{"id":602750,"date":"2026-09-29T09:42:26","date_gmt":"2026-09-29T02:42:26","guid":{"rendered":"https:\/\/vibiznews.com\/?p=602750"},"modified":"2026-09-29T09:42:52","modified_gmt":"2026-09-29T02:42:52","slug":"brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/","title":{"rendered":"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Vibiznews-Kolom) Ada sebuah lelucon lama di kalangan ekonom tentang Brasil, negara ini selalu disebut sebagai \u201cnegara masa depan\u201d, tetapi masa depan itu seolah tidak pernah benar-benar tiba. Kalimat tersebut terdengar seperti pujian, namun sebenarnya menggambarkan sebuah paradoks yang telah melekat selama puluhan tahun. Brasil memiliki wilayah yang luas, sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, pasar domestik kuat, serta posisi strategis di Amerika Selatan. Semua modal itu seharusnya cukup untuk membawa Brasil menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia, tetapi perjalanan tersebut ternyata jauh lebih rumit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada awal abad ke-21, optimisme terhadap Brasil sempat mencapai tingkat yang sangat tinggi. Negara ini ditempatkan bersama Rusia, India, dan China dalam kelompok BRIC, yang saat itu dipandang sebagai kumpulan negara dengan potensi pertumbuhan besar pada abad ke-21. Brasil dianggap memiliki kombinasi yang sangat menarik antara sumber daya alam, populasi, pasar domestik dan stabilitas geografis. Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat dan harga komoditas melonjak, banyak orang melihat masa depan Brasil dengan keyakinan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara geografis, Brasil memang memiliki keunggulan yang luar biasa. Negara ini merupakan salah satu negara terbesar di dunia dan berbagi perbatasan dengan hampir seluruh negara di Amerika Selatan, tetapi relatif terbebas dari konflik militer besar dengan negara tetangganya dalam sejarah modern. Kondisi tersebut menciptakan lingkungan yang relatif stabil bagi pembangunan ekonomi. Tidak adanya ancaman perang besar di kawasan membuat Brasil dapat lebih banyak mengarahkan sumber dayanya untuk pembangunan ekonomi, infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekayaan alam Brasil juga sulit diabaikan. Negara ini merupakan salah satu produsen dan eksportir terbesar dunia untuk kedelai, daging sapi, gula, kopi, bijih besi dan berbagai komoditas lainnya. Brasil juga memiliki sumber daya air yang sangat besar serta lahan pertanian yang luas. Ketika cadangan minyak lepas pantai dalam lapisan <em>pre-salt<\/em> mulai ditemukan dan dikembangkan, Brasil mendapatkan tambahan sumber kekuatan baru. Negara ini tampaknya memiliki hampir semua bahan dasar yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kekuatan ekonomi global.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Ledakan Komoditas Membawa Harapan Besar<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Periode sekitar 2003 hingga 2012 menjadi salah satu masa paling penting dalam perjalanan ekonomi Brasil. Pada saat itu, China sedang mengalami industrialisasi dengan kecepatan yang sangat tinggi dan membutuhkan bahan mentah dalam jumlah besar. Pembangunan kota, jalan, pelabuhan, gedung, pembangkit listrik dan kawasan industri China menciptakan permintaan besar terhadap bijih besi dan berbagai komoditas lainnya. Pada saat yang sama, meningkatnya pendapatan masyarakat China juga mendorong kebutuhan terhadap makanan dan produk pertanian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil berada tepat pada posisi yang sangat menguntungkan dari perubahan tersebut. Negara ini memiliki bijih besi, kedelai, daging sapi, gula, kopi dan berbagai komoditas lain yang dibutuhkan oleh pasar dunia. Harga komoditas meningkat dan arus uang masuk ke Brasil semakin besar. Pemerintah memperoleh pendapatan yang lebih kuat, perusahaan mendapatkan keuntungan, investasi meningkat dan konsumsi masyarakat ikut berkembang. Selama beberapa tahun, seolah-olah Brasil telah menemukan mesin pertumbuhan yang dapat membawa negara tersebut menuju tingkat kemakmuran baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan tersebut juga terasa di tingkat rumah tangga. Jutaan masyarakat Brasil mengalami peningkatan pendapatan dan keluar dari kemiskinan ekstrem. Program perlindungan sosial seperti Bolsa Fam\u00edlia membantu memperluas jaring pengaman bagi masyarakat berpendapatan rendah. Kredit konsumsi juga berkembang dan memungkinkan lebih banyak masyarakat membeli kendaraan, televisi, peralatan rumah tangga dan berbagai barang yang sebelumnya sulit mereka miliki. Kelas menengah Brasil tumbuh dan menciptakan optimisme bahwa negara tersebut akhirnya sedang memasuki fase baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil bahkan mendapatkan panggung global melalui penyelenggaraan berbagai acara besar. Negara ini menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2014 dan Olimpiade Rio 2016. Pembangunan infrastruktur dan investasi yang menyertai kedua acara tersebut memberikan kesan bahwa Brasil sedang bergerak menuju posisi yang lebih besar di dunia. Kota-kota besar berkembang, konsumsi meningkat dan perhatian internasional terhadap Brasil semakin kuat. Namun di balik semua optimisme tersebut, terdapat persoalan struktural yang belum benar-benar terselesaikan.