{"id":600087,"date":"2026-07-28T12:11:21","date_gmt":"2026-07-28T05:11:21","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=600087"},"modified":"2026-07-28T12:28:28","modified_gmt":"2026-07-28T05:28:28","slug":"sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/","title":{"rendered":"S&#038;P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibiznews-Kolom) Keputusan Standard &amp; Poor&#8217;s (S&amp;P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan <em>outlook<\/em> stabil menjadi salah satu sinyal positif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Penilaian tersebut hadir ketika pasar internasional menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta volatilitas pasar keuangan global. Dalam situasi tersebut, keberhasilan Indonesia mempertahankan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional menunjukkan bahwa fundamental fiskal nasional masih dipandang memiliki daya tahan yang memadai, meskipun tantangan ke depan diperkirakan semakin besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan global terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak yang bergerak sangat cepat. Harga minyak Brent yang sebelumnya berada di kisaran US$70 per barel melonjak hingga mendekati bahkan sempat menyentuh US$100 per barel. Bahkan muncul proyeksi <em>worst case scenario<\/em> yang memperkirakan harga minyak dapat mencapai US$150 hingga US$200 per barel apabila konflik geopolitik terus meluas. Lonjakan tersebut bukan hanya meningkatkan ketidakpastian pasar energi, tetapi juga memperbesar risiko inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia, serta meningkatkan tekanan terhadap kebijakan fiskal berbagai negara, termasuk Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan harga minyak memiliki konsekuensi langsung terhadap APBN karena Indonesia masih merupakan pengimpor bersih minyak (<em>net importer<\/em>). Ketika harga minyak meningkat, beban subsidi energi ikut bertambah apabila pemerintah memilih mempertahankan harga energi domestik demi menjaga daya beli masyarakat. Pada saat yang sama, biaya impor migas juga meningkat sehingga berpotensi memperlebar defisit neraca migas yang selama ini menjadi salah satu sumber tekanan terhadap neraca perdagangan nasional. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan tersebut tercermin dalam proyeksi defisit anggaran. Sebelum meningkatnya kembali konflik geopolitik, pemerintah telah merevisi perkiraan defisit APBN 2026 dari sekitar 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau sekitar Rp689 triliun menjadi sekitar 2,85 persen atau sekitar Rp734 triliun. Revisi tersebut dilakukan bahkan sebelum memperhitungkan dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak dunia. Apabila harga energi bertahan pada level tinggi hingga akhir tahun, peluang defisit fiskal mendekati bahkan melampaui batas 3 persen menjadi semakin besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun demikian, S&amp;P tetap mempertahankan <em>outlook<\/em> stabil terhadap Indonesia. Salah satu faktor yang memperkuat penilaian tersebut adalah perkembangan kinerja APBN semester pertama yang menunjukkan perbaikan dari sisi penerimaan negara. Hingga akhir Juni, penerimaan negara tercatat mencapai sekitar Rp1.459 triliun, tumbuh 21,4 persen, sedangkan belanja negara mencapai sekitar Rp1.656 triliun dengan pertumbuhan 17,8 persen. Pertumbuhan penerimaan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan belanja menunjukkan bahwa pemerintah masih mampu menjaga disiplin fiskal meskipun menghadapi tekanan eksternal yang meningkat. Kondisi inilah yang menjadi salah satu indikator penting dalam mempertahankan kepercayaan lembaga pemeringkat internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penilaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas pengelolaan fiskal tidak hanya diukur dari besarnya defisit anggaran, tetapi juga dari kemampuan pemerintah mengelola keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran negara. Selama pertumbuhan pendapatan mampu menopang peningkatan belanja yang produktif, kredibilitas fiskal cenderung tetap terjaga. Dengan kata lain, yang menjadi perhatian bukan sekadar jumlah belanja pemerintah, melainkan efektivitas penggunaannya dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, tantangan pada semester berikutnya diperkirakan semakin kompleks. Perlambatan ekonomi global dapat mengurangi penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak, maupun penerimaan kepabeanan. Di sisi lain, pemerintah justru menghadapi kebutuhan belanja yang lebih besar untuk mempertahankan daya beli masyarakat, menjaga subsidi energi, serta mengurangi dampak perlambatan ekonomi. Kondisi tersebut menempatkan kebijakan fiskal pada posisi yang tidak mudah karena setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap stabilitas ekonomi maupun kesinambungan APBN.