{"id":602459,"date":"2026-09-22T12:35:08","date_gmt":"2026-09-22T05:35:08","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=602459"},"modified":"2026-09-22T12:35:37","modified_gmt":"2026-09-22T05:35:37","slug":"inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/","title":{"rendered":"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibiznews-Kolom) Ada sesuatu yang berubah dalam perekonomian dunia. Setelah periode panjang ketika banyak negara berharap suku bunga dapat terus turun, inflasi kembali muncul sebagai bayangan yang sulit diabaikan. Harga energi melonjak, jalur perdagangan terganggu, biaya transportasi meningkat, sementara bank-bank sentral kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana, menaikkan suku bunga dan berisiko memperlambat ekonomi, atau menahan diri dan membiarkan tekanan harga semakin menyebar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gambaran itu terlihat jelas dari kebijakan Federal Reserve Amerika Serikat. Bank sentral AS menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%\u20134%. Keputusan tersebut muncul setelah inflasi berada di atas target selama lebih dari lima tahun. Federal Reserve menegaskan bahwa stabilitas harga kembali menjadi perhatian utama kebijakan moneternya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, persoalannya bukan hanya seberapa tinggi suku bunga dinaikkan. Yang lebih menarik adalah berapa lama dunia harus menunggu sampai inflasi benar-benar kembali mendekati sasaran. Proyeksi menunjukkan bahwa median proyeksi Federal Reserve menempatkan pencapaian target inflasi 2% hingga 2029. Artinya, tekanan harga yang muncul dalam beberapa tahun terakhir belum dianggap sebagai persoalan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Ketika Energi Menjadi Pemicu Baru<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di balik gelombang inflasi terbaru terdapat faktor yang sangat sulit dikendalikan oleh bank sentral, energi. Harga minyak kembali menembus US$100 per barel setelah gangguan geopolitik mengganggu jalur pasokan. Selat Hormuz menjadi titik penting karena gangguan di kawasan tersebut dapat memengaruhi aliran minyak dunia, sementara ancaman terhadap pasokan dari kawasan Teluk memperbesar kekhawatiran pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampaknya bergerak jauh lebih cepat daripada kebijakan moneter. Minyak bukan hanya bahan bakar kendaraan. Ia masuk ke biaya transportasi, produksi, distribusi, manufaktur, hingga berbagai barang konsumsi. Ketika harga minyak meningkat, perusahaan menghadapi biaya yang lebih tinggi dan pada akhirnya sebagian biaya tersebut dapat diteruskan kepada konsumen. Dengan demikian, sebuah gangguan di pasar energi dapat berubah menjadi tekanan harga yang terasa di berbagai sudut perekonomian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah muncul perbedaan penting antara dua jenis inflasi. Inflasi yang berasal dari permintaan terjadi ketika konsumen dan perusahaan membelanjakan terlalu banyak sehingga kapasitas produksi tidak mampu mengejar permintaan. Dalam kondisi seperti itu, suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu mendinginkan aktivitas ekonomi. Tetapi inflasi yang muncul karena pasokan energi lebih mahal memiliki karakter berbeda. Suku bunga yang lebih tinggi tidak dapat menghasilkan minyak tambahan atau membuka kembali jalur perdagangan yang terganggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, kenaikan suku bunga dalam situasi seperti sekarang lebih berfungsi sebagai upaya mencegah guncangan sementara berubah menjadi inflasi yang lebih luas. Tantangannya adalah memastikan kenaikan harga energi tidak kemudian masuk ke upah, harga jasa, ekspektasi inflasi, dan keputusan bisnis. Jika proses itu terjadi, apa yang awalnya merupakan guncangan pasokan dapat berubah menjadi persoalan yang jauh lebih persisten.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Federal Reserve Berusaha Membaca Tren<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menekankan bahwa bank sentral tidak ingin bergantung pada satu angka ekonomi tertentu. Data bulanan seperti inflasi atau penjualan ritel memang penting, tetapi menurutnya tren yang lebih luas memiliki arti lebih besar dibanding satu titik data. Data individual dapat berfluktuasi, sedangkan arah pergerakan ekonomi membutuhkan pembacaan yang lebih panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan tersebut menjadi penting karena perekonomian sedang berada dalam situasi yang penuh persimpangan. Jika inflasi dipicu terutama oleh energi dan gangguan pasokan, bank sentral harus berhati-hati agar kebijakan yang terlalu ketat tidak justru menekan investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan. Namun, jika bank sentral terlalu lama menunggu, tekanan harga dapat menjadi semakin tertanam dalam perilaku ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Federal Reserve juga menghadapi pertanyaan mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Warsh tidak memberikan panduan mengenai keputusan masa depan dan menekankan bahwa setiap keputusan akan bergantung pada perkembangan ekonomi yang diamati dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, pasar harus membaca arah kebijakan bukan dari janji yang pasti, tetapi dari perubahan kondisi ekonomi dan respons bank sentral terhadap perubahan tersebut.