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Ketergantungan pada Komoditas Menjadi Perangkap<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah mulai terlihat ketika pertumbuhan ekonomi terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Harga komoditas memang dapat menghasilkan pendapatan luar biasa ketika permintaan dunia sedang tinggi, tetapi harga tersebut tidak berada sepenuhnya dalam kendali pemerintah Brasil. Ketika harga naik, pendapatan meningkat dengan cepat. Sebaliknya, ketika harga turun, perusahaan, pemerintah dan masyarakat dapat merasakan dampaknya dalam waktu relatif singkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masuknya modal asing dalam jumlah besar selama masa ledakan komoditas juga menyebabkan mata uang Brasil menguat. Mata uang yang kuat pada dasarnya memiliki keuntungan karena membuat barang impor menjadi lebih murah dan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk dari luar negeri. Namun bagi perusahaan domestik yang ingin mengekspor, kondisi tersebut justru dapat menjadi masalah. Produk yang dibuat di Brasil menjadi lebih mahal dibandingkan produk yang dibuat di negara lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pabrik-pabrik Brasil kemudian harus bersaing dengan barang impor yang semakin murah. Persaingan tersebut menjadi semakin sulit karena banyak negara Asia mampu menghasilkan barang manufaktur dengan biaya yang lebih rendah. Industri Brasil tidak hanya menghadapi masalah harga, tetapi juga harus berhadapan dengan persoalan produktivitas, teknologi, logistik dan biaya menjalankan usaha. Ketika komoditas masih menghasilkan keuntungan besar, persoalan tersebut belum terasa sebagai ancaman utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah yang lebih dalam adalah Brasil tidak berhasil melakukan transformasi industri dengan kecepatan yang sama seperti beberapa negara Asia. Negara seperti Korea Selatan dan Taiwan menggunakan industrialisasi sebagai jalan untuk bergerak dari produksi sederhana menuju elektronik, mesin, teknologi tinggi dan produk bernilai tambah besar. Brasil justru semakin nyaman dengan kekuatan tradisionalnya sebagai eksportir komoditas. Fenomena ketika proses industrialisasi melemah sebelum sebuah negara mencapai tingkat teknologi tinggi sering disebut sebagai <em>premature deindustrialization<\/em>.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Biaya Menjalankan Ekonomi Terlalu Tinggi<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ukuran Brasil yang sangat besar juga menghadirkan persoalan tersendiri. Negara ini memiliki wilayah yang sangat luas sehingga biaya untuk membawa barang dari pusat produksi menuju pelabuhan atau pasar domestik menjadi sangat penting. Infrastruktur transportasi memang berkembang, tetapi jaringan kereta api untuk mengangkut barang dalam jumlah besar belum sekuat yang dimiliki beberapa negara dengan ekonomi industri besar. Ketergantungan pada transportasi jalan raya dan truk membuat biaya logistik menjadi salah satu tantangan utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi perusahaan yang menjual komoditas dalam jumlah besar, biaya transportasi dapat menentukan apakah sebuah produk mampu bersaing di pasar internasional. Brasil dapat memiliki lahan pertanian yang sangat produktif, tetapi keunggulan tersebut dapat berkurang jika hasil panen membutuhkan biaya sangat tinggi untuk mencapai pelabuhan. Hal yang sama berlaku bagi industri manufaktur. Pabrik membutuhkan bahan baku, energi dan komponen yang harus dipindahkan melalui wilayah yang sangat luas sebelum akhirnya produk sampai ke konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalan lain datang dari sistem perpajakan yang selama bertahun-tahun dikenal sangat kompleks. Perusahaan dapat menghadapi kewajiban pajak pada berbagai tingkat pemerintahan dengan aturan yang berbeda. Kondisi tersebut membuat perusahaan membutuhkan sumber daya administratif yang besar hanya untuk memastikan mereka memahami dan memenuhi seluruh kewajiban. Bagi perusahaan kecil, kompleksitas tersebut dapat menjadi hambatan yang lebih berat karena biaya administratif mengambil porsi lebih besar dari pendapatan mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika biaya logistik, perpajakan, birokrasi dan berbagai hambatan lainnya digabungkan, biaya melakukan bisnis di Brasil menjadi tinggi. Sebuah perusahaan tidak cukup hanya memiliki produk yang bagus. Mereka juga harus mampu menghadapi lingkungan operasional yang kompleks. