{"id":600537,"date":"2026-08-05T19:16:27","date_gmt":"2026-08-05T12:16:27","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=600537"},"modified":"2026-08-05T19:17:21","modified_gmt":"2026-08-05T12:17:21","slug":"mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/","title":{"rendered":"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibiznews-Kolom) Krisis keuangan di negara berkembang hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Sebelum sebuah negara mengalami gejolak nilai tukar, krisis perbankan, gagal bayar utang pemerintah, atau krisis neraca pembayaran, biasanya telah muncul berbagai sinyal yang menunjukkan meningkatnya kerentanan ekonomi. Persoalannya bukan terletak pada ketiadaan tanda-tanda tersebut, melainkan pada kemampuan pemerintah, bank sentral, regulator, dan pelaku pasar dalam mengenali, menghubungkan, serta meresponsnya secara tepat waktu. Kajian berjudul <em>Predicting Emerging-Market Financial Stress: An Early Warning Framework for Currency, Banking, Sovereign Debt, and Balance-of-Payments Crises<\/em> menegaskan bahwa sebagian besar krisis sebenarnya dapat diidentifikasi lebih awal apabila berbagai indikator ekonomi diamati secara terpadu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut kajian tersebut, sejarah menunjukkan bahwa sebagian besar krisis keuangan merupakan hasil akumulasi berbagai kelemahan yang berkembang secara bertahap. Defisit transaksi berjalan yang terus melebar, meningkatnya utang luar negeri jangka pendek, pertumbuhan kredit yang terlalu cepat, lemahnya sektor perbankan, serta menurunnya cadangan devisa merupakan contoh indikator yang sering muncul jauh sebelum krisis benar-benar meledak. Ketika kondisi keuangan global berubah, misalnya akibat kenaikan suku bunga internasional atau perubahan sentimen investor, kerentanan yang sebelumnya tersembunyi dapat berubah menjadi tekanan keuangan yang serius.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kajian <em>Predicting Emerging-Market Financial Stress<\/em> menegaskan bahwa memprediksi krisis tidak boleh dipahami sebagai upaya meramalkan tanggal atau waktu terjadinya krisis secara presisi. Sebaliknya, prediksi krisis harus dipandang sebagai proses tata kelola risiko (<em>risk governance<\/em>). Pendekatan tersebut bertujuan mengidentifikasi tingkat kerentanan suatu negara, mengenali pemicu yang mungkin muncul, memahami bagaimana tekanan menyebar ke berbagai sektor ekonomi, serta menilai kapasitas pemerintah dalam merespons situasi tersebut. Dengan kata lain, sistem peringatan dini lebih berfungsi sebagai alat pendukung pengambilan keputusan daripada mesin peramal krisis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kajian ini juga menggarisbawahi bahwa negara berkembang memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan negara maju. Banyak negara berkembang masih sangat bergantung pada pembiayaan eksternal, memiliki pasar keuangan domestik yang relatif dangkal, menggunakan utang dalam mata uang asing, serta bergantung pada ekspor komoditas. Kondisi tersebut membuat mereka lebih rentan terhadap perubahan kondisi keuangan global. Ketika investor internasional mulai mengurangi investasinya, arus modal dapat berbalik arah secara cepat sehingga menyebabkan depresiasi nilai tukar, penurunan cadangan devisa, meningkatnya biaya utang, dan tekanan terhadap sistem perbankan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk memahami proses tersebut, kajian ini membangun kerangka konseptual yang terdiri atas enam lapisan. Lapisan pertama adalah <em>vulnerability<\/em> atau kerentanan awal, yaitu kondisi ekonomi yang telah menyimpan berbagai kelemahan seperti defisit transaksi berjalan, pertumbuhan kredit yang berlebihan, lemahnya modal perbankan, tingginya utang pemerintah, atau cadangan devisa yang tidak memadai. Lapisan kedua adalah <em>trigger<\/em> atau pemicu, misalnya kenaikan suku bunga global, penurunan harga komoditas, konflik politik, ataupun perubahan sentimen pasar. Lapisan ketiga merupakan saluran transmisi yang menggambarkan bagaimana tekanan tersebut menyebar melalui arus modal keluar, pelemahan nilai tukar, meningkatnya spread obligasi pemerintah, hingga terganggunya likuiditas perbankan. Selanjutnya terdapat proses amplifikasi ketika tekanan awal berkembang menjadi krisis yang lebih luas akibat keterkaitan antara sektor perbankan, pemerintah, dan pasar keuangan. Setelah itu, efektivitas respons sangat ditentukan oleh kapasitas kebijakan yang dimiliki negara, seperti besarnya cadangan devisa, ruang fiskal, kredibilitas bank sentral, serta kualitas institusi. Hasil akhirnya adalah apakah tekanan tersebut dapat diredam atau justru berkembang menjadi krisis keuangan yang sistemik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan kerangka tersebut, krisis keuangan dikelompokkan menjadi beberapa jenis utama. Pertama adalah krisis mata uang, yaitu ketika kepercayaan terhadap nilai tukar menurun sehingga cadangan devisa terkuras dan mata uang mengalami tekanan hebat. Kedua adalah krisis perbankan yang ditandai oleh meningkatnya kredit bermasalah, penarikan dana masyarakat secara besar-besaran, dan melemahnya permodalan bank. Ketiga adalah krisis utang pemerintah yang muncul ketika pemerintah kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran utangnya atau kehilangan akses terhadap pembiayaan pasar. Keempat adalah krisis neraca pembayaran yang terjadi akibat kesenjangan antara kebutuhan pembayaran luar negeri dan kemampuan memperoleh pembiayaan eksternal. Selain itu terdapat fenomena <em>sudden stop<\/em>, yaitu berhentinya arus modal asing secara mendadak, serta krisis sistemik yang merupakan kombinasi beberapa jenis krisis sekaligus. Masing-masing jenis krisis memiliki indikator awal dan respons kebijakan yang berbeda sehingga tidak dapat dianalisis menggunakan satu indikator tunggal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu temuan penting dalam <em>Predicting Emerging-Market Financial Stress<\/em> adalah bahwa indikator ekonomi harus dibaca secara bersama-sama. Sebagai contoh, defisit transaksi