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Beban Inflasi Tidak Sama bagi Semua Orang<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada sisi lain dari inflasi yang sering hilang ketika angka-angka makroekonomi memenuhi layar, siapa yang paling merasakan dampaknya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warsh menjelaskan bahwa kelompok masyarakat yang tidak memiliki banyak aset keuangan atau ekuitas rumah sangat bergantung pada pendapatan dari pekerjaan. Bagi kelompok seperti itu, stabilitas harga memiliki arti yang sangat langsung. Ketika harga kebutuhan sehari-hari meningkat lebih cepat daripada pendapatan, kenaikan nominal gaji belum tentu berarti peningkatan daya beli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan tersebut membuat inflasi bukan sekadar persoalan statistik. Harga makanan, bensin, sewa, transportasi, dan berbagai kebutuhan dasar menjadi bagian dari pengalaman ekonomi sehari-hari. Karena itu, ketika bank sentral berbicara mengenai target inflasi 2%, angka tersebut pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan pendapatan rumah tangga mempertahankan daya beli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kebijakan untuk mencapai stabilitas harga juga memiliki konsekuensi. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman, membuat pembelian rumah lebih mahal, meningkatkan beban pembiayaan bisnis, dan berpotensi memperlambat perekrutan. Kenaikan suku bunga dapat mengurangi aktivitas ekonomi, investasi, dan perekrutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah paradoks kebijakan moneter, kebijakan yang dimaksudkan untuk melindungi daya beli dalam jangka panjang dapat menciptakan tekanan baru bagi sebagian rumah tangga dan perusahaan dalam jangka pendek.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Asia Menghadapi Cerita yang Berbeda<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inflasi global ternyata tidak bergerak dengan pola yang sama.\u00a0 Ada perbedaan besar di Asia. Jepang menghadapi tekanan inflasi yang meningkat, sementara China justru masih menghadapi tekanan disinflasi. India berada dalam kondisi yang relatif lebih stabil. Dengan demikian, kenaikan harga energi global tidak otomatis menghasilkan tingkat inflasi yang sama di seluruh kawasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu faktor yang membantu Asia adalah produktivitas. Perkembangan teknologi, termasuk investasi dan penggunaan kecerdasan buatan, disebut sebagai salah satu faktor yang dapat membantu membatasi tekanan harga. China juga memberikan tekanan disinflasi yang kemudian ikut memengaruhi lingkungan harga di kawasan tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indonesia sendiri disebut sebagai contoh negara yang merespons tekanan nilai tukar dan energi melalui kebijakan moneter. Bank Indonesia disebut melakukan kenaikan suku bunga bahkan di antara jadwal pertemuan reguler ketika tekanan tersebut meningkat. Contoh ini menunjukkan bahwa bagi negara berkembang, persoalan inflasi tidak hanya berasal dari kondisi domestik, tetapi juga dari harga komoditas global dan pergerakan mata uang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">India mengambil pendekatan yang berbeda. Ketika harga minyak meningkat, sebagian tekanan tidak sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. Pemerintah menggunakan kebijakan fiskal untuk membantu menjaga agar kenaikan harga energi global tidak langsung berubah menjadi tekanan harga domestik yang lebih besar. Pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa melawan inflasi tidak selalu hanya menjadi pekerjaan bank sentral; kebijakan fiskal juga dapat menjadi bagian dari respons.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Eropa Berjalan di Atas Tali<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eropa menghadapi persoalan yang bahkan lebih rumit karena pertumbuhan ekonomi dan inflasi bergerak dalam arah yang tidak selalu nyaman. Tekanan inflasi Eropa masih banyak berkaitan dengan energi, sementara inflasi inti dan pertumbuhan upah menunjukkan tanda-tanda yang lebih moderat. Namun, semakin lama guncangan energi bertahan, semakin besar pula risiko bahwa tekanan tersebut menyebar ke bagian ekonomi yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi European Central Bank, tantangannya adalah mencegah efek putaran kedua. Kenaikan harga energi mungkin bermula dari luar sistem ekonomi, tetapi perusahaan dapat menaikkan harga, pekerja dapat menuntut kompensasi lebih tinggi, dan ekspektasi inflasi dapat berubah. Jika proses tersebut berlangsung terus, inflasi energi yang semula bersifat eksternal dapat berkembang menjadi inflasi yang lebih menyeluruh.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, respons moneter Eropa harus mempertimbangkan dua risiko sekaligus. Terlalu longgar dapat membuat inflasi semakin menetap, tetapi terlalu ketat dapat menekan permintaan ketika sejumlah ekonomi Eropa sendiri belum tumbuh kuat. Situasi tersebut sebagai keseimbangan yang sangat sulit, terutama ketika dukungan fiskal juga harus diarahkan secara selektif kepada rumah tangga rentan dan industri yang sangat bergantung pada energi.