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap investasi, produktivitas dan kemampuan perusahaan Brasil untuk bersaing dengan perusahaan dari negara lain.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Pendidikan dan Produktivitas Menjadi Tantangan<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekuatan ekonomi modern tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan manusia mengolah sumber daya tersebut menjadi produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Negara-negara yang berhasil menjadi pusat ekonomi dunia biasanya melakukan investasi besar dalam pendidikan, pelatihan kejuruan, penelitian, teknologi dan pengembangan keterampilan. Dengan cara tersebut, produktivitas tenaga kerja dapat meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil menghadapi tantangan dalam bidang tersebut. Ketika sejumlah negara Asia mempercepat pembangunan pendidikan teknis dan industri, Brasil masih menghadapi berbagai persoalan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja secara merata. Perbedaan kualitas pendidikan antara wilayah dan kelompok masyarakat juga menjadi tantangan. Dalam ekonomi yang semakin berbasis teknologi, kualitas sumber daya manusia menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah produktivitas kemudian menjadi semakin jelas. Sebuah negara dapat memiliki jutaan pekerja dan pasar domestik yang besar, tetapi pertumbuhan jangka panjang tetap membutuhkan peningkatan produktivitas per pekerja. Teknologi, pendidikan, manajemen, infrastruktur dan investasi modal harus bekerja bersama. Jika produktivitas bergerak terlalu lambat, pertumbuhan ekonomi akan semakin bergantung pada penambahan tenaga kerja atau eksploitasi sumber daya alam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah salah satu alasan mengapa kekayaan alam tidak otomatis membuat sebuah negara menjadi negara maju. Minyak, bijih besi, kedelai atau lahan pertanian dapat menghasilkan pendapatan besar, tetapi negara harus mampu mengubah pendapatan tersebut menjadi pendidikan, teknologi, infrastruktur dan perusahaan yang lebih produktif. Tanpa transformasi tersebut, kekayaan alam hanya akan menjadi sumber pendapatan, bukan fondasi bagi kekuatan ekonomi jangka panjang.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Ketika Harga Komoditas Turun<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekitar 2013 dan setelahnya, kondisi ekonomi global mulai berubah. Pertumbuhan China tidak lagi secepat sebelumnya dan permintaan terhadap berbagai komoditas mulai mengalami penyesuaian. Harga bahan mentah turun dan aliran uang yang sebelumnya masuk ke Brasil mulai berkurang. Mesin pertumbuhan yang selama bertahun-tahun terlihat sangat kuat akhirnya menghadapi ujian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah Brasil juga menghadapi tekanan karena selama periode pertumbuhan sebelumnya pengeluaran publik telah meningkat. Ketika penerimaan melemah, ruang fiskal menjadi semakin terbatas. Perusahaan menghadapi penurunan permintaan, investasi berkurang dan kepercayaan bisnis melemah. Persoalan yang sebelumnya tertutupi oleh harga komoditas tinggi mulai terlihat dengan lebih jelas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada periode 2014 hingga 2016, Brasil mengalami salah satu krisis ekonomi terberat dalam sejarah modernnya. Pengangguran meningkat, investasi melemah dan banyak masyarakat yang sebelumnya baru saja memasuki kelas menengah kembali mengalami tekanan ekonomi. Krisis tersebut memperlihatkan betapa rentannya model pertumbuhan yang terlalu bergantung pada kombinasi konsumsi, kredit dan ekspor komoditas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada saat yang sama, Brasil juga menghadapi krisis politik yang sangat besar. Ketika perekonomian melemah, ketidakpuasan masyarakat meningkat dan konflik politik menjadi semakin tajam. Persoalan ekonomi dan politik kemudian saling memperkuat. Ketidakpastian politik membuat keputusan investasi semakin sulit, sementara krisis ekonomi membuat persaingan politik semakin keras.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Skandal Korupsi Mengguncang Dunia Bisnis<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu peristiwa yang paling mengguncang Brasil adalah Opera\u00e7\u00e3o Lava Jato atau <em>Operation Car Wash<\/em>. Penyelidikan yang awalnya berkaitan dengan pencucian uang berkembang menjadi kasus korupsi besar yang melibatkan Petrobras, perusahaan konstruksi besar, pejabat pemerintah, politisi dan berbagai jaringan kepentingan bisnis. Kasus tersebut kemudian menjadi salah satu skandal politik dan korupsi paling besar yang pernah mengguncang Brasil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Persoalannya tidak hanya berada di ruang pengadilan atau politik. Perusahaan konstruksi besar yang terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur menghadapi penyelidikan dan tekanan hukum. Sebagian aktivitas perusahaan terhenti, proyek mengalami gangguan dan investasi ikut terkena dampaknya. Ketika perusahaan