{"id":599743,"date":"2026-07-20T14:22:39","date_gmt":"2026-07-20T07:22:39","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=599743"},"modified":"2026-07-20T14:23:14","modified_gmt":"2026-07-20T07:23:14","slug":"mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/","title":{"rendered":"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-family: Verdana, BlinkMacSystemFont, -apple-system, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen, Ubuntu, Cantarell, 'Open Sans', 'Helvetica Neue', sans-serif;\">(Vibiznews-Kolom) Investor kini dapat memperoleh imbal hasil yang jauh lebih menarik dengan mengunci dana mereka dalam jangka waktu panjang melalui obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan terbesar dan paling layak kredit di Amerika Serikat. Namun, bagi sebagian investor, tingkat imbal hasil tersebut tampaknya masih belum cukup menarik.<\/span><\/p>\n<p>Saat ini, obligasi korporasi berperingkat <em>investment grade<\/em> dengan jatuh tempo minimal 10 tahun menawarkan imbal hasil yang mendekati 6%, berdasarkan data indeks ICE BofA melalui FactSet. Rata-rata umur tertimbang obligasi dalam indeks tersebut bahkan melampaui 20 tahun. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan imbal hasil yang lazim tersedia selama periode suku bunga rendah setelah krisis keuangan global 2008\u20132009, ketika imbal hasil obligasi serupa sering kali berada jauh di bawah 5%.<\/p>\n<p>Bagi investor jangka panjang yang hanya berfokus pada arus kas pendapatan, mengamankan tingkat pembayaran seperti itu untuk waktu yang lama mungkin sudah memadai. Namun, semakin panjang jangka waktu investasi, semakin besar pula kemungkinan terjadinya perubahan besar dalam kondisi ekonomi maupun pasar dibandingkan jika investasi hanya dilakukan untuk beberapa tahun.<\/p>\n<p>Meski demikian, obligasi-obligasi tersebut saat ini tidak memberikan tambahan imbal hasil yang sepadan dengan risiko ekstra yang harus ditanggung investor, setidaknya jika dibandingkan dengan pengalaman historis.<\/p>\n<p>Selisih imbal hasil (<em>yield spread<\/em>) antara obligasi korporasi <em>investment grade<\/em> Amerika Serikat dengan jatuh tempo lebih dari 10 tahun terhadap obligasi pemerintah (<em>Treasury<\/em>) hanya sekitar setengah poin persentase lebih tinggi dibandingkan selisih imbal hasil obligasi dengan jatuh tempo satu hingga tiga tahun, berdasarkan data indeks ICE BofA. Selisih tersebut kini berada di dekat titik terendah sejak periode pascakrisis keuangan 2008, kecuali penurunan tajam yang berlangsung singkat selama pandemi Covid-19. Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 selisih tersebut pernah mencapai sekitar satu poin persentase penuh.<\/p>\n<p>Selisih yang relatif sempit memang dapat dipahami apabila pertumbuhan laba perusahaan diperkirakan akan tetap kuat dalam jangka panjang dan aktivitas pinjaman korporasi tetap terkendali. Namun, terdapat sejumlah alasan yang menimbulkan keraguan apakah tingkat keuntungan perusahaan saat ini benar-benar mencerminkan kondisi yang berkelanjutan. Sebagian laba bisa saja terdongkrak sementara oleh faktor-faktor seperti kompensasi tarif (<em>tariff rebates<\/em>) atau tertundanya depresiasi aset kecerdasan buatan (<em>artificial intelligence<\/em>), misalnya cip memori. Selain itu, kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur AI diperkirakan masih akan mendorong perusahaan melakukan lebih banyak pembiayaan melalui utang.<\/p>\n<p>Bahkan apabila perkembangan AI berjalan cukup baik\u2014meskipun tidak secepat atau seoptimal yang diharapkan\u2014selisih imbal hasil obligasi (<em>bond spreads<\/em>) masih berpotensi melebar. Jika hal itu terjadi, harga obligasi akan turun sehingga nilai investasi pemegang obligasi ikut tergerus.<\/p>\n<p>Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa kecilnya selisih imbal hasil tersebut tidak semata-mata mencerminkan pandangan pasar terhadap kesehatan fundamental perusahaan. Para analis strategi kredit menilai harga obligasi jangka panjang tetap tinggi karena pasokannya relatif terbatas dibandingkan dengan besarnya permintaan dari investor institusional yang mencari pendapatan tetap pada tingkat imbal hasil saat ini.<\/p>\n<p>Menurut Yuri Seliger, analis strategi kredit di BofA Global Research, investor yang sangat sensitif terhadap tingkat imbal hasil (<em>yield-sensitive investors<\/em>), seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi, bersedia membayar harga lebih tinggi untuk memperoleh obligasi berdurasi panjang. Menurutnya, pasokan obligasi jenis tersebut memang belum sebanyak permintaannya.<\/p>\n<p>Dengan kata lain, investor individu pada dasarnya sedang bersaing dengan lembaga-lembaga besar yang tidak terlalu mempersoalkan fluktuasi harga obligasi dari waktu ke waktu ataupun apakah harga obligasi saat ini tergolong murah atau mahal. Fokus utama mereka adalah memastikan pendapatan dari obligasi tersebut cukup untuk memenuhi kewajiban jangka panjang yang harus mereka bayarkan di masa depan.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, bahkan investor institusional pun memiliki alasan untuk tetap berhati-hati. Salah satunya adalah kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Selain itu, pasar juga berpotensi menerima lebih banyak penerbitan obligasi jangka panjang untuk membiayai investasi AI. Penawaran obligasi terbaru Amazon.com, misalnya, mencakup seri obligasi yang baru akan jatuh tempo pada tahun 2066.<\/p>\n<p>Nathaniel Rosenbaum, Kepala Strategi Kredit Berkualitas Tinggi Amerika Serikat di JPMorgan Chase, mengatakan bahwa semakin banyak investor mulai meyakini bahwa tingkat imbal hasil yang tinggi saat ini kemungkinan akan bertahan lebih lama. Menurutnya, keyakinan tersebut dapat sedikit menahan permintaan investor hingga selisih imbal hasil kembali melebar.