegera dapat berubah menjadi senjata. Dalam kondisi ketika tatanan internasional berbasis aturan tidak lagi terjamin, tingkat integrasi yang terlalu tinggi dalam ekonomi global justru membuat suatu negara menjadi lebih rentan.<\/p>\n<p>Contoh terbaru terjadi pada Juni ketika Amerika Serikat menghentikan ekspor large language models terbaru milik perusahaan kecerdasan buatan Anthropic dengan alasan keamanan nasional. Kebijakan tersebut membuat para pengguna AI untuk dunia bisnis di Eropa berada pada posisi yang kurang kompetitif.<\/p>\n<p>Keputusan Beijing membatasi ekspor logam rare earth di tengah sengketa dagangnya dengan Washington menjadi pukulan berikutnya. Pembatasan tersebut mengganggu produksi di berbagai sektor industri Jerman, mulai dari otomotif hingga manufaktur persenjataan.<\/p>\n<p>Pemerintahan Kanselir Friedrich Merz telah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kebijakan, termasuk pemberian insentif pajak bagi dunia usaha, penurunan harga energi, serta peningkatan belanja pertahanan dan infrastruktur. Namun hingga kini, berbagai langkah tersebut belum menunjukkan hasil yang nyata karena tertahan oleh tekanan ekonomi global. Berlin juga baru-baru ini mengumumkan rencana menaikkan usia pensiun secara bertahap dari 67 menjadi 70 tahun, sebuah langkah yang dalam jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan daya saing dengan memperbaiki sistem pensiun yang dibiayai bersama oleh pekerja dan pemberi kerja.<\/p>\n<p>Selain tingkat pengangguran dan utang publik yang masih relatif rendah dibandingkan negara lain, indikator kesehatan ekonomi Jerman menunjukkan kondisi yang kurang menggembirakan. Sebagian besar ekonom maupun pemerintah memperkirakan produk domestik bruto (PDB) hanya akan tumbuh sekitar 1% atau bahkan lebih rendah pada tahun ini. Sejak 2019, pertumbuhan ekonomi Jerman juga terus tertinggal dibandingkan rata-rata kawasan euro.<\/p>\n<p>Investasi mengalami penurunan sejak 2020, sementara negara-negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol justru mencatatkan peningkatan investasi. Jumlah pekerja di sektor manufaktur turun menjadi 6,6 juta orang, level terendah dalam satu dekade, berdasarkan studi yang diterbitkan bulan ini oleh German Economic Institute.<\/p>\n<p>Berbagai guncangan eksternal juga mengganggu agenda kebijakan ekonomi pemerintah. Ketika perang Iran pecah, pemerintah harus menunda reformasi sistem kesejahteraan yang mengalami kekurangan dana dan mengalihkan fokus pada pemberian subsidi gas bagi para komuter. Proyek reformasi kesejahteraan akhirnya dipangkas sedemikian besar sehingga pemerintah membatalkan kampanye media yang sebelumnya telah direncanakan, menurut seorang pejabat senior. Paket reformasi yang lebih ambisius diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang.<\/p>\n<p>Terakhir kali ekonomi Jerman menghadapi situasi yang sebanding adalah pada awal dekade 2000-an. Saat itu negara tersebut masih berjuang menanggung biaya reunifikasi Jerman, sementara tingkat pengangguran hampir dua kali lipat dibandingkan saat ini. Kondisi tersebut diperparah oleh aturan ketenagakerjaan yang kaku serta biaya tenaga kerja yang saat itu menjadi yang tertinggi kedua di dunia.<\/p>\n<p>Pada 2003, pemerintahan Kanselir Gerhard Schr\u00f6der memangkas tunjangan pengangguran, memberikan keleluasaan yang lebih besar kepada perusahaan dalam menentukan tingkat upah, serta menurunkan pajak. Dalam waktu dua tahun, tingkat pengangguran mulai turun, ekspor melonjak, dan penerimaan negara meningkat pesat. Selama enam tahun berturut-turut, Jerman menjadi eksportir barang terbesar di dunia, bukan hanya berdasarkan jumlah per kapita, tetapi juga secara absolut.<\/p>\n<p>Namun para ekonom menilai daya saing Jerman telah melemah sejak saat itu. Bahkan apabila daya saing tersebut berhasil dipulihkan, belum tentu hal itu cukup untuk kembali mendorong permintaan luar negeri terhadap mobil, peralatan medis, atau mesin pengebor terowongan buatan Jerman yang kini sudah tidak lagi dibutuhkan oleh banyak pasar. Upaya tersebut diibaratkan seperti mencoba mengambil air dari sumur yang telah lama mengering.