besar yang menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur mengalami masalah, efeknya dapat menjalar ke banyak sektor ekonomi lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Skandal tersebut juga menghancurkan kepercayaan terhadap banyak tokoh politik dan bisnis. Sejumlah pejabat, politisi dan eksekutif perusahaan diperiksa atau diproses dalam rangkaian kasus yang berlangsung selama bertahun-tahun. Bagi Brasil, periode tersebut menjadi masa ketika krisis ekonomi, persoalan kelembagaan dan konflik politik terjadi secara bersamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada 2016, Presiden Dilma Rousseff diberhentikan melalui proses pemakzulan setelah konflik politik yang sangat tajam. Dua tahun kemudian, Jair Bolsonaro terpilih menjadi presiden dengan agenda politik yang sangat berbeda. Pada 2022, Luiz In\u00e1cio Lula da Silva kembali memenangkan pemilihan presiden. Pergantian arah politik yang cepat tersebut memperlihatkan betapa kuatnya polarisasi politik Brasil pada periode tersebut.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Tantangan Bernama Middle-Income Trap<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua persoalan itu kemudian membawa Brasil pada pertanyaan yang lebih besar: apakah negara ini berhasil keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah? Konsep <em>middle-income trap<\/em> menggambarkan kondisi ketika sebuah negara berhasil meningkatkan pendapatan melalui tenaga kerja murah, manufaktur sederhana dan eksploitasi sumber daya alam, tetapi kemudian kesulitan bergerak menuju ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahap awal pembangunan, strategi tersebut dapat bekerja dengan sangat baik. Pabrik membutuhkan banyak tenaga kerja, ekspor komoditas menghasilkan devisa dan masyarakat mengalami peningkatan pendapatan. Namun setelah upah meningkat, negara tersebut tidak lagi mampu bersaing hanya dengan tenaga kerja murah. Pada titik yang sama, mereka juga belum tentu memiliki teknologi yang cukup kuat untuk bersaing dengan negara maju.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil berada di antara dua tekanan tersebut. Negara ini terlalu besar untuk hanya mengandalkan tenaga kerja murah, tetapi masih menghadapi tantangan untuk membangun basis teknologi dan inovasi yang mampu menghasilkan pertumbuhan produktivitas tinggi. Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan jumlah investasi, melainkan memastikan investasi tersebut menghasilkan kemampuan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian, universitas, teknologi digital, industri mesin, energi bersih, bioteknologi, kecerdasan buatan dan manufaktur bernilai tambah tinggi menjadi bagian penting dari transformasi tersebut. Brasil memiliki sejumlah modal untuk masuk ke sektor-sektor tersebut, tetapi prosesnya membutuhkan konsistensi kebijakan dan investasi jangka panjang. Perubahan strategi setiap beberapa tahun dapat membuat transformasi tersebut berjalan lebih lambat.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Bonus Demografi Mulai Menyempit<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada satu persoalan lain yang membuat waktu menjadi faktor penting bagi Brasil, yaitu perubahan demografi. Selama beberapa dekade, Brasil menikmati apa yang sering disebut sebagai bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif yang besar memberikan kesempatan bagi perekonomian untuk tumbuh karena lebih banyak orang berada dalam usia bekerja dibandingkan jumlah penduduk yang harus ditanggung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun struktur tersebut tidak berlangsung selamanya. Tingkat kelahiran Brasil telah turun secara signifikan dan masyarakatnya semakin menua. Dalam beberapa dekade mendatang, proporsi penduduk lanjut usia akan semakin besar. Kondisi tersebut akan meningkatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan, pensiun dan berbagai bentuk perlindungan sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan demografi menciptakan tantangan ekonomi yang berbeda. Ketika jumlah penduduk usia kerja tumbuh lebih lambat, pertumbuhan ekonomi harus semakin bergantung pada produktivitas. Setiap pekerja harus menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar agar perekonomian tetap tumbuh. Artinya, investasi pada pendidikan, teknologi, kesehatan dan keterampilan menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil karena itu menghadapi sebuah perlombaan melawan waktu. Negara ini harus meningkatkan produktivitas dan menciptakan kemakmuran sebelum beban ekonomi masyarakat yang semakin menua menjadi terlalu besar. Jika transformasi tersebut berhasil dilakukan, perubahan demografi tidak harus menjadi hambatan. Namun jika produktivitas tetap rendah, penuaan penduduk dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap anggaran negara dan perekonomian.