berjalan belum tentu berbahaya apabila dibiayai oleh investasi asing langsung yang bersifat jangka panjang. Namun, kondisi yang sama menjadi jauh lebih berisiko apabila pembiayaannya bergantung pada utang luar negeri jangka pendek. Demikian pula pertumbuhan kredit yang tinggi tidak selalu menunjukkan adanya gelembung keuangan karena bisa saja mencerminkan proses pendalaman sektor keuangan. Akan tetapi, apabila pertumbuhan kredit tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga aset yang berlebihan dan apresiasi nilai tukar riil, maka kemungkinan terbentuknya ketidakseimbangan ekonomi menjadi lebih besar. Oleh karena itu, hubungan antarikator jauh lebih penting dibandingkan membaca masing-masing indikator secara terpisah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kajian tersebut juga mengulas perkembangan teori krisis keuangan sejak dekade 1970-an. Model generasi pertama menjelaskan bahwa krisis mata uang muncul akibat kebijakan fiskal dan moneter yang tidak konsisten dengan sistem nilai tukar tetap. Selanjutnya, model generasi kedua menunjukkan bahwa ekspektasi pelaku pasar juga dapat memicu krisis meskipun fundamental ekonomi belum sepenuhnya memburuk. Perkembangan berikutnya menambahkan faktor lemahnya sektor perbankan, pertumbuhan kredit yang berlebihan, ketidaksesuaian struktur utang, serta moral hazard sebagai penyebab utama krisis di negara berkembang. Evolusi teori tersebut memperlihatkan bahwa krisis keuangan tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan nilai tukar, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara sektor riil, sektor keuangan, kebijakan pemerintah, dan dinamika pasar global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Predicting Emerging-Market Financial Stress<\/em> menunjukkan bahwa membangun sistem peringatan dini bukan sekadar mengumpulkan data ekonomi sebanyak mungkin. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana berbagai indikator saling berkaitan, bagaimana tekanan dapat berpindah dari satu sektor ke sektor lain, serta bagaimana pemerintah mampu bertindak sebelum kerentanan berubah menjadi krisis. Dengan pendekatan seperti itu, sistem peringatan dini dapat menjadi instrumen strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat ketahanan sektor keuangan, dan mengurangi dampak sosial maupun ekonomi yang biasanya menyertai krisis keuangan di negara berkembang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Krisis keuangan di negara berkembang hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Sebelum sebuah negara mengalami gejolak nilai tukar, krisis perbankan, gagal bayar utang pemerintah, atau krisis neraca pembayaran, biasanya telah muncul berbagai sinyal yang menunjukkan meningkatnya kerentanan ekonomi. Persoalannya bukan terletak pada ketiadaan tanda-tanda tersebut, melainkan pada kemampuan pemerintah, bank sentral, regulator, dan pelaku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":320235,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[4239],"class_list":["post-600537","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-negara-berkembang"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Krisis keuangan di negara berkembang hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Sebelum sebuah negara mengalami gejolak nilai tukar, krisis perbankan, gagal bayar utang pemerintah, atau krisis neraca pembayaran, biasanya telah muncul berbagai sinyal yang menunjukkan meningkatnya kerentanan ekonomi. Persoalannya bukan terletak pada ketiadaan tanda-tanda tersebut, melainkan pada kemampuan pemerintah, bank sentral, regulator, dan pelaku [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-05T12:16:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-05T12:17:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"580\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"387\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/\",\"name\":\"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg\",\"datePublished\":\"2026-08-05T12:16:27+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-05T12:17:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg\",\"width\":580,\"height\":387,\"caption\":\"Negara Berkembang\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Krisis keuangan di negara berkembang hampir tidak pernah terjadi secara tiba-tiba. Sebelum sebuah negara mengalami gejolak nilai tukar, krisis perbankan, gagal bayar utang pemerintah, atau krisis neraca pembayaran, biasanya telah muncul berbagai sinyal yang menunjukkan meningkatnya kerentanan ekonomi. Persoalannya bukan terletak pada ketiadaan tanda-tanda tersebut, melainkan pada kemampuan pemerintah, bank sentral, regulator, dan pelaku [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-08-05T12:16:27+00:00","article_modified_time":"2026-08-05T12:17:21+00:00","og_image":[{"width":580,"height":387,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/","name":"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg","datePublished":"2026-08-05T12:16:27+00:00","dateModified":"2026-08-05T12:17:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2016\/10\/emerging-market2.jpg","width":580,"height":387,"caption":"Negara Berkembang"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/08\/05\/mendeteksi-krisis-keuangan-sebelum-terjadi-di-negara-berkembang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mendeteksi Krisis Keuangan Sebelum Terjadi di Negara Berkembang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600537","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=600537"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600537\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":600538,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/600537\/revisions\/600538"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/320235"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=600537"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=600537"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=600537"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}