<\/p>\n<p>Direktur German Economic Institute, Michael H\u00fcther, menilai bahwa ketika Kanselir Gerhard Schr\u00f6der melakukan reformasi ekonomi pada awal 2000-an, pemerintah saat itu belum harus menghadapi second China shock seperti yang terjadi sekarang.<\/p>\n<p>Mengurangi birokrasi yang selama ini menghambat aktivitas ekonomi dinilai dapat menjadi salah satu solusi. Berbagai survei menunjukkan bahwa kalangan pelaku usaha menganggap birokrasi sebagai hambatan terbesar bagi kegiatan bisnis mereka, bahkan melampaui dampak tarif Amerika Serikat. Berlin memang telah melakukan sejumlah perbaikan, tetapi masih enggan memenuhi tuntutan dunia usaha untuk melonggarkan aturan ketenagakerjaan yang dinilai terlalu kaku sehingga menyulitkan perusahaan dalam merekrut maupun mengurangi tenaga kerja sesuai kondisi permintaan.<\/p>\n<p>Michael H\u00fcther berpendapat bahwa pemerintah federal dapat memberikan dorongan besar bagi dunia usaha apabila berani menghapus seluruh kewajiban pelaporan bisnis yang tidak lagi memiliki justifikasi, misalnya mulai 1 Januari 2027. Menurutnya, langkah semacam itu akan memberikan dampak yang sangat besar bagi iklim usaha karena dunia bisnis sesekali membutuhkan sinyal kebijakan yang tegas seperti itu.<\/p>\n<p>Kasus Anthropic juga memperlihatkan bahwa ketergantungan Jerman maupun Eropa tidak hanya terbatas pada logam rare earth. Negara-negara Eropa memang semakin mahir mengembangkan berbagai aplikasi kecerdasan buatan, tetapi model dasar AI, infrastruktur pendukung, dan kapasitas komputasi yang menjadi fondasinya masih sebagian besar berada di tangan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Katharina Erhardt, Kepala Industrial Policy Lab di Kiel Institute for the World Economy, menilai bahwa artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar menjadi komponen pendukung dalam value chains, melainkan akan memengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi. Karena itu, menurutnya, pengembangan teknologi AI di dalam negeri harus menjadi prioritas, bahkan lebih penting daripada sekadar mempertahankan industri-industri lama.<\/p>\n<p>Bagi Schumacher, kepala ekonom KfW, Berlin kini menghadapi tiga prioritas utama dalam upaya melindungi industri strategis sekaligus menciptakan sektor-sektor baru. Pertama, memperluas sumber pasokan bahan baku kritis. Kedua, meningkatkan ketersediaan modal agar perusahaan rintisan dapat berkembang menjadi perusahaan besar. Ketiga, melindungi pasar domestik dari banjir impor murah asal China.<\/p>\n<p>Sekitar 10% hingga 30% nilai produk yang dihasilkan industri manufaktur Jerman bergantung pada bahan baku impor seperti tembaga dan litium yang berasal dari segelintir negara pemasok. Berlin memang telah membentuk dana khusus untuk pengadaan bahan baku strategis, tetapi skalanya masih relatif kecil. Upaya mendaur ulang logam rare earth maupun mengembangkan baterai yang membutuhkan lebih sedikit komponen langka juga masih berada pada tahap awal.<\/p>\n<p>Reformasi perpajakan serta berbagai insentif lain yang mendorong perusahaan modal ventura dan investor institusional mendanai perusahaan yang sedang berkembang\u2014seperti yang telah dilakukan Swedia dan Prancis\u2014dinilai dapat membantu meningkatkan inovasi yang selama ini kurang berkembang di Jerman. Reformasi sistem pensiun yang sedang disiapkan juga diharapkan dapat mengalirkan lebih banyak dana tabungan masyarakat ke pasar modal sehingga mendukung pembiayaan inovasi.<\/p>\n<p>Berlin juga mulai mendukung usulan Brussels untuk memperketat pengawasan terhadap impor asal China yang memperoleh subsidi negara. Namun karena banyak perusahaan Jerman masih sangat bergantung pada berbagai komponen dan bahan baku dari China, para pejabat mengakui bahwa negara tersebut belum benar-benar siap menghadapi kemungkinan aksi balasan dari Beijing.