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Brasil Masih Memiliki Modal Besar<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meskipun menghadapi berbagai persoalan, Brasil tidak dapat disebut sebagai negara yang gagal. Negara ini tetap merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Amerika Selatan dan memiliki pengaruh diplomatik yang besar. Pasar domestiknya sangat luas, sektor pertaniannya kompetitif secara global, cadangan energinya besar dan perusahaan-perusahaan Brasil telah memiliki pengalaman beroperasi di pasar internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil juga memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru negara lain. Kemampuan pertanian dalam skala besar, kekayaan mineral, sumber daya air, energi terbarukan, minyak lepas pantai dan biodiversitas memberikan dasar ekonomi yang sangat kuat. Jika kekayaan tersebut dapat dipadukan dengan teknologi, pendidikan dan industri bernilai tambah tinggi, ruang pertumbuhan Brasil masih sangat besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu peluang penting berada pada transisi energi dan ekonomi hijau. Brasil memiliki posisi kuat dalam energi terbarukan dan memiliki sumber daya alam yang dapat mendukung berbagai industri masa depan. Pertanian juga dapat berkembang melalui teknologi, pengolahan hasil pertanian dan peningkatan produktivitas. Dengan demikian, kekuatan lama Brasil berupa sumber daya alam sebenarnya masih dapat menjadi fondasi bagi model ekonomi baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Brasil memiliki cukup sumber daya untuk menjadi negara kuat. Jawabannya jelas: Brasil memiliki modal yang sangat besar. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah negara tersebut mampu mengubah modal tersebut menjadi produktivitas, inovasi, teknologi, infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia yang lebih tinggi.<\/p>\n<h2 style=\"text-align: justify;\">Masa Depan Brasil Masih Terbuka<\/h2>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perjalanan Brasil menunjukkan bahwa kekayaan alam tidak selalu menghasilkan kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Harga komoditas yang tinggi dapat memberikan pertumbuhan cepat, tetapi tidak otomatis menciptakan industri teknologi tinggi. Pasar domestik yang besar dapat mendorong konsumsi, tetapi konsumsi saja tidak cukup untuk meningkatkan produktivitas. Demikian pula sumber daya alam yang melimpah tidak akan memberikan hasil maksimal jika infrastruktur, pendidikan dan institusi ekonomi tidak berkembang bersamaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekuatan sebuah negara pada akhirnya ditentukan oleh kemampuannya menciptakan nilai secara terus-menerus. Negara yang hanya menjual bahan mentah akan sangat dipengaruhi harga dunia. Negara yang mampu mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tinggi memiliki posisi yang lebih kuat. Dan negara yang mampu menciptakan teknologi yang digunakan oleh dunia memiliki sumber kekuatan yang jauh lebih sulit digantikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil masih memiliki kesempatan untuk bergerak ke arah tersebut. Negara ini tidak harus meninggalkan pertanian, pertambangan atau energi untuk menjadi ekonomi modern. Justru tantangannya adalah menghubungkan kekuatan tradisional tersebut dengan teknologi baru. Kedelai dapat diikuti industri pangan dan bioteknologi, mineral dapat menjadi bagian dari rantai industri, energi dapat mendukung manufaktur, sementara biodiversitas dapat menjadi sumber inovasi baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, kisah Brasil belum selesai. Negara ini memang melewatkan sejumlah kesempatan besar yang pernah membuat dunia percaya bahwa kebangkitan ekonominya hanya tinggal menunggu waktu. Namun Brasil masih memiliki pasar, sumber daya, perusahaan, manusia dan posisi geografis yang memberikan dasar kuat untuk membangun fase pertumbuhan berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Brasil mungkin tidak dapat mengandalkan kekayaan alam dan ledakan komoditas seperti pada awal abad ke-21. Jalan menuju kekuatan global sekarang jauh lebih menuntut. Pendidikan harus menghasilkan keterampilan yang relevan, infrastruktur harus menurunkan biaya ekonomi, industri harus bergerak menuju teknologi yang lebih tinggi dan kebijakan harus mampu bertahan melampaui pergantian pemerintahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masa depan Brasil karena itu bukan sekadar persoalan seberapa banyak minyak, bijih besi, kedelai atau hutan yang dimiliki negara tersebut. Masa depannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengubah semua kekayaan itu menjadi pengetahuan, produktivitas dan inovasi. Sebuah negara dapat memiliki hampir seluruh bahan untuk menjadi kekuatan besar, tetapi hanya kemampuan menciptakan nilai dalam jangka panjang yang dapat mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan nyata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Vibiznews-Kolom) Ada sebuah lelucon lama di kalangan ekonom