<\/p>\n<p>Investasi pada obligasi berdurasi panjang juga merupakan taruhan terhadap berbagai faktor makroekonomi, termasuk apakah kondisi fiskal Amerika Serikat tetap berada dalam jalur yang sehat. Defisit anggaran federal sebagai persentase terhadap produk domestik bruto memang menyempit pada tahun lalu, tetapi pada 2025 masih berada di atas 5% menurut data pemerintah, dan diproyeksikan akan kembali meningkat. Apabila penerbitan utang pemerintah tumbuh lebih cepat daripada permintaan pasar, maka imbal hasil obligasi pemerintah dapat naik meskipun Federal Reserve tidak menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menurunkan nilai obligasi yang diterbitkan dengan tingkat kupon saat ini.<\/p>\n<p>Bagi setiap investor, berbagai instrumen investasi saat ini sama-sama menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif tinggi, termasuk instrumen kas. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk mengunci dana pada tingkat bunga saat ini selama puluhan tahun, investor perlu benar-benar mempertimbangkan apakah mereka siap menanggung seluruh risiko yang menyertai investasi jangka panjang tersebut.<\/p>\n<p>Indonesia menghadapi kondisi yang berbeda dibandingkan Amerika Serikat. Meskipun obligasi korporasi di dalam negeri juga menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun lalu seiring tingginya suku bunga, <em>yield spread<\/em> antara obligasi korporasi dan Surat Berharga Negara (SBN) masih relatif lebih lebar. Hal ini mencerminkan bahwa investor masih memperoleh kompensasi risiko yang lebih besar karena pasar obligasi korporasi Indonesia belum sedalam dan selikuid pasar Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Prospek obligasi korporasi Indonesia tetap dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik, seperti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah, kondisi fiskal pemerintah, serta kebutuhan pembiayaan sektor riil. Apabila suku bunga mulai menurun dalam beberapa tahun ke depan, harga obligasi yang telah diterbitkan berpotensi meningkat sehingga investor tidak hanya memperoleh pendapatan kupon, tetapi juga peluang <em>capital gain<\/em>. Sebaliknya, jika suku bunga kembali naik, nilai pasar obligasi jangka panjang dapat mengalami tekanan.<\/p>\n<p>Bagi investor Indonesia, obligasi korporasi masih menjadi instrumen yang layak dipertimbangkan, terutama jika diterbitkan oleh perusahaan dengan fundamental yang kuat dan memiliki peringkat <em>investment grade<\/em>. Namun, keputusan investasi sebaiknya tidak hanya didasarkan pada besarnya kupon, melainkan juga mempertimbangkan kualitas kredit penerbit, tenor obligasi, serta prospek ekonomi nasional. Dengan demikian, investor dapat memperoleh keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko yang harus ditanggung dalam jangka panjang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Investor kini dapat memperoleh imbal hasil yang jauh lebih menarik dengan mengunci dana mereka dalam jangka waktu panjang melalui obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan terbesar dan paling layak kredit di Amerika Serikat. Namun, bagi sebagian investor, tingkat imbal hasil tersebut tampaknya masih belum cukup menarik. Saat ini, obligasi korporasi berperingkat investment grade dengan jatuh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":475059,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[4655],"class_list":["post-599743","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-obligasi-korporasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Investor kini dapat memperoleh imbal hasil yang jauh lebih menarik dengan mengunci dana mereka dalam jangka waktu panjang melalui obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan terbesar dan paling layak kredit di Amerika Serikat. Namun, bagi sebagian investor, tingkat imbal hasil tersebut tampaknya masih belum cukup menarik. Saat ini, obligasi korporasi berperingkat investment grade dengan jatuh [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-20T07:22:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-20T07:23:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2251\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1126\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/\",\"name\":\"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-07-20T07:22:39+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-20T07:23:14+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg\",\"width\":2251,\"height\":1126,\"caption\":\"Pasar Obligasi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Investor kini dapat memperoleh imbal hasil yang jauh lebih menarik dengan mengunci dana mereka dalam jangka waktu panjang melalui obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan terbesar dan paling layak kredit di Amerika Serikat. Namun, bagi sebagian investor, tingkat imbal hasil tersebut tampaknya masih belum cukup menarik. Saat ini, obligasi korporasi berperingkat investment grade dengan jatuh [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-07-20T07:22:39+00:00","article_modified_time":"2026-07-20T07:23:14+00:00","og_image":[{"width":2251,"height":1126,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/","name":"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg","datePublished":"2026-07-20T07:22:39+00:00","dateModified":"2026-07-20T07:23:14+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2021\/03\/bei-obligasi-2.jpeg","width":2251,"height":1126,"caption":"Pasar Obligasi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/20\/mengapa-obligasi-korporasi-belum-sepenuhnya-menarik-investor\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengapa Obligasi Korporasi Belum Sepenuhnya Menarik Investor"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=599743"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599743\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":599744,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/599743\/revisions\/599744"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/475059"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=599743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=599743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=599743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}