<\/p>\n<p>Schumacher mengakui bahwa upaya meningkatkan ketahanan ekonomi tentu mengandung biaya dan risiko. Namun, menurutnya, besarnya konsekuensi tersebut sangat bergantung pada respons China, yang juga memiliki kepentingan ekonomi yang harus dijaga. Ia menambahkan bahwa meskipun ketahanan ekonomi dapat diperkuat, proses yang berlangsung terlalu lama berisiko membuat Jerman kehilangan industrial know-how serta kapasitas value creation yang selama ini menjadi kekuatan industrinya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Keterbukaan ekonomi yang selama ini menjadi ciri khas Jerman pernah menjadi aset ekonomi terbesarnya. Selama hampir dua dekade, model tersebut menghadirkan pertumbuhan yang nyaris tanpa gangguan dan menjadikan Jerman sebagai salah satu pemenang terbesar era globalisasi.Namun kini, keterbukaan itu justru berubah menjadi liabilitas terbesar. China, yang dahulu merupakan pembeli rakus berbagai produk buatan Jerman, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":458009,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[3435],"class_list":["post-598981","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-ekonomi-jerman"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Keterbukaan ekonomi yang selama ini menjadi ciri khas Jerman pernah menjadi aset ekonomi terbesarnya. Selama hampir dua dekade, model tersebut menghadirkan pertumbuhan yang nyaris tanpa gangguan dan menjadikan Jerman sebagai salah satu pemenang terbesar era globalisasi.Namun kini, keterbukaan itu justru berubah menjadi liabilitas terbesar. China, yang dahulu merupakan pembeli rakus berbagai produk buatan Jerman, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-02T11:14:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-02T11:16:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"812\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/\",\"name\":\"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-02T11:14:19+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-02T11:16:35+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg\",\"width\":1024,\"height\":812,\"caption\":\"Grote Markt Brussels - Vibizmedia Photo\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Keterbukaan ekonomi yang selama ini menjadi ciri khas Jerman pernah menjadi aset ekonomi terbesarnya. Selama hampir dua dekade, model tersebut menghadirkan pertumbuhan yang nyaris tanpa gangguan dan menjadikan Jerman sebagai salah satu pemenang terbesar era globalisasi.Namun kini, keterbukaan itu justru berubah menjadi liabilitas terbesar. China, yang dahulu merupakan pembeli rakus berbagai produk buatan Jerman, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-07-02T11:14:19+00:00","article_modified_time":"2026-07-02T11:16:35+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":812,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/","name":"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg","datePublished":"2026-07-02T11:14:19+00:00","dateModified":"2026-07-02T11:16:35+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/jerman.jpg","width":1024,"height":812,"caption":"Grote Markt Brussels - Vibizmedia Photo"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-keterbukaan-menjadi-beban-ekonomi-jerman\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Keterbukaan Menjadi Beban Ekonomi Jerman"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598981","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=598981"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":598985,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598981\/revisions\/598985"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/458009"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=598981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=598981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=598981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}