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Batas defisit fiskal sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama ini sering dipersepsikan sebagai indikator utama kesehatan APBN. Namun, dalam praktiknya, batas tersebut lebih merupakan instrumen untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dibandingkan tujuan akhir itu sendiri. Ketika perekonomian menghadapi guncangan yang bersifat luar biasa, seperti lonjakan harga energi atau perlambatan ekonomi global, pelebaran defisit dapat menjadi pilihan kebijakan yang rasional sepanjang digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari kemampuan mempertahankan angka defisit di bawah 3 persen, tetapi juga dari efektivitas belanja negara dalam menopang aktivitas ekonomi dan mempercepat pemulihan apabila terjadi tekanan eksternal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari perspektif investor, keputusan S&amp;P mempertahankan <em>outlook<\/em> stabil memberikan sinyal bahwa risiko fiskal Indonesia masih berada dalam kategori yang dapat dikelola. Penilaian tersebut penting karena memengaruhi persepsi investor global terhadap surat utang pemerintah maupun arus investasi ke Indonesia. Semakin tinggi tingkat kepercayaan investor, semakin rendah premi risiko (<em>risk premium<\/em>) yang harus dibayar pemerintah ketika menerbitkan obligasi. Sebaliknya, apabila kredibilitas fiskal menurun, biaya pembiayaan utang berpotensi meningkat sehingga ruang fiskal pemerintah menjadi semakin sempit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepercayaan tersebut tidak dibangun hanya melalui disiplin anggaran, tetapi juga melalui kemampuan pemerintah menjaga kesinambungan kebijakan ekonomi. Konsistensi dalam pengelolaan penerimaan negara, pengendalian belanja, serta kepastian regulasi menjadi faktor yang selalu diperhatikan oleh lembaga pemeringkat internasional. Selama indikator-indikator tersebut menunjukkan arah yang positif, tekanan eksternal tidak serta-merta mengubah persepsi terhadap fundamental ekonomi Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, tantangan terbesar justru berasal dari faktor-faktor yang berada di luar kendali pemerintah. Kenaikan harga minyak dunia dapat meningkatkan tekanan inflasi, memperbesar biaya logistik, dan mengurangi margin keuntungan dunia usaha. Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, konsumsi rumah tangga maupun investasi swasta dapat mengalami perlambatan. Dampaknya kemudian akan tercermin pada penurunan penerimaan pajak, sementara kebutuhan belanja negara justru meningkat untuk menjaga stabilitas ekonomi. Situasi seperti ini menyebabkan ruang fiskal menjadi semakin terbatas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, kualitas belanja negara menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar besarnya nominal pengeluaran. Belanja yang diarahkan pada pembangunan infrastruktur produktif, penguatan industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta transformasi ekonomi akan menghasilkan <em>multiplier effect<\/em> yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila peningkatan belanja hanya digunakan untuk konsumsi jangka pendek tanpa meningkatkan produktivitas nasional, tekanan terhadap APBN akan semakin besar pada masa mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain menjaga stabilitas fiskal, Indonesia juga perlu memperkuat daya tarik investasi langsung (<em>Foreign Direct Investment<\/em> atau FDI). Arus modal jangka pendek memang dapat membantu memperkuat pasar keuangan domestik, tetapi investasi langsung memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar karena menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas produksi, serta mendorong alih teknologi. Oleh sebab itu, kebijakan fiskal yang sehat perlu diikuti dengan iklim investasi yang semakin kompetitif agar pertumbuhan ekonomi memperoleh sumber penggerak yang lebih berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks tersebut, beberapa negara di kawasan Asia memberikan pelajaran penting mengenai strategi pembangunan ekonomi. Vietnam, misalnya, tidak lagi hanya mengejar besarnya investasi yang masuk, tetapi mulai menyeleksi investasi yang memiliki nilai tambah tinggi, menciptakan transfer teknologi, dan meningkatkan kualitas tenaga kerja domestik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya arus modal, melainkan juga dari dampaknya terhadap peningkatan produktivitas nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan serupa relevan bagi Indonesia. Stabilitas fiskal akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila mampu menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi. Kepercayaan investor yang tercermin melalui peringkat kredit harus diterjemahkan menjadi peningkatan investasi produktif, pengembangan industri bernilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas. Dengan demikian, manfaat dari kredibilitas fiskal tidak berhenti pada penurunan biaya pembiayaan pemerintah, tetapi juga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat yang sama, pemerintah perlu terus memperkuat sinergi dengan sektor swasta. Pertumbuhan ekonomi modern semakin bergantung pada inovasi, investasi, dan kemampuan dunia usaha dalam menciptakan nilai tambah. Negara berperan menyediakan kepastian regulasi, infrastruktur, serta insentif yang tepat, sedangkan sektor swasta menjadi motor utama ekspansi investasi dan penciptaan lapangan kerja. Kolaborasi kedua pihak menjadi salah satu prasyarat agar stabilitas fiskal mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, keputusan S&amp;P mempertahankan peringkat kredit Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan modal awal untuk menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi. Di tengah ancaman lonjakan harga minyak hingga kisaran US$150\u2013US$200 per barel, potensi pelebaran defisit menuju sekitar 2,85 persen PDB atau sekitar Rp734 triliun, serta meningkatnya tekanan terhadap APBN, kredibilitas fiskal menjadi aset yang sangat berharga. Kinerja penerimaan negara yang mencapai sekitar Rp1.459 triliun dengan pertumbuhan 21,4 persen, sementara belanja negara sebesar sekitar Rp1.656 triliun atau tumbuh 17,8 persen, menunjukkan bahwa fondasi fiskal Indonesia masih relatif kuat. Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya mempertahankan angka-angka tersebut, melainkan memastikan bahwa setiap kebijakan fiskal mampu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempercepat transformasi ekonomi menuju pertumbuhan yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Keputusan Standard &amp; Poor&#8217;s (S&amp;P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil menjadi salah satu sinyal positif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Penilaian tersebut hadir ketika pasar internasional menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta volatilitas pasar keuangan global. Dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":578104,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[15530],"class_list":["post-600087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-fiskal-indonesia"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>S&amp;P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"S&amp;P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Keputusan Standard &amp; Poor&#8217;s (S&amp;P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil menjadi salah satu sinyal positif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Penilaian tersebut hadir ketika pasar internasional menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta volatilitas pasar keuangan global. Dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-28T05:11:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-28T05:28:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1752\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/\",\"name\":\"S&P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-28T05:11:21+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-28T05:28:28+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg\",\"width\":1752,\"height\":1080,\"caption\":\"wall street Realitas Fiskal\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"S&#038;P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"S&P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"S&P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Keputusan Standard &amp; Poor&#8217;s (S&amp;P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil menjadi salah satu sinyal positif di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Penilaian tersebut hadir ketika pasar internasional menghadapi tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta volatilitas pasar keuangan global. Dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-07-28T05:11:21+00:00","article_modified_time":"2026-07-28T05:28:28+00:00","og_image":[{"width":1752,"height":1080,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/","name":"S&P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg","datePublished":"2026-07-28T05:11:21+00:00","dateModified":"2026-07-28T05:28:28+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/wallstreetbig.jpg","width":1752,"height":1080,"caption":"wall street Realitas Fiskal"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/07\/28\/sp-menjadi-penyangga-kepercayaan-fiskal-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"S&#038;P Menjadi Penyangga Kepercayaan Fiskal Indonesia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=600087"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600087\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":600088,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600087\/revisions\/600088"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/578104"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=600087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=600087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=600087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}