tentang Brasil, negara ini selalu disebut sebagai \u201cnegara masa depan\u201d, tetapi masa depan itu seolah tidak pernah benar-benar tiba. Kalimat tersebut terdengar seperti pujian, namun sebenarnya menggambarkan sebuah paradoks yang telah melekat selama puluhan tahun. Brasil memiliki wilayah yang luas, sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":101053,"featured_media":568325,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[669],"tags":[3709],"class_list":["post-602750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-column","tag-brasil"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v22.9 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Vibiznews-Kolom) Ada sebuah lelucon lama di kalangan ekonom tentang Brasil, negara ini selalu disebut sebagai \u201cnegara masa depan\u201d, tetapi masa depan itu seolah tidak pernah benar-benar tiba. Kalimat tersebut terdengar seperti pujian, namun sebenarnya menggambarkan sebuah paradoks yang telah melekat selama puluhan tahun. Brasil memiliki wilayah yang luas, sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Vibiznews.com\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-29T02:42:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-09-29T02:42:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1191\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"619\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/\",\"name\":\"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-09-29T02:42:26+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-29T02:42:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg\",\"width\":1191,\"height\":619,\"caption\":\"Sumber: Kemenkeu\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/\",\"name\":\"Vibiznews.com\",\"description\":\"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf\",\"name\":\"Fadjar Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.vibiznews.com\"],\"url\":\"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com","og_description":"(Vibiznews-Kolom) Ada sebuah lelucon lama di kalangan ekonom tentang Brasil, negara ini selalu disebut sebagai \u201cnegara masa depan\u201d, tetapi masa depan itu seolah tidak pernah benar-benar tiba. Kalimat tersebut terdengar seperti pujian, namun sebenarnya menggambarkan sebuah paradoks yang telah melekat selama puluhan tahun. Brasil memiliki wilayah yang luas, sumber daya alam melimpah, jumlah penduduk besar, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/","og_site_name":"Vibiznews.com","article_published_time":"2026-09-29T02:42:26+00:00","article_modified_time":"2026-09-29T02:42:52+00:00","og_image":[{"width":1191,"height":619,"url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Dewanto","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/","url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/","name":"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global - Vibiznews.com","isPartOf":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg","datePublished":"2026-09-29T02:42:26+00:00","dateModified":"2026-09-29T02:42:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#primaryimage","url":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg","contentUrl":"https:\/\/vibiznews.com\/wp-content\/uploads\/2024\/07\/Pertemuan-G20-di-Brazil-Membahas-Tiga-Topik-Penting.jpeg","width":1191,"height":619,"caption":"Sumber: Kemenkeu"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/2026\/09\/29\/brasil-dan-jalan-panjang-menuju-kekuatan-global\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/vibiznews.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Brasil dan Jalan Panjang Menuju Kekuatan Global"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#website","url":"https:\/\/vibiznews.com\/","name":"Vibiznews.com","description":"Berita Bisnis | Berita Komoditi | Berita Saham","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/vibiznews.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/ba2cdc61f74966250426e208a83feabf","name":"Fadjar Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/vibiznews.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/07fae60539cb2c53642a35b195c6adc2?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.vibiznews.com"],"url":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/author\/fadjar-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/101053"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=602750"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":602751,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/602750\/revisions\/602751"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/568325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=602750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=602750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/vibiznews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=602750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}