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Pasar Obligasi Mengirimkan Pesan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara bank sentral mengatur suku bunga jangka pendek, pasar obligasi memiliki kehidupannya sendiri. Kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk penguatan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan modal. Investasi besar-besaran perusahaan teknologi dan hyperscalers ikut meningkatkan kompetisi untuk memperoleh pendanaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini penting karena imbal hasil Treasury AS menjadi salah satu referensi utama bagi harga aset di seluruh dunia. Ketika yield jangka panjang meningkat, biaya modal dapat ikut bergerak lebih tinggi. Dampaknya kemudian terasa pada perusahaan, pasar saham, pasar kredit, investasi, dan keputusan pembiayaan rumah tangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan utang pemerintah AS dan kebutuhan pasar untuk menyerap penerbitan obligasi dalam jumlah besar. Tekanan pada pasar obligasi berkaitan dengan hubungan antara pasokan utang dan permintaan investor. Perdebatan mengenai seberapa besar pengeluaran pemerintah dan bagaimana utang dikelola kemudian menjadi bagian dari cerita yang lebih luas mengenai arah suku bunga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, inflasi tidak lagi hanya berada di meja bank sentral. Ia telah masuk ke pasar obligasi, pasar energi, kebijakan fiskal, nilai tukar, investasi teknologi, hingga perdagangan internasional.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Dunia Memasuki Fase yang Lebih Kompleks<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">inflasi global saat ini tidak memiliki satu penyebab tunggal. Ada guncangan energi, konflik geopolitik, gangguan jalur perdagangan, kebijakan fiskal, pertumbuhan jumlah uang, perubahan produktivitas, investasi teknologi, dan dinamika nilai tukar yang saling bertemu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Itulah sebabnya resep lama tidak selalu bekerja dengan cara yang sama. Menaikkan suku bunga dapat membantu menekan permintaan, tetapi tidak dapat memproduksi minyak. Subsidi dapat melindungi rumah tangga dari kenaikan harga energi, tetapi jika diberikan terlalu luas dapat memperbesar tekanan fiskal. Investasi teknologi dapat meningkatkan produk<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Ada sesuatu yang berubah dalam perekonomian dunia. Setelah periode panjang ketika banyak negara berharap suku bunga dapat terus turun, inflasi kembali muncul sebagai bayangan yang sulit diabaikan. Harga energi melonjak, jalur perdagangan terganggu, biaya transportasi meningkat, sementara bank-bank sentral kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana, menaikkan suku bunga dan berisiko memperlambat ekonomi, atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":591766,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[241],"class_list":["post-602459","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-inflasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Ada sesuatu yang berubah dalam perekonomian dunia. Setelah periode panjang ketika banyak negara berharap suku bunga dapat terus turun, inflasi kembali muncul sebagai bayangan yang sulit diabaikan. Harga energi melonjak, jalur perdagangan terganggu, biaya transportasi meningkat, sementara bank-bank sentral kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana, menaikkan suku bunga dan berisiko memperlambat ekonomi, atau [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-22T05:35:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-22T05:35:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"666\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/\",\"name\":\"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg\",\"datePublished\":\"2026-09-22T05:35:08+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-22T05:35:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg\",\"width\":1000,\"height\":666,\"caption\":\"Inflasi\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Ada sesuatu yang berubah dalam perekonomian dunia. Setelah periode panjang ketika banyak negara berharap suku bunga dapat terus turun, inflasi kembali muncul sebagai bayangan yang sulit diabaikan. Harga energi melonjak, jalur perdagangan terganggu, biaya transportasi meningkat, sementara bank-bank sentral kembali dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana, menaikkan suku bunga dan berisiko memperlambat ekonomi, atau [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-09-22T05:35:08+00:00","article_modified_time":"2026-09-22T05:35:37+00:00","og_image":[{"width":1000,"height":666,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/","name":"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg","datePublished":"2026-09-22T05:35:08+00:00","dateModified":"2026-09-22T05:35:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/oil-ok100.jpg","width":1000,"height":666,"caption":"Inflasi"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/22\/inflasi-kembali-menguji-ketahanan-ekonomi-dunia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Inflasi Kembali Menguji Ketahanan Ekonomi Dunia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602459","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=602459"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602459\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":602461,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602459\/revisions\/602461"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/591766"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=602459"